The Audacity of Hope

“Anda terlihat seperti orang baik. Mengapa mau-maunya memasuki sesuatu yang kotor dan menijikkan, seperti politik?”

Saya familier dengan pertanyaan tersebut, serta beraneka variasinya, yang sudah diutarakan bertahun-tahun sebelumnya, sejak saya pertama kali menginjakkan kaki di Chicago untuk bekerja di wilayah yang penduduknya berpendapatan rendah.

Pertanyaan tersebut mengisyaratkan kesinisan, tak hanya soal politik, tapi juga gagasan tentang kehidupan bermasyarakat. Kesinisan yang -setidaknya di daerah Selatan yang akan saya wakili- makin disuburkan oleh janji-janji yang diingkari.

Sebagai jawabannya, saya hanya tersenyum dan mengangguk, lalu berkata bahwa saya memahami keskeptisan terhadap politik dan politisi, tapi ada, dan akan selalu ada, tradisi lain dalam politik, tradisi yang membentang sejak pendirian negara hingga gerakan hak-hak sipil. Tradisi yang didasari pemikiran sederhana, bahwa kita saling membutuhkan satu sama lain, dan hal-hal yang menyatukan kita jauh lebih besar dari hal-hal yang memisahkan kita, dan seandainya ada cukup banyak orang yang percaya serta bertindak sesuai pemikiran tersebut, kita mungkin tidak menyelesaikan masalah, tapi setidaknya, kita telah berbuat hal penting.

Diterjemahkan secara bebas dari buku  yang ditulis oleh (ketika itu masih Senator) Barack Obama, The Audacity of Hope (2006)

Advertisements

One thought on “The Audacity of Hope

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: