Rasamala No 5

(Salah satu draf cerita horor yang terkubur di timbunan Google Drive. Dibuang sayang, diterusin nggak punya tenaga)

_________________________________________________________________

Ghost are real. That much I know.

– Crimson Peak (2015)

Prolog

Pak Yono menaikkan ritsleting jaket warna oranye yang dikenakannya hingga dagu. Sepatunya terbenam dalam serasah hutan Arcopodo, lapisan daun kering yang terinjak menimbulkan bunyi renyah yang teredam.

Pria berusia awal lima puluhan itu memimpin regu pencari yang beranggotakan dua orang dari BASARNAS dan satu orang mahasiswa pecinta alam. Ketiga pria yang jauh lebih muda dari Pak Yono itu berjalan di belakangnya. Vegetasi yang rapat membuat udara tak banyak bergerak di kawasan hutan ini. Tiap tarikan napas terasa berat, bercampur aroma familier daun kering yang lembap terkena embun.

Kegawatan kondisi proses pencarian serta tipisnya oksigen di ketinggian 2500 mdpl terasa makin mencekik sehingga tak ada yang sanggup bicara. Masing-masing sibuk dengan pikiran mereka. Kesunyian hutan nyaris memekakkan. Hanya terdengar dekut burung malam, dengung nyamuk hutan dan suara serangga. Matahari sudah tenggelam berjam-jam yang lalu. Pak Yono dan kawan-kawannya berjalan menembus hutan hanya dengan bantuan penerangan cahaya senter.

Hari ini sudah hari kelima tim SAR menyebar di Gunung Semeru untuk menyelamatkan Ikram, pendaki yang terpisah dari rombongan dan tersesat.

Pak Yono sudah menjadi jagawana di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru begitu dia lulus SMA, puluhan tahun yang lalu. Dari pengalaman, Pak Yono tahu bahwa hari kelima dan hari keenam setelah pendaki tersesat adalah masa paling kritis, bahkan bagi mereka yang memiliki pengetahuan untuk bertahan di alam liar. Selain kurang air, hipotermia adalah ancaman lain yang mematikan.

Ikram harus ditemukan malam ini. Karena setelah itu, kemungkinan misi penyelamatan harus berubah menjadi misi pencarian mayat. Umur Ikram baru 22 tahun, hanya berbeda satu tahun dari putra sulung Pak Yono.

Jika keadaan di balik, jika anak Pak Yono yang hilang dan dia harus mengandalkan orang lain untuk menemukan anaknya, Pak Yono tahu dia ingin orang-orang itu berusaha sekuat tenaga. Karenanya Pak Yono memutuskan untuk tetap berjalan meskipun punggung dan betisnya mulai terasa pegal.

Suara gemeresak yang disusul suara berdebum membuyarkan lamunan Pak Yono. Dia menoleh ke belakang, menyadari bahwa salah satu anggota regunya jatuh dan terperosok. Pria muda anggota berkumis tipis itu segera bangkit dan mengibaskan daun basah dari celananya. Pak Yono melihat ke sekeliling. Mereka sudah sampai di batas vegetasi. Pak Yono ingin meneruskan penyisiran mereka setidaknya setengah jam lagi, tapi Pak Yono tahu itu tidak memungkinkan.

“Kita berkemah di sini. Besok jam lima, kita jalan lagi,” kata Pak Yono. Yang lain mengangguk setuju. Pak Yono tidak bisa melihat wajah mereka, tapi entah bagaimana Pak Yono tahu bahwa mereka pasti merasa lega.

Selama setengah jam, Pak Yono dan kawan-kawan membangun bivak, makan roti bekal dan minum dari termos masing-masing, lalu pergi tidur. Saking lelahnya, hanya lima menit setelah berbaring, keempat pria itu segera jatuh tertidur.

Andai saja malam itu Pak Yono meneruskan berjalan setengah jam lagi, mungkin malam itu juga Ikram akan ditemukan.

Lima ratus meter dari tempat mereka berkemah, Ikram menyeret tubuhnya sendiri di atas tanah, meninggalkan jejak memanjang. Pergelangan kakinya terkilir di hari pertama dia terpisah dari rombongan. Setelah dua hari memaksakan diri berjalan, kini kakinya bengkak sampai-sampai Ikram harus melepas sepatunya. Ikram tidak tahu dia ada di mana. Dia hanya memastikan diri untuk tetap hidup, sampai ada orang yang menemukannya. Ikram menggali lubang di tanah untuk tempatnya tidur agar tak terkena hipotermia. Ikram berhati-hati mengumpulkan air jika pagi berembun atau malam hujan agar tak dehidrasi. Ikram tak sungkan memakan pucuk pakis dan serangga. Ikram tahu dia belum ingin mati. Dia melakukan apa saja untuk tetap hidup.

Malam itu, ketika Ikram kembali berbaring di lubangnya, matanya yang terbuka hanya menemukan kegelapan. Dadanya berdebar. Kepalanya pusing. Lambungnya perih dan mulutnya pahit. Bibirnya berdarah dan pecah-pecah. Satu per satu wajah yang dia kenal melintas.

Orangtuanya, keluarga besarnya, temannya, pacarnya….

Sedang apa mereka sekarang?

Di awal-awal dia tersesat di hutan, pertanyaan itu membantunya tetap bertahan. Bahwa di luar sana hidup tetap berjalan, dan dia ingin kembali menjadi bagian dari kehidupan itu. Banyak hal yang belum dia capai. Ikram tahu masih terlalu muda, pintu masa depannya terbuka lebar-lebar. Dua minggu lagi Ikram wisuda dan ironisnya, pendakian ini adalah caranya merayakan kelulusan.

Luar biasa bagaimana bulan lalu Ikram membuat daftar perusahaan-perusahaan yang jadi tujuan cita-citanya. Chevron. GMF Aero Asia. Schlumberger. McKinsey. Pertamina EP. PLN. Semen Gresik.

Kini cita-citanya mengerut menjadi hal paling mendasar saja : tetap hidup.   

Ikram bernapas pelan, berharap dengan begitu dia tidak bisa merasakan rasa sakit, gatal, perih yang menggerogoti tiap senti tubuhnya. Dia menatap kosong kegelapan, kepalanya seringan balon. Ketika kantuk datang, Ikram menghela napas senang. Rasanya lega luar biasa. Dalam keadaan seperti ini, tidur adalah anugerah. Kalau beruntung, Ikram bahkan bisa bermimpi makan sup ayam hangat.

Sebelum tertidur, hanya satu hal yang terlintas di kepalanya. Sebaris kalimat milik Chairil Anwar.

Nasib adalah kesunyian masing-masing.

Ikram tidak tahu apa yang dipikirkan Chairil Anwar saat menuliskan kalimat itu. Ikram bahkan sudah lupa puisi lengkapnya. Tapi di pikirannya, saat itu, sesaat Ikram tahu bahwa bukan manusia yang menanggung nasib manusia lain.

Berhari-hari kemudian, Ikram sekarat. Nyawa seolah pergi merambati tubuhnya. Mula-mula kakinya mendingin, lalu naik hingga sekujur tubuhnya. Napas Ikram mulai tinggal satu-satu. Bibirnya menggumamkan doa yang dahulu sering dibisikkan bundanya ketika dia masih kecil dulu.

Anehnya, kalimat Chairil Arwal tersebut kembali terlintas di benak Ikram. Seolah kalimat itu adalah batu karang tempatnya melekat di lautan ketiadaan. Menenangkan pria muda itu di hadapan ajal. Tidak ada rasa marah, tidak ada rasa penyesalan, tidak ada lagi andai saja

Andai saja dia tak datang ke sini.

Andai saja dia tak terpisah dari teman-temannya.

Andai saja kakinya tak terkilir.

Andai saja dia ditemukan lebih cepat.

Memang sudah nasib Ikram tewas di Semeru. Bukan anggota tim SAR, bukan orangtuanya, bahkan bukan Ikram sendiri yang memutuskan sebaliknya.

Kematian datang lebih mudah saat manusia mengikhlaskan hidupnya. Dengan pemikiran itu, Ikram menarik napas terakhir…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: