Sebelum Mahogany Hills….

…ada Sincerely Yours. :mrgreen:
Baru inget pas malam ini ngutak-atik Google Docs lagi, ternyata ada kopi naskahnya di situ, menurut GDocs sih terakhir diedit 27 Mei 2011. Nostalgia, ih… *tiup debu* :))

Sebenernya tema Sincerely Yours sih sama kayak Mahogany Hills, perjodohan. Entah mengapa saya punya fiksasi tersendiri sama perjodohan. Bermacam-macam tema sudah  berusaha saya tuliskan, tapi masih penasaran baliknya ke perjodohan deui, perjodohan deui.

MUNGKINKAN INI KARENA WAKTU KECIL SAYA TERSEPONA SAMA SINETRON PARIBAN DARI BANDUNG? *heboh*

Ngomong-ngomong itu sinetron keren abis… Mana Cok Simbara ganteng berkumis dan Nella Regar cantik sekali. Yah, 11-12 lah ama Kedasih. *mata menerawang* *reveal umur* #taklupahashtag #generasi90an

Sebelum nulis Mahogany Hills buat Amore, saya lagi nulis soal apa gituh ya, kalau nggak salah temanya Stockholm Syndrome. Begitu ada pengumuman Amore, langsung kutinggalkanlah cerita itu, bubaar semua bubaaar.

Nulis lagi deh dari awal. Setelah bertahun-tahun mencoba menuliskan cerita soal perjodohan (antara persisten atau keras kepala memang bedanya setipis kulit bawang) dalam berbagai cara, baru berhasil di Mahogany Hills. Mungkin Mahogany Hills udah versi ke 27 yang dituliskan… Versi 1 sampe 26-nya gugur sebelum berjuang dan layu sebelum berkembang.

Nah, si Sincerely Yours ini mungkin edisi-edisi terakhir, mungkin kalo dikira-kira versi 23-24 lah (ini ngarang aja sih, nggak beneran sampe didata satu-satu). Jumlah karakter udah 25 ribu nyaris setengah naskah jadi tuh (menurut standar saya).

Terus kenapa enggak Sincerely Yours yang diberesin terus kirim ke Amore? Waktu itu saya masih khawatir kalau secara umur dan kematangan karakter takutnya cerita Bagas-Alisha nggak masuk kategori Amore (padahal ternyata ada aja sih yang range umurnya segitu).

Beberapa perbedaan Sincerely Yours sama Mahogany Hills :

  1. Dari sisi profesi Alisha penerjemah lepas sekaligus baker sementara Bagas karyawan di perusahaan manufaktur.
  2. Sementara Paras dan Jagad terisolasi di Sukabumi, Bagas dan Alisha lebih meriah karena tinggal di komplek perumahan pinggiran kota Tangerang yang punya banyak tetangga.
  3. Bagas lebih blakblakan dan lebih cerewet kalau dibandingkan Jagad yang introver dan kebanyakan pikiran. Alisha nggak terlalu kuat secara kepribadian dan masih suka bingung, sementara Paras lebih teguh dan berdeterminasi tinggi.

Semua orang yang baca Mahogany Hills pasti bilang kalau ceritanya ringan. Sincerely Yours juga sama, malah lebih ringan. Tapi mengutip kata Ibu Mira W di akun Goodreads beliau bahwa “Mira mengakui karyanya tidak mendalam” maka Tia W pun akan mengatakan hal yang sama, bahwa karya saya tidak mendalam. 😆 (ejiyeee, name-dropping. modus banget sih ah ngaku-ngaku samaa 😆 )

Di bawah ini, ada cuplikan 4 bab pertama dari Sincerely Yours.

Early warning buat yang mau baca, please put leash on your inner editor. Karena sesungguhnya nurani ini pun agak menjerit melihat kata ‘di’ yang tidak pada tempatnya, riset yang seadanya, italic yang nggak dipakai maksimal, beberapa hal yang tak terjelaskan dan cerita yang melompat.

Soalnya ini mah bukan first draft tapi raw draft.

Lah, terus kenapa diposting di sini?

Selain demi update blog (dangkal, I know xD), karena saya tahu kalau Sincerely Yours nggak bakal jadi naskah terbitan, 1 novel dengan tema ini sudah lebih dari cukup. Saya juga sudah puas mengeksplornya, udah lega obsesi kesampaian, hehe… 😀

Jadi biarlah separuhnya melihat dunia dan tersinari matahari. Toh Bagas-Alisha ini sempat jadi kesayangan saya dan saya menikmati banget menuliskan mereka. ;D

So, enjoy!

___________________________________________________________________________

Sincerely Yours

1
Matahari minggu pagi bersinar malas dari balik awan mendung, cahayanya yang lembut memasuki dapur dimana Alisha dan ibunya berdiri saling berseberangan. Mereka menghadapi meja dapur besar yang terbuat dari kayu pinus sementara permukaannya dilapisi keramik campuran warna biru dan hijau.
Ini adalah dapur kesukaan Ibu. Dapur di dekat ruang tengah hanya dapur kering yang digunakan untuk memasak mi instan atau masakan ringan dengan bumbu yang hanya terdiri dari minyak zaitun, garam dan merica. Ini adalah dapur kekuasaan Ibu dimana dia bisa memasak rendang, pastry sampai bebek betutu. Peralatan yang lengkap mulai dari oven kompor, microwave, kompor arang untuk membakar sate, sampai pemanggang bandros. Pisau saja tersedia hampir 21 macam, dari yang kecil untuk membuat ukiran buah sampai pisau daging yang besar dan berbentuk persegi.
Belakangan, setelah membuka sweet and cake shop, ini juga menjadi wilayah kerja favorit Alisha. Dua bulan lalu, Alisha sudah membuat ruangan yang rencananya akan dibuat workshop. Namun ruangan besar di halaman belakang itu kini anya difungsikan sebagai lemari penyimpanan bahan saja.
Ibu sedang mengirisi cabe keriting dengan cekatan sementara Alisha menyiangi kentang pelan-pelan.
Sebentar-sebentar Alisha melirik ibunya. Mood Ibu sedang bagus, Alisha tahu. Kemarin Kota berulang tahun yang 17, toko bunga Ibu kebanjiran order sepanjang minggu dari berbagai kantor swasta dan instansi pemerintah. Semua pesanan berhasil ditangani sempurna.
Bisnis yang bagus mempengaruhi mood ibunya. Alisha sudah belajar tentang itu sejak umurnya masih 7 tahun. Meskipun secara umum Ibu selalu baik-baik saja, tapi mood dapat mempengaruhi keputusannya.
Ibu menatap Alisha dengan pandangan menyelidik, alisnya terangkat. “Kamu sakit? Ngupas kentang aja lemes banget?”
Alisha berdehem sebentar, menormalkan tenggorokannya mendadak kering. Mumpung Ibunya bertanya, lebih baik dia berkata sekarang saja. Meskipun hubungan mereka dekat, tapi Alisha tidak tahu bagaimana bagaimana reaksi Ibu pada apa yang akan dia katakan.
“Aku mau nikah, Bu.” Alisha berusaha agar nada bicaranya terkesan santai dan kasual.
Alisha berkonsentrasi penuh pada wortelnya, seolah-olah kiamat bergantung pada apakah setiap senti kulit wortel di tangannya terkupas sempurna.
Ibu ketawa. “Ya nikah dong, susah amat. Suruh pacar kamu ngelamar kesini.”
“Itu masalahnya.”
Ibu menaruh pisaunya dan berkacak pinggang. “Memang ada masalah apa?”
“Masalahnya, aku lagi ngga punya pacar.”
“Belum punya pacar minta kawin.” Sahut Ibu setengah meledek setengah menggerutu. Ibu meneruskan kembali kegiatannya mengiris cabai. “Pacarmu yang kemarin, Abi itu mau dikemanain?”
“Pacarku yang kemarin namanya Nusa, tapi sekarang udah putus sih.” Alisha tertawa kaku.
“Kapan kamu putus ama Abi, kok tiba-tiba udah ama Nusa?”
Alisha menahan nafas, pertanyaan soal pacar ini tidak dia perhitungkan. Alisha lumayan kaget karena nama Abi sampai disebut Ibu. Dia memang tidak pernah bercerita soal siapa saja yang dekat dengannya. Tidak ada yang serius, itu alasannya. Alisha pikir, Ibu tidak terlalu menaruh perhatian pada kisah cintanya. Tapi rupanya Alisha salah. Tidak ada yang luput dari perhatian ibu.
“Ngga tiba-tiba ah. Abis aku putus ama Abi, aku sempat pacaran ama Riza, abis itu ama..”
Ibu melongo, lalu menggeleng-gelengkan kepala mendengar pengakuan putri bungsunya. “Duuh, Ibu pusing. Baru tau yang satu udah ganti yang lain. Udah ngga usah repot ngejelasin. Langsung aja ke intinya.”
“Intinya, kenalin aku ama cowok?” Alisha sudah lebih bisa mengendalikan perasaannya sekarang, debaran jantungnya kembali normal meski tangannya masih gemetar.
“Kamu minta dijodohin?” Kening Ibu mengerut dalam, kini dia mulai menanggapi ucapan Alisha dengan lebih serius. “Maksud kamu, kamu mau nikah? Nikah kayak orang.. nikah?”
“Yaa, itu juga kalau Ibu dan Ayah setuju sih.. Kalau kak Tami dan kak Sarah ngga keberatan di langkahi.” Alisha berdehem lagi. ”Tapi mereka ngga keberatan. Aku udah tanya sama mereka.”
Sekilas, air muka Ibu berubah. Masalah pernikahan bukan lelucon di keluarga mereka. Kedua kakak Alisha saja belum ada tanda-tanda ingin mengakhiri masa lajang mereka. Tami sibuk menjadi bankir sementara Santi sibuk mengurusi bisnis butiknya di Bandung.
“Tapi kamu baru 23 tahun.”
“Ibu sedang mengandung kak Tami waktu umur Ibu 23 kan?”
Ibu menaruh pisaunya, mengerutkan kening.
Alisha adalah anak bungsunya. Berbeda dengan kedua kakaknya yang berorientasi dengan karir masing-masing, Alisha lebih suka hidup tenang dan santai. Memutuskan untuk menerima pesanan kue dan makanan kecil selulus kuliah dan mengelola bakery shop. Ibu sudah bersiap-siap mencarikan jodoh untuk Tami dan Sarah, yang 3 dan 5 tahun lebih tua dibandingkan Alisha namun tidak ada tanda-tanda ingin mengakhiri masa lajang mereka.
Ibu tidak pernah mengira bahwa daftar potensial calon menantunya harus dibuka karena Alisha meminta dijodohkan. Tapi Ibu menghela nafas juga, tentu saja dia ingin sekali anak-anaknya menikahi lelaki yang sudah dipilih dengan hati-hati, dengan diam-diam. Selama ini dia menahan diri karena bertekad untuk mendukung apa yang akan dipilih oleh anak-anaknya, baik itu soal karir maupun soal jodoh.
Otak Ibu langsung berputar, mengingat-ingat wajah pemuda-pemuda yang selama ini sudah dia temui di berbagai acara dan pertemuan. Belum apa-apa, dia sudah menghitung bahwa kira kira ada 4 atau 5 orang anak kenalannya dan kenalannya yang cocok dengan Alisha. “Terus kamu maunya yang kayak gimana?” Ibu berusaha menyembunyikan antusiasme dalam nada suaranya. Ibu berusaha tetap tenang dan tidak mulah histeris dan mencari perlengkapan bayi untuk calon cucunya kelak.
Alisha nyengir. “Yang pasti sih mapan. Biar kalo nanti aku nikah ama dia, aku ngga usah kerja lagi. Ngga usah panggang-panggang dan hias-hias lagi. Di rumah aja, anteng jadi ibu rumah tangga.”
Ibu mendelik. “Raden Ajeng Kartini bisa nangis di kuburannya denger kamu ngomong gitu.”
“Yaa, ibu rumah tangga juga kan mulia.”
“Ngga mungkin juga kamu bisa anteng di rumah.”
Alisha mengabaikan pernyataan Ibu. “Dan satu lagi. Baik dan bertanggung jawab. Percuma aja mapan kalo aku nanti dipukulin dan orangnya pelit. Urusan tampang mah, ya kira-kira aja. Ibu kan tahu seleraku. Cakep juga ngga papa, aku terima. Minimal ngga malu-maluin kalo dibawa kondangan.”
Alisha menunggu reaksi Ibu selanjutnya.
Kalau Ibu bilang dia akan berdiskusi dengan Ayah, maka Alisha punya harapan permintaannya ini dipertimbangkan. Sementara jika Ibu tertawa terbahak-bahak dan menganngap Alisha sedang bercanda, maka harapan Alisha untuk mendapat calon suami dengan mudah dan gampang, sepertinya tidak bakal terjadi.
Maka Alisha akan melaksanakan Rencana B yang lebih normal, mencari lelaki yang naksir padanya, syukur-syukur dia akan mengajak Alisha pacaran, lalu bla bla bla.
“Kalau gitu, biar nanti Ibu ngomong dulu sama Ayah.”
Alisha tersenyum lebar dan mendesah lega mendengar jawaban Ibu. Akhirnya. Dia lega sekarang.
Dia sudah bosan sekali dengan proses perkenalan, saling tahu lebih dalam, makan malam, nonton bioskop, SMSan, dan hal-hal sepele saat pacaran.
Memuakkan.
Bukannya Alisha tidak berusaha mencari sendiri. Dia sudah berusaha cukup keras untuk mencari lelaki yang cocok dengannya. Lelaki yang punya satu misi, yang ideal untuknya. Dulu, dia berfikir dia akan menikah saat umurnya 18 tahun, setelah lulus SMA. Namun itu tidak pernah terjadi. Maka Alisha membuat target baru. Menikah di umur 19 tahun. Dan gagal juga. Sekarang umurnya sudah 23 tahun, sudah 5 tahun berlalu dan Alisha tidak ingin gagal lagi memenuhi targetnya kali ini.
Dia hanya ingin menikah saja. Berumah tangga. Hidup tenang. Punya anak. Sesederhana itu.
Tapi rupanya tidak ada yang melihat kesederhanaan dari rencananya.
Kebanyakan lelaki yang memacarinya melihat impiannya sebagai sesuatu yang mengerikan. Setiap kali Alisha membicarakan soal masa depan, dengan harapan mereka akan membicarakan pernikahan, mereka selalu bersikap seolah-olah Alisha sedang mengibaskan tali laso untuk menjerat leher mereka.

***

Bagas mengerang dan melemparkan diri ke tempat tidurnya. Rasanya enak sekali bisa meluruskan punggung. Beban kerja di bulan Desember benar-benar menguras tenaga. Seminggu belakangan, dia baru sampai di rumah jam 10 malam.
Bagas bangkit dengan malas, duduk sebentar di tepi tempat tidur dan membuka kemejanya, melemparkannya ke keranjang baju . Menyadari bahwa cuciannya menumpuk penuh. Tidak ada waktu. Dia berjalan menuju lemari dan mengambil selembar kaus teratas dari tumpukan pakaian yang sudah menipis. Sebelum pulang tadi, dia bahkan harus mampir ke minimarket untuk membeli setengah lusin celana dalam dan singlet karena dia sudah tau, tidak ada daleman bersih di lemarinya.
Bagas merasa sangat bujangan. Tidak pernah lebih bujangan dari ini.
Dia lalu keluar kamar dan turun ke lantai bawah, tidak repot-repot membuka kulkas karena dia tahu tidak ada apapun yang bisa dimakan di sana. Mungkin ada selembar keju kering dan daun bawang layu, tapi tidak ada satupun yang bisa dimakannya di sana. Seingatnya, dia masih punya mi instan di salah satu lemarinya. Kalau tidak, habislah dia. Dia sudah terlalu lapar untuk keluar.
Ada. Mi instan dalam styrofoam rasa baso sapi. Surga.
Tuhan masih menyayanginya.
Bagas menaruh mi instan di meja, lalu menaruh mug di sebelahnya. Dia lalu menaruh satu bungkus minuman sereal jahe. Air panas sudah dimasaknya saat dia baru datang tadi. Sekarang hanya tinggal menunggunya mendidih.
Bagas menempelkan headset bluetoothnya di telinga, berencana menelepon Mama. Ingin meminta tolong agar perasaan bujangannya ini dapat segera lepas. Bukan, bukan dengan cara memintanya mencarikan istri. Tapi dengan meminta Mama meminjamkan asisten di rumahnya, mbak Sugi, untuk mengurusi cucian dan berbelanja untuk mengisi kulkasnya.
Bagas menghitung dalam hati jumlah nada panggil. Mama Mengangkat teleponnya di panggilan ke lima.
“Halo, Mam?”
“Aha, ngga usah bilang. Mama tau kamu mau bilang apa. Kamu pasti mau pinjem mbak Sugi kan?”
“Besok tolong anterin dia ke rumah ya. Sekalian pak Burhan juga.” Pak Burhan, suami mbak Sugi, supir sekaligus mengurus kebun di rumah Mamanya. Bagas menyadari saat memarkirkan mobilnya tadi, topiari yang niat awal pembuatnya berbentuk bebek, sekarang hanya berupa gundukan hijau yang tidak jelas. Menyedihkan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan bentuk taman depannya.
Taman belakang tidak perlu ditanya. Bagas malas membuka kamus untuk mencari kata yang tepat. Bagas hanya berharap tidak ada nyamuk demam berdarah yang bersarang di rimba dan kolam yang ada di belakang. Kalau ada tetangganya yang kena demam berdarah, ketua RW dan Dinas Kesehatan pasti tahu rumah siapa yang harus di asap lebih dulu.
“Oke, Mam?” Bagas meminta persetujuan.
Suara ketel berdenging, menandakkan air di dalamnya mendidih. Bagas segera berjalan ke arah kompor dan mematikannya.
Mama mendengus mendengar suara dengingan itu. “Coba Mama tebak, kamu pasti mau makan mi instan dan kopi lagi malam ini.”
“Ngga,” dusta Bagas sambil menuangkan air panas dari ketel ke dalam gelas mi instan.
“Kamu itu harus nikah. Dengan begitu hidup kamu lebih terurus. Rumah bukan cuma buat tidur, bikin mi dan naro tas kerja kamu. Ada yang masakin. Ada yang ngurus taman, pagi-pagi ada yang bangunin.”
“Mama yakin aku butuh istri? Dari penjelasan Mama kayaknya aku lebih butuh mbak Sugi.”
Mama berdecak. “Terserahlah.” Jeda sejenak, menunggu reaksi Bagas. Tapi karena Bagas diam saja, Mama melanjutkan dengan nada lebih lembut dan mengalah. “Mau dibawain apa besok? Biar Mama masakin, sekalian dibawa kesana.”
Bagas berpikir sejenak. “Sambal goreng teri. Sama rendang kering. Dan dendeng.”
Mama mengobrol beberapa menit tentang cuaca dan tanaman, serta soal ‘anak dari sepupu kenalan mama yang pintar dan baru saja pindah serta mungkin Bagas bisa mengajaknya pergi ke temapta makan yang enak” yang di tanggapi malas-malasan oleh Bagas.
Sudah hapal bahwa Bagas tidak terlalu suka ngobrol, apalagi kalau sedang lapar dan yang jadi bahan pembicaraan adalah usaha tak kenal lelah Mama menjodohkannya, Mama akhirnya menyerah dan mengucapkan selamat malam.
Bagas menatap jamnya. Sudah lewat 3 menit. Mendengarkan Mamanya bicara benar-benar cara yang bagus untuk menghabiskan waktu. Sekarang mi instannya sudah matang. Bagas membawa wadah mi instan dan mug berisi sereal jahe ke depan televisi, dia mulai makan sambil menonton TV. Film tentang kiamat. Hanya beberapa menit dan makan malamnya sudah selesai.
Dia memutuskan untuk menonton film ini hingga habis. Bagas sudah jarang ke bioskop dan film yang di lihat di televisi adalah satu-satunya sumber hiburan yang dapat dia dapatkan. Meskipun 3 atau 4 tahun lebih lambat.
Lagi pula film ini lumayan seru.
Lima menit kemudian, Bagas tertidur lelap di sofa dengan tangan masih memegangi remote.

2
“Ya?”
Alisha menaungi matanya, menyipit melihat sesosok di seberang pagar sambil tangan satunya berusaha keras membuka gerendel. Alisha mengingatkan diri untuk meminyaki gerendel itu nanti.
Suara orang itu terdengar tidak yakin. “Pak.. Rafli ada?”
Alisha berhasil membuka gerendelnya dan membuka pintu pagar. Lelaki itu kini menjulang di hadapannya. Lengan kemejanya ditekuk hingga siku, rambutnya terpangkas rapi, wangi parfum samar yang bercampur dengan pewangi mobil menguar lembut.
“Oh, ngga ada Mas. Mungkin sebentar lagi pulang, perginya dari tadi pagi kok.”
“Kalo ibu Manda?”
“Ngga ada juga, mereka perginya barengan.”
Lelaki itu terlihat berfikir sebentar, tanpa sadar dia menggaruk alisnya.
“Ada yang bisa dibantu, Mas?”
“Kalo gitu, anaknya aja ada ngga?”
Alisha tersenyum seketika.
Dia memang hanya pakai daster batik dengan rambut di ikat seperlunya. Alisha baru selesai memasak rendang, tidak sempat mengecek keadaannya sebelum dia keluar membuka pintu. Lagipula tadi Alisha pikir yang membunyikan bel abang tukang kerupuk langganan. Dia datang setiap hari Rabu. Dan ini hari Rabu.
Bukan berarti Alisha akan langsung berganti pakai micromini dress, menyemprotkan parfum untuk menutupi bau rendang dan menata rambut kalo dia tahu yang nyasar ke rumahnya sore ini adalah tamu orang tuanya. Yang ganteng banget.
“Saya anaknya pak Rafli dan bu Manda, Mas. Kenapa, dandanannya kurang meyakinkan ya?”
“Bukan dandanannya. Mukanya.” Lelaki itu berkata kalem.
Senyuman Alisha lenyap seketika mendapati muka datar lelaki di depannya, dia takjub sebentar kemudian meringis.
“Terus gimana, Mas? Ada yang mau disampein ke Ayah ama Ibu?”
“Saya boleh nunggu di teras? Orang tua saya bilang ini harus diberikan langsung ke pak Rafli atau ibu Amanda.” Dia mengacungkan sebuah amplop coklat dengan garis merah biru di tepinya.
“Nunggu di dalem juga ngga apa-apa, Mas.”
“Di teras aja.” Potong lelaki ini tegas, tersirat jelas dia tidak mau dibantah. Dia masuk, melewati Alisha.
“Pintu pagarnya ngga usah di tutup.” Ujar lelaki itu setelah dia berjalan beberapa langkah memasuki halaman rumah keluarga Hadi dan mendengar suara pagar berkeriut.
Alisha yang sudah setengah jalan menutup pintu pagar, melongok ke luar, ke arah si tamu itu memakirkan mobilnya.
“Disini aman, ngga ada orang jahat.”
“Oh ya? Dan kamu yakin kalo saya bukan penjahat?”
Alisha akhirnya kembali membiarkan pintu pagarnya membuka sedikit. Rupanya bukan mobil yang tadi lelaki ini kuatirkan. Tidak ada penjahat yang akan sebaik itu mengumumkan kedatangannya, tapi Alisha juga tidak mau mendebat lebih jauh.
Alisha berjalan di belakang lelaki ini, mengamati profilnya yang tegap saat mereka berjalan menuju teras. Lelaki ini duduk di pelataran teras dengan santai. Alisha lupa menyilakan dia untuk duduk di kursi teras dan malah langsung duduk di sebelahnya.
“Mas kalau boleh tau, namanya siapa ya?” tanya Alisha.
Lelaki itu menoleh, mengerutkan kening seolah-olah Alisha baru mengatakan sesuatu yang mengganggunya. “Bagaskara.” Bagas mengulurkan tangannya.
Alisha menatap tangan yang terulur dan menyambutnya. “Alisha.”
Genggaman tangan Bagas singkat dan tegas, Alisha menyadari alasan bagas mengajaknya bersalaman hanya demi kesopanan. Bukan karena dia benar-benar ingin berkenalan, Alisha membuat catatan dalam hatinya.
Bagas kembali meluruskan pandangannya, Alisha jadi tidak enak mau mengajaknya bicara. Sepertinya Bagas bukan jenis lelaki yang ramah atau doyan bergenit-genit pada gadis. Meskipun siapa tahu, Bagas akan lebih ramah kalau dandanannya tidak terlalu menyedihkan.
Alisha menyeringai, bertaruh bahwa ibunya dan kedua kakak perempuannya tidak pernah akan berada dalam keadaan berantakan seperti ini. Mereka bertiga perempuan karir sejati, selalu ingat untuk tampil rapi wangi setiap keluar rumah. Dan bagi mereka, halaman dan teras juga termasuk definisi “luar rumah”.
Kak Tami sekarang tinggal di Bandung, mengurusi 3 butiknya yang maju pesat. Kak Tami yang lulusan Desain Produk dari sebuah institut terkemuka di Bandung, memang sering mendesain baju dan aksesoris selama masih kuliah. Saat selesai kuliah, dia sudah punya 1 butik. Tahun depan, dia berencana membuka butik keempatnya di Jakarta.
Kak Ratih kuliah di Teknik Fisika di universitas tertua negeri ini, di Yogyakarta. Pintar tentu saja, tidak perlu ditanya. Segera setelah lulus, dia meneruskan mengambil Master Bisnis di Singapura. Sekarang dia menjadi Assistant Brand Manager di sebuah perusahaan multinasional dengan gaji tinggi dan karir yang cemerlang. Dia tinggal di apartemen di Jakarta Pusat yang merupakan fasilitas dari kantornya.
Ibu juga sama saja. Kreatif dan cerdik, selama 20 tahun terakhir ini bersama Ayah membangun dan mengembangkan jaringan toko bunga, warung seafood dan biro wisata di beberapa kota besar di Jawa Barat. Ibu tidak kenal lelah, tapi selalu punya waktu untuk keluarga.
Entah kenapa, darah di tubuh Alisha seperti mengkhianati garis kerja di keluarganya.
Alih-alih membuka bisnis, melamar pekerjaan atau meneruskan kuliah, sejak Alisha lulus kuliah 1 tahun yang lalu, dia dengan betahnya berada di rumah dan mengambil alih urusan rumah tangga dari tangan Ibu, selain tentu saja bekerja, mengambil pekerjaan apapun yang bisa dikerjakannya. Selama dia bisa mengerjakannya dari rumah.
Maka menjadi penerjemah lepas dan membuka toko kue online adalah pekerjaan yang paling masuk akal.
Ibu tentu saja senang karena dia tidak perlu repot membagi waktunya antara rumah dan kantor, karena mereka memang tidak punya pembantu. Sementara Ibu lebih suka keluarganya memakan makanan sehat bikinan rumah sehingga sesibuk apapan Ibu selalu memasak. Ibu kini punya waktu lebih untuk bersosialisasi dengan teman-temannya.
Mengurus rumah sebesar ini, mengatur menu makanan, memasak, sesekali mengantarkan Ayah dan Ibu ke kantor, sampai membayar semua tagihan bulanan, tidak terasa berat bagi Alisha.
Kedua kakaknya sampai berkelakar Alisha, bahwa uang bulanan yang selama ini selalu mereka transfer (yang selalu Alisha tolak karena meskipun sampai kapanpun dia anak bungsu, tapi dia sudah terlalu tua untuk mendapat jatah uang bulanan – tentu saja tidak ada yang mau mendengar) ke rekening Alisha adalah gajinya sebagai supir, pembantu, sekaligus kepala pelayan.
Sambil melamun, Alisha mengamati rimbunan tanaman sedap malam. Mereka terlihat segar. Tadi pagi Alisha sudah menyiramnya dan membuat kanal air di sekitar akar. Bila Alisha cukup rajin, maka dalam satu atau dua bulan..
“Ya ampun,” Alisha menepuk tangannya dengan kaget, Bagas menatapnya dengan pandangan heran. “Saya sampai lupa nawarin minum. Mas Bagas mau minum apa? Biar saya…”
“Jangan panggil ‘Mas’, Bagas aja.” Potong Bagas cepat.
“Kenapa memangnya?” Hati Alisha tersenyum. Bagas mungkin dingin, tapi rupanya dia ingin dipanggil dengan sebutan yang lebih akrab.
“Ngga apa-apa. Rasanya saya jadi pengen masak nasi goreng kalo dipanggil Mas terus.”
Alisha tertawa. Tapi Bagas tetap menatapnya dengan wajah serius.
Alisha dengan canggung menghentikan tawanya dan menatap Bagas sambil memiringkan kepala. “Kamu selalu seperti ini ya?”
“Seperti apa?”
Alisha mengedikkan bahu, berusaha mencari kata yang tepat namun akhirnya gagal. Dia akhirnya menyebutkan satu kata yang terlintas di kepalanya, jenis kata-kata yang tidak pernah dia ucapkan pada tamu keluarganya yang manapun.
Atau lelaki bertampang lumayan manapun.
Atau malah, siapapun.
“Menyebalkan?” kata Alisha lagi.
Detik itu, seperti gerak lambat dalam film, Alisha melihat mimik Bagas yang datar dan serius berubah.
Pertama, Alisha melihat mata Bagas berkilat jenaka. Kemudian dia melihat Bagas tersenyum.
Bagas meninju bahu Alisha. Dan dari kekuatan tinjunya, Bagas sepertinya lupa bahwa di berhadapan dengan perempuan. Alisha meringis sambil mengaduh dalam hati.
Itu menyakitkan.
“Terimakasih, saya anggap itu pujian.” Bagas terkekeh.
Alisha meringis, mengusap bahunya. “Jadi mau minum apa nih? Ayolah masuk ke dalam aja.” Kali ini Alisha yang tidak mau dibantah. Senja sudah datang dan langit mulai berwarna oranye, tidak pantas rasanya membiarkan tamunya menggelandang di teras tanpa diberi makanan dan minuman.
Sebelum Bagas sempat membuka mulut, Alisha cepat menambahkan. “Dan tenang aja, kalo kamu berniat jahat, saya bakal tendang anu kamu sebelum niat kamu kesampaian.”

Beberapa belas kilometer ke utara, di sebuah kafetaria mungil dengan dinding berwarna kuning hangat, dua pasang lelaki dan wanita paruh baya yang masih terlihat segar dan bergairah, duduk di sofa berwarna merah tua di salah satu sudut ruangan.
Manda melihat jam tangannya.
“Sudah cukup?” tanya Rima, seraya menghirup .
“Baru jam 6.” Manda tersenyum pasti. “Kalo aku dan Rafli sampai di rumah seenggaknya jam 8, mungkin itu cukup.”
“Aku ngga nyangka kalian berdua bisa sampai kepikiran yang begini.” Rafli berujar sambil menggelengkan kepala.
“Perempuan lebih kreatif dari laki-laki.” Imbuh Indra, menimpali pernyataan sahabatnya.
“Kalo ada orang yang aku percaya dan aku suka buat jadi suami Alisha, orang itu adalah Bagas.”
“Dan aku ngga yakin ada orang yang tahan sama Bagas kalo bukan Alisha. Aku pernah liat Alisha, percaya deh kamu pinter banget ngedidik anak-anak kamu.” Rima meremas tangan Manda, dan tersenyum. Manda tertawa, remasan halus tangan Rima menyakiti lengannya yang sedang keseleo, tapi Manda juga tidak mungkin menarik tangannya.
“Semoga kita bisa cepet-cepet besanan.” Indra mencengkram Rafli dengan kekuatan penuh, sementara Rafli meringis merasakan cengkraman Indra di bahunya.

***

Bagas serius menonton berita sore, duduk di sofa di ruang tengah.
Alisha mengambil cangkir kopi Bagas dari meja dan menggantinya dengan piring putih lebar berisi pancake yang baru matang.
“Ayo dimakan dulu, mumpung masih panas.”
Bagas menunjuk piring yang ada di depannya. “Apa ini?”
“Pancake. Mentega. Sirup mapel. Aku paling suka yang original. Tapi kalo mau tambahan toping, boleh.”
“Kenapa kamu bikin pancake?” Bagas bertanya seolah-olah Alisha baru saja membuat candi dalam waktu semalam.
“Iseng.” Kini nada suara Alisha berganti heran. “Kamu ngga suka? Atau mau sekalian makan nasi?”
“Ngga, ngga usah.” Dengan perlahan mengambil piring, mengamati pancake bertumpuk tiga dengan lelehan mentega dan sirup kuning keemasan. Bagas mulai menyuap pancake dan kembali berkonsentrasi ke televisi di depannya.
Alisha tersenyum dan berlalu.

3
Alisha meregangkan badannya, menggerakkan kursor untuk melihat hasil pekerjaannya selama satu jam ini. Lumayan. Dia lalu mematikan laptopnya dan mengais sandal kamar, sudah jam setengah 5. Waktunya menyiapkan sarapan untuk Bagas. Bagas akan berangkat jam setengah 8, butuh waktu satu setengah jam untuk sampai ke kantor.
Ini hari pertama mereka pindah ke rumah ini setelah tiga hari sebelumnya tinggal di rumah orang tua Bagas.
Sore kemarin, ketika mereka sampai di rumah, Bagas langsung menunjukkan kamar untuk Alisha di lantai dua, persis di sebelah kamar Bagas.
Kamar yang lega, dengan jendela dari kaca yang luas dan tertutup gordin putih, kasur beukuran besar, lemari pakaian 3 pintu, dan kamar mandi dalam. Ketika Alisha masuk, kakinya yang telanjang langsung menginjak karpet bulu tebal berwarna putih. Alisha merinding, membayangkan hari-hari dimana dia dan vacuum cleaner akan bergulat melawan debu dari karpet ini.
“Kamu tidur di kamar ini.” Bagas melipat tangan di dadanya, bersandar di bingkai pintu. “Koper kamu udah aku taruh di lemari.” Bagas menunjuk ke arah lemari dengan dagunya. Sehari setelah menikah, barang-barang pribadi dan pakaian Alisha sudah dikirimkan ke rumah ini.
“Kamarnya bagus.” Alisha mengakui, dia lalu duduk di kasur, dan menghadap ke arah Bagas. “Tapi apa ngga lebih baik kalo kita tidur satu kamar?”
“Lebih baik begini.”
“Tapi aku pikir..”
“Berapa umurmu?” potong Bagas.
“Cukup tua untuk menjadi istrimu.” Jawab Alisha cepat.
Baru 3 hari, tapi Alisha sudah hapal kemana arah pembicaraan akan berujung. Selama 3 hari belakangan, setiap mereka punya kesempatan, Bagas selalu menatapnya dengan dahi berkerut. Lalu memulai diskusi, kenapa Alisha mau menikah di usia semuda itu. Kenapa dia memilih Bagas yang benar-benar tidak pernah dia kenal sebelumnya. Bagas sempat beberapa kali berpendapat, bahwa Alisha masih terlalu muda untuk mengambil keputusan dan menyayangkan karena orang tua Alisha mengizinkan Alisha menikah dengannya.
“Umurmu 23 tahun.”
“Umurmu cuma beda 5 tahun dariku.”
“Kau cukup tua untuk nonton film di bioskop tanpa pengawasan tapi masih terlalu muda untuk menikah.”
“Lalu?
“Lalu, karena kau masih muda, aku tidak yakin apa kau benar-benar menginginkan ini. Kita akan hidup satu atap, tapi tidur di kamar terpisah. Kita akan tidur bersama, saat aku yakin kau benar-benar sadar kau terlibat dalam pernikahan ini.
“Memangnya kenapa?”
“Aku tidak mau suatu pagi kamu bangun dan menjerit-jerit melihat aku ada di sebelahmu.”
“Aku ngga bakal begitu.” Alisha menahan diri untuk tidak mencebik. “Kenapa kita tidak tidur bersama mulai sekarang?”
Bagas tersenyum sinis, dia lalu mendekati Alisha dengan langkah pelan. Jantung Alisha berdebar melihat sorot mata Bagas yang penuh ancaman, ujung kaki Alisha mmencengkram karpet sementara dia berusaha menampilkan raut wajah yang biasa. Tapi wajahnya sudah keburu memerah.
“Percaya deh, definisi tidur bersama kita itu beda.” Bagas berdiri di hadapan Alisha, merengkuh dagunya hingga Alisha mendongak, menatap langsung ke mata Bagas yang berkilat.. geli? “Kalau menurut kamu tidur bersama adalah memakai piyama, memeluk guling dan saling mengucapkan selamat malam, maka tidur bersama dalam pikiranku melibatkan desahan dan keringat.”
Alisha menatap Bagas, meskipun dia ingin menepiskan tangan Bagas dari dagunya, tapi dia tidak mau. Itu hanya akan membuat merasa bahwa dia benar-benar belum dewasa untuk menjadi istri siapapun.
Bagas pasti terkejut kalau tahu salah satu temannya sudah punya anak dua.
Bagas melepaskan Alisha, lalu berjalan ke arah jendela, membuka jendela. Sinar dari luar rumah yang sudah kemerahan masuk ke dalam kama, Alisha membetulkan posisinya, dan kembali menghadap Bagas. Bagas duduk di sebuah sofa single berwarna hijau pucat, menghadap ke arahnya.
“Oke kalau begitu. Terserah kau saja.”
Bagas tertawa, lalu bangkit dari kursinya, dan berjalan menuju pintu. “Kau marah. Kekanakan sekali.”
Alisha sudah ingin membantah, tapi itu akan membuatnya makin terlihat kekanakan. Selama mereka menikah -dan mereka hanya baru menikah selama 3 hari- Bagas hanya menatapnya dengan tatapan aneh, memandangnya remeh, tidak pernah benar-benar mendengarkannya. Tidak ada gunanya mempermalukan diri sendiri lebih jauh lagi.
Alisha pikir itu karena Bagas masih canggung. Alisha berharap dengan tinggal serumah, mereka akan bisa lebih akrab dan saling mengenal. Tapi rasanya ti
“Kamu kalo ngga suka aku, harusnya kamu bilang aja. Ngga usah sampe kita akhirnya nikah.”
Bagas berhenti, menoleh sejenak ke arah Alisha. Lalu kembali berjalan dan menutup pintu di belakangnya
Alisha mengerang, menghempaskan diri ke kasur.

***

Alisha melotot saat membuka pintu kulkas. Ini adalah kulkas paling bersih dan paling kosong yang pernah di lihatnya.
Hanya ada satu butir lemon, sepotong bawang bombay, sebutir telur, sebatang bawang daun dan sekerat keju yang entah dengan alasan apa ditaruh di freezer. Alisha ternganga. Dia membuka satu persatu pintu laci dan lemari di dapur dengan panik.
Dia tidak pernah selega ini saat menemukan sekaleng kornet. Alisha harus meniup debu dari tutupnya agar bisa melihat tanggal kadaluwarsa dan memastikan kornet ini bisa dikonsumsi. Masih 3 bulan lagi. Tidak akan beracun kalau di masak sekarang. Tapi yang paling menenangkan adalah saat dia bisa menemukan sekotak pasta kering. Alisha tidak bisa menemukan beras dimanapun.
Dia mengocok telur, mencampurkannya dengan kornet, membumbuinya dengan garam dan merica lalu dibentuk seperti daging ham dan digoreng. Sementara untuk pasta, dia membuat pasta dengan saus lemon. Meskipun masakannya pagi ini terasa seperti keluar dari buku Resep Untuk Pemula volume 1, tapi Alisha cukup puas.
Bagas turun ke dapur saat Alisha sedang mencelup-celupkan kantung teh ke dalam teko. Bagas mengancingkan lengannya melewati Alisha dengan mata masih melihat ke arah piring berisi pasta lemon dan kornet telur di atas meja. Saat mencuci tangan, Bagas baru bertanya, “Kamu masak?”
“Kamu ngga bilang kalo ngga punya bahan makanan, aku shock pas tadi buka kulkas. Untung ketemu kornet dan pasta. Tadinya aku udah pasrah kalau pagi ini aku harus jalan ke minimarket depan komplek buat sarapan.” Jawab Alisha sambil menuangkan the ke cangkir miliknya dan milik Bagas.
Bagas duduk, mengambil pasta lemon dan selembar kornet telur goreng. Alisha menambahkan satu lembar lagi kornet. Dia menaruh cangkir berisi teh di samping kiri Bagas, berikut wadah gula yang berisi gula tebu dan gula jagung.
Bagas makan tidak berkomentar. Alisha menghirup teh miliknya sendiri sambil memperhatikan Bagas makan.
“Aku mau menanam beberapa tanaman, bunga dan palem di taman depan. Boleh kan?”
“Hmm..”
“Dan aku mau nebang pohon merambat di belakang. Ngeri banget, aku sampe shock begitu buka jendela kamer dan ngeliat ijo-ijo bergerumbul di belakang. Aku lebih suka ada pohon mangga, dan tanaman yang bisa dipakai buat masak kayak salam, bunga telang di pinggir taman.” Alisha menahan tangan Bagas yang hendak membuka tutup wadah gula tebu. “Pake gula jagung aja, rasanya sama kok.”
“Trus kenapa di sediain dua-duanya?” Bagas mengambil seseondok gula tebu dan menuangkannya ke dalam cangkir.
Alisha mengambil cangkir bagas, dan mengaduknya. “Jadi gimana? Boleh kan?” Tanyanya sembari mengembalikan cangkir kembali ketempatnya.
Kening Bagas mengerut di tegukan pertama, mengabaikan pertanyaan Alisha. “Rasanya beda.”
“Oh, itu. Aku campur the merah dan the hijau. The hijau anti oksidannya banyak, tapi the merah punya kafein yang cukup biar kamu seger sehalian.”
“Kamu kayak baru keluar dari rubrik tips di majalah perempuan.” Gumam bagas di sela kunyahannya.
“Apa?”
“Ngga.”
Alisha terdiam, Bagas sudah menghabiskan separuh makanannya. Dia ingin Bagas ikut terlibat dengan obrolannya, tapi dia tidak tahu apa yang disukai Bagas. Lelaki ini misterius, selama Alisha mengamati kelakuannya, dia tidak menunjukkan perubahan . Alisha tidak tahu dia suka film, olah raga atau musik.
Kalau Bagas suka musik, Alisha ingin tahu musik jenis apa yang disukainya. Musik cadas, klasik, rap, atau progresif. Kalau memang suka olahraga, Alisha ingin tahu apa dia suka menonton apa memang suka berolahraga, serta jenis olahraga apa yang dia sukai.
Alisha tidak terlalu suka musik atau olahraga, tapi dia akan berusaha untuk menyelami apapun hobi Bagas agar setidaknya ada satu hal yang bisa jadi bahan obrolan mereka.
Alisha menghela nafas. Tenang Alisha, tenang, pelan-pelan aja, kamu masih punya banyak waktu.
“Jadi, mau apa buat makan malam? Sekalian aku mau belanja nanti siang.” Alisha mengambil piring dan sesendok pasta, serta selembar kornet telur.
“Apa aja. Terserah.”
“Kamu suka semua? Ngga alergi kacang? Alergi laktosa? Alergi daging?” Bagas menggeleng. “Bagus deh kalo gitu. Nanti aku bikinin sapo tahu seafood aja. Gara-gara kemarin ujan gede banget, dingin pula, aku jadi kepengen makan sapo tahu. Mau kemana?”
Bagas yang sudah berdiri kemudian mengangkat tas kerjanya. “Berangkat.”
“Oh, oke.”
“Mau kemana?” Tanya Bagas setelah melihat Alisha ikut berdiri.
Alisha memberikan senyuman terbaiknya sementara gigi gerahamnya mengigit pipi bagian dalam. Dia gemas luar biasa dengan tingkah Bagas. Tapi memperlihatkan perasaannya pada Bagas juga tidak akan berguna.
“Mau nganter kamu ke depan.”
“Buat apa?”
“Ngga apa-apa, nganter kamu aja.”
“Jangan lupa sekalian bawa sapu tangan.”
“Kenapa?”
“Biar bisa kamu lambaikan waktu aku pergi, atau buat nyusut air mata.”
Alisha tertawa geli, tapi hanya sebentar karena kemudian dia melihat wajah Bagas yang terlihat kesal.
“Lucu ya?” Bagas, kemudian berlalu. Alisha tertawa kecil di belakang Bagas. Baru beberapa langkah berjalan, Bagas mendadak berhenti sampai Alisha tertabrak punggungnya.
“Aduh.” Alisha memegangi hidungnya. “Apa? Ada yang ketinggalan?”
“Kamu serius mau nganter aku ke teras rumah?” Bagas mendelik tidak percaya.
“Iya, emang kenapa sih?” Alisha bertanya bingung. “Apa yang salah?”
Bagas menggelengkan kepalanya. “Yang benar saja. Kamu ini terinspirasi banget sama iklan sabun deterjen ya? Atau buku self-help tentang ibu rumah tangga ideal?”
Alisha berjalan di samping Bagas, menghindari Bagas mendadak berhenti. “Sarkasme.” Komentar Alisha pendek karena tidak tahu harus berkata apa.
“Masa?” sindir Bagas. Mereka kini sudah ada di teras, Bagas membuka garasi dan mengeluarkan mobilnya. Sementara Bagas memanaskan mobil, Alisha berjalan menuju ke dalam teras, mengamati rumput-rumput dan tanaman.
Alisha menghembuskan nafas. Tidak terlalu buruk, pikirnya.
Seorang pengendara motor melewati depan rumah mereka dan melemparkan sesuatu yang jatuh koran lewat menggunakan motor, dan melemparkan koran tepat ke dekat kaki Alisha.
“Pagi, Bu!” sapa si pengantar koran, mengangkat sebelah tangannya pada Alisha. Alisha refleks membalas dengan melambaikan tangannya.
Pengantar koran yang ramah itu kembali melemparkan satu eksemplar koran ke rumah di samping Alisha. Alisha berlari kecil mengejar koran itu karena arah jatuhnya terlihat seperti akan menimpa kubangan air bekas hujan.
“Ooops.” Kata Alisha sambil berjalan terjingkat, berhasil mengambil koran itu meskipun salah satu ujungnya sudah basah dan kotor.
“Hei, ngapain sih?” sergah Bagas, dia memelototi Alisha sambil tetap berdiri di samping mobilnya.
Lagi-lagi nada seperti itu. Alisha selalu merasa seperti habis melakukan kesalahan tiap kali Bagas menggunakan nada suara begitu.
Sayangnya, nada suara Bagas selalu begitu sepanjang waktu. Oh baiklah.
“Ini, ngambil koran.” Alisha menunjukkan koran yang ada di tangan kanannya..
“Ya ampun, kamu ini apa sih lari-lari ngejer koran? Jangan-jangan kamu juga suka ngegigitin orang lewat?” Bagas menggelengkan kepala, kembali ke mobilnya.
“Ngga mungkin aku.. Eh, emangnya aku apa? Anjing penjaga?” Alisha berkacak pinggang. Bagas tidak menoleh, dia masuk ke mobil dan menutup pintunya. Mobil Bagas menderum halus, Alisha memperhatikan Bagas memutar dan keluar dari halaman. Bagas mengklakson sekali tanpa menurunkan kaca, Alisha melambaikan tangan, menatap mobil Bagas sampai menghilang di tikungan Blok D.
Alisha menghembuskan nafas. Tidak terlalu buruk. Alisha tahu bahwa Bagas bisa lebih tidak ramah lagi terhadapnya. Tidak setiap lelaki mau menuruti orang tuanya dan menikahi gadis yang baru dikenal sekali, mengambil tanggung jawab atasnya. Beberapa lelaki tidak akan mau. Maka mendengar Bagas ketus padanya bukanlah hal paling parah yang bisa terjadi.
Alisha mengeratkan sweater, angin pagi berhembus dingin. Dia berjalan ke rumah tetangganya yang hanya di batasi pagar semak setinggi mata kaki, lalu menaruhnya di depan pintu. Alisha sudah berjalan beberapa langkah ketika mendengar pintu terbuka.
“Pagi, Bu.” Alisha mengganggukkan kepalanya ketika seorang perempuan paruh baya melongok. Wajahnya terlihat ramah namun agak kebingungan. Alisha lalu mendekatinya dan mengulurkan tangan.
“Halo, Mbak.” Jawabnya sambil menjabat tangan Alisha. “Siapa ya?”
“Saya Alisha, istrinya Bagas, tetangga sebelah Ibu. Belum sempat kenalan soalnya baru banget pindah, baru kemarin sore. Hari ini baru mau lapor ke RT.”
“Panggil aja ibu Erfan.” Ibu itu manggut-manggut, masih menatap Alisha dengan seksama.
“”Iya, ibu. Kalo gitu saya permisi dulu, mari..”
“Sebentar, maksud mbak, mbak istrinya mas Bagas. Mas Bagas yang di sebelah rumah saya?”
Kini giliran Alisha yang bingung. Sengingatnya dia sudah menjelaskan bagian itu. “Betul, Bu. Kenapa?”
“Oooh, ngga apa-apa.” Bu Erfam menepuk-nepuk bahu Alisha dengan ramah.

4
Menendang ban mobil sepertinya idenya yang bagus, tapi tidak akan menjadikannya kembali berjalan.
Sepertinya ada yang salah dengan indikator di tangki bensin, Bagas ingat betul tadi pagi mobilnya masih punya setengah bensin tersisa. Lebih dari cukup untuk mengantarnya pergi ke tempat latihan tenis hingga pulang lagi.
Bagas memijat keningnya.
Dia melihat ke arah jalan masuk kompleks. Baterai handphonenya mati sejak semalam. Masih 2 km lagi menuju kompleks. Dia sudah melewati pangkalan ojek beberapa menit yang lalu.
Dia membuka pintu belakang mobil, mengambil tas olahraga dan mulai berjalan ke arah gerbang perumahan. Dia berfikir untuk untuk pulang menggunakan ojek saja.
Bagas menaungi matanya dengan tangan. Pengembang perumahan ini sadar lingkungan, site plan kompleks didesain agar hijau dan asri. Salah satu usaha mereka adalah menanami berbagai macam pohon peneduh di tepi jalan yang kini Bagas lewati, namun karena masih muda, tingginya tidak lebih dari 1,5 meter. Daunnya belum cukup rimbun untuk membuat bayangan.
Sebuah sedan metalik yang sedang berjalan dalam kecepatan sedang menuju gerbang kompleks mendadak berhenti. Bagas memperhatikannya memutar arah lalu mendekati tempat Bagas berdiri. Pengemudinya, seorang perempuan dengan dengan kacamata hitam dan berpakaian serba putih dari kemaja, rok hingga sepatunya keluar dari mobil, mendekati Bagas.
“Bagas?”
“Ha?”
Bagas bingung, dia tidak pernah melihat perempuan ini sebelumnya.
“Mau kemana? Ayo aku anterin.”
Sebuah minibus berhenti di belakang mobil sedan.
“Mobilnya mogok ya Gas?” tanya sang pengemudi minibus juga keluar mendekati mereka, ramah menunjuk ke arah mobil Bagas.
“Iya.”
Seorang perempuan mengikuti di belakang pengemudi minibus. Perempuan itu merangkul sang pemilik mobil sedan dengan ramah.
“Mau jemput, Kinan ya Tri?”
“Iya Rum, tapi tadi mendadak ngeliat Bagas lagi jalan, jadi aku pikir dia butuh tumpangan.”
“Ya udah biar aku sama Galih aja yang anter Bagas, biar kita sekalian pulang juga. Kamu jemput Kinan aja gih.”
“Oh gitu ya, ya udah deh. Dah Arum.” Ratri mengecup pipi Arum sekilas. “Dah Galih.”
“Iya mari.” Sahut Galih.
“Duluan ya Gas, salam buat Alisha.”
Bagas melongo melihat percakapannya di depannya. Sejak kapan dia jadi anggota Klub Tetangga Bahagia ini? Semua orang jadi ramah sekali, mengantri mengantarkannya pulang. Dan Bagas tahu dia harus menyalahkan siapa.
Atau dalam kasus ini, berterimakasih pada siapa.
“Ayo Gas.” Arum dan Galih berdiri menunggu Bagas. Bagas segera menenteng tas olahraganya dan mengikuti mereka ke arah mobil.

“Om Bagaaaas!” Seorang anak perempuan dengan pita merah jambu di kepalanya, melambaikan tangan dari dalam mobil dengan ceria, bertopang dagu di kaca mobil yang terbuka.
Bagas memicingkan mata. “Ya?”
Arum nyaris tertawa, dengan cepat menyamarkannya menjadi batuk kecil mendengar jawaban kaku Bagas.
“Sinna, ayo geser. Biar om Bagas bisa duduk.” Mereka bertiga masuk ke dalam mobil, Bagas membuka pintu penumpang. Sinna menggeser duduknya sambil melompat-lompat di kursi mobil.
“Jangan lompat-lompat Sinna, mobilnya mau jalan nih.” Tegur ayahnya
Hembusan AC yang dingin menerpa wajah Bagas ketika mobil mulai berjalan. Bagas menyandarkan tubuhnya dengan lega.
Sinna seperti tidak mendengarkan ucapan ayahnya, tapi tak urung dia berhenti juga, sambil menatap Bagas dengan pandangan tertarik. ”Aku mau main ke rumah tante Alisha, boleh ya?”
“Jangan. Alisha lagi pergi.” Jawab Bagas datar.
Arum dan Galih terkikik tertahan di kursi depan, Bagas pura-pura tidak mendengar.
“Pergi kemana?”
Memangnya aku harus tahu?
“Mungkin belanja.” Sahut Bagas sekenanya.
“Belanja apa?” Sinna memiringkan kepalanya, penasaran.
Anak kecil selalu cerewet. Menyebalkan. Kenapa orang tidak lahir saat mereka sudah memasuki masa puber saja sih?
“Kubis.”
Kikikan dari bangku depan makin tidak terbendung.

“Salam buat Alisha.” Arum dan Galih tersenyum dari dalam mobil, jauh lebih lebar dari saat tadi mereka pertama bertemu di jalan.
Tentu saja, kini mereka pasti menganggap Bagas seperti lelucon keluarga.
“Nanti kapan-kapan aku main sama Oom juga ya?” Sinna pantang menyerah, masih dengan semangat melambaikan tangannya.
Bagas membalas dengan menganggukkan kepala, menunggu sampai mobil mereka berlalu, baru kemudian memasuki halaman.
Aroma jerami kering menguar di udara.
Dari ekor matanya, dia melihat pak Erfan tetangga sebelah sedang berkebun. Mungkin bau jerami ini berasal dari taman mereka, Alisha juga sering menggunakan jerami sebagai mulsa. Alisha bilang, jerami mencegah kelembaban tanah di sekitar tanaman menguap terlalu cepat.
Bagas tertegun.
Tidak mengerti kenapa sekarang dia peduli dengan mulsa. Dia tidak pernah terlalu menanggapi bila Alisha mengajaknya ngobrol, tidak pernah pernah terlalu mendengarkan ucapan Alisha. Bagas sebenarnya sadar bahwa Alisha memang selalu bicara tentang apa saja. Berharap ada satu topik yang cukup menarik untuk ditanggapi Bagas.
Jarang berhasil, lebih sering gagal.
Mungkin alam bawah sadarnyalah yang mengingat semua ucapan Alisha.
Alam bawah sadar?
Hah! Dia tidak mengatakan hal itu. Panas matahari membuatnya berpikir yang tidak-tidak.
Bagas berjalan cepat dengan langkah panjang, berusaha tidak menoleh ke pekarangan keluarga Erfan. Dia sudah cukup bertemu banyak orang hari ini. Yang dia inginkan hanya mandi dan tidur siang. Dan makan. Tadi pagi sebelum berangkat, Bagas melihat Alisha memasak sayur bayam dan ayam goreng.
Di depan pintu, Bagas merogoh kantung celana.
“Sial,” rutuknya kesal.
Ada apa sih dengannya hari ini, dia mendengus, menyadari bahwa kunci rumahnya ada di kantung celana training. Dan celana trainingnya itu sekarang ada di loker ruang ganti di lapangan tenis yang tadi dia datangi.
Dengan putus asa, dia menggerakkan gagang pintu, berharap Alisha lupa membuka pintu meskipun tahu harapannya terlalu konyol.
“Kenapa, Bagas?”
Bagas memejamkan mata sebentar sebelum berbalik menghadap pak Erfan dan tersenyum. Bagas berdoa semoga senyumnya tampak tulus. Dia akan membutuhkan bantuan tetangganya ini.
“Iya nih Pak, lupa bawa kunci. Padahal Alisha lagi pergi.”
“Tunggu saja disini, Gas.” Seru pak Erfan sambil melepas sarung tangan berkebunnya.

“Ya halo?”
Bagas, meskipun dia lebih suka memotong lidah daripada mengakuinya, merasa lega mendengar suara Alisha yang mendadak familiar di telinganya. Keriuhan melatari suara Alisha.
“Heh.” Sapa Bagas pendek.
“Bagas? Kamu kenapa pake handphone bu Erfan?”
“Cepat pulang, aku tunggu.”
“Lho bukannya kamu..”
“Pokoknya cepat.”
Bagas segera mematikan telepon.
Bagas tertawa jengah karena ketika membalikkan badannya dia menyadari bahwa bu Erfan, pak Erfan dan ketiga anaknya yang kini duduk melingkar di teras depan itu terpana menatapnya.
“Udah?” tanya bu Erfan ketika Bagas menyerahkan handphone miliknya.
“Iya Bu.” Bagas ikut duduk bersila bersama mereka.
Si sulung, si bungsu dan si tengah tak berkedip menatap Bagas. Mereka bertiga sudah beranjak remaja. Si sulung dan si bungsu adalah anak perempuan berwajah manis, sementara si tengah adalah anak lelaki dengan mata lebar dan rambut yang mencuat ke segala arah.
Bagas mengangukkan kepala. Mereka membalas anggukan kepala Bagas dengan mengangguk juga.
Bagas memutuskan untuk menyukai mereka.
“Aku ngga tahu kalo pasangan jaman sekarang nyapanya ‘Heh’.” Kata sang Sulung pada si Bungsu dengan sok tua, seolah dia sudah berusia 80 tahun dan kenyang memakan asam garam kehidupan.
“Iya, aku pikir semua pengantin baru menjijikkan kaya om Keenan dan tante Septi kalo lagi ngobrol.” Sahut si Bungsu.
“Sayang, darling, honey, cuppycake..” Si Tengah menciumi punggung tangannya sendiri dengan penuh perasaan sambil memejamkan mata.
Oke, mungkin Bagas tidak menyukai mereka. Dan mungkin sebaiknya manusia tidak lahir saat bayi atau saat remaja, manusia lebih baik lahir langsung berusia 20an atau 30an.
“Hush.” Pak Erfan menyuruh mereka berhenti, dan meskipun terlihat tidak rela ketiga saudara itu menurut, saling menyikut dan meleletkan lidah.
Bu Erfan buru-buru menyerahkan segelas cairan merah jambu yang penuh es batu.
“Ini mas Bagas, sirupnya enak lho. Rasa pisang susu. Ini juga ada brownies, stik keju ama kastengel juga, kemarin bapaknya anak-anak ke Bandung. Kalo minggu siang gini kita emang sering duduk-duduk di teras gini, abis kalo hari biasa kan sibuk sendiri.” Bu Erham yang ramah ini mengingatkan Bagas pada Alisha. Bagas merasa kasihan pada pak Erham. Meskipun mukanya terlihjat santai-santai saja, tapi pak Erham pasti tertekan punya istri begini.
Bagas melihat ke arah pak Erfan dengan tatapan pengertian, sementara yang ditatap membalas dengan tersenyum bingun.
“Wah, ada wingko.” Bagas mengambil kue berbentuk bulat itu dan menggigitnya. Rasa ketan, kelapa dan gula yang terpanggang bercampur di mulutnya dalam tiap kunyahan.
“Itu dapet dari mbak Alisha.”
Bagas mengernyitkan dahi. “Memang Alisha orang Semarang?” Bagas berkata lebih kepada dirinya sendiri sambil menatap ke kue bulat yang kini berbentuk sabit.
Untuk alasan yang tidak Bagas mengerti, keluarga di depannya tersedak berbarengan.

5
Mereka memasuki dapur. Alisha terlebih dahulu berbelok ke ruang tengah, menaruh tas tangannya di sofa dan menaruh kuncinya di samping meja telepon.
“Kenapa itu tadi? Kenapa semua orang di kompleks ini memperlakukan aku kayak aku tetangga mereka?” gerutu Bagas.
Bagas melemparkan kunci mobilnya dari dapur ke arah Alisha, namun Alisha gagal menangkapnya. Alisha memungut kunci mobil Bagas dari lantai dan menaruhnya di sebelah kunci mobilnya sendiri.
Alisha sempat berbasa-basi beberapa menit dengan keluarga Erham, menanyakan kabar Tasya, Miela dan Fadhil, menanyakan kabar bu Erham yang kemarin memasak selai sarikaya dan pak Erham yang keseleo di engkel kaki, sampai dia melihat wajah Bagas yang meskipun tersenyum tapi terlihat aneh. Orang yang sakit gigi saja bisa tersenyum lebih tulus dari itu.
Alisha memutuskan untuk menyudahi obrolannya dan pamit lebih cepat.
Senyum aneh itu terhapus dari wajah Bagas segera setelah Alisha menutup pintu rumah.
“Satu kata, arisan warga.” Alisha mengikat rambutnya tinggi-tinggi, melewati Bagas yang sedang menuangkan air dingin ke gelas. “Emang mobil kamu mogok ya? Tadi aku liat di deket gerbang kompleks.”
Bagas meneguk minumnya dalam sekali teguk, duduk di kursi, memperhatikan Alisha yang memunggunginya, menyiapkan mangkok dan piring. “Kunciku ketinggalan di mobil dan aku males baliknya lagi. Bensinnya abis. Tapi kayaknya ada yang rusak di mesinnya. Mungkin harus ke bengkel juga. Aku mau makan.”
Kening Alisha berkerut mendengar Bagas berkata lebih dari satu kalimat dalam sekali nafas. Tidak terlalu sering Alisha mendengarnya Banyak bicara begitu, setidaknya akhir-akhir ini. Kombinasi kelaparan dan mesin rusak rupanya punya pengaruh baik untuk kemampuan berkomunikasi Bagas.
Alisha menaruh mangkuk berisi sayur dan piring yang sudah diisi nasi, lalu membuka tudung saji. “Nanti kita isi bensinnya trus kita ke bengkel.”
“Ngga usah, aku aja yang urus. Aku pinjem mobil kamu.”
Alisha mengambil gelas Bagas yang sudah kosong dan mengisinya dengan air dingin dari kulkas. “Pinjem mobil? Pulangnya gimana? Kamu mau nyetir dua mobil, gitu?”
Bagas diam saja sambil mulai mengunyah. Alisha duduk di seberang Bagas, dan memperhatikan Bagas sambil bertopang dagu. Wajah Bagas terlihat jelas kelelahan, kulitnya berkilat terkena keringat. Alisha yakin bahwa tidak semuanya didapat dari latihan tenis pagi ini.
“Jadi?” tanya Alisha dengan malas. Dia berusaha keras menahan tawa karena Bagas terlihat menggertakan gigi. Alisha tahu Bagas enggan mengajaknya pergi. Dan selama ini dia berhasil.
Tiga hari yang lalu, Bagas bahkan lebih memilih untuk tidak datang ke pernikahan teman sekantornya karena Alisha terus-terusan membujuk Bagas agar dia boleh pergi bersama Bagas. Bagas mati-matian menolak ditemani sampai akhirnya dia memutuskan untuk berpura-pura demam.
“Aku tahu kau tidak sakit.” Kata Alisha malam itu, sambil berdiri dan memakai giwang di samping tempat tidur Bagas. Bagas bergeming, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. “Ayo cepat bangun, aku sudah siap.” Alisha menarik selimut. Bagas sedang bergelung dengan hanya mengenakan celana pendek kotak-kotak dan kaus belel warna putih.
“Ngga, aku ngga mau pergi. Kamu menang.” Bagas menarik kembali selimutnya.
Alisha menghembuskan nafas, tahu bahwa itu bukan kemenangan. Menang adalah berhasil membuat Bagas mengajaknya pergi keluar. Entah kemana saja. Kali ini mereka berdua sama-sama kalah. Tapi saat itu Alisha tidak punya posisi tawar yang bagus.
Sekarang Alisha punya. Dan kali ini Alisha yakin dia akan menang.
Bagas menghembuskan nafas dengan kentara. “Awas kalo kamu ngeluh bosen di bengkel.”
Alisha melemparkan tatapan pura-pura terhina ke arah Bagas. “Ngga bakal.”
Alisha tersenyum kecil begitu Bagas kembali makan dan tidak menatapnya. Dia berhasil. Alisha sendiri tidak begitu tahu apa yang ingin dicapainya dengan terlihat berdua bersama Bagas, tapi Alisha sadar bahwa sekecil apapun langkah yang di buatnya, selama itu maju, akan berpengaruh baik bagi perkawinan anehnya ini. Dia ingin ini berhasil, dan untuk itu, bila memang Bagas bersikap pasif, tidak masalah bagi Alisha. Yang penting dia mau bekerja sama. Sekali Bagas mau menerimanya, setidaknya sebagai teman pada mulanya, maka selanjutnya akan jauh lebih mudah. Kini yang paling penting ada membuat Bagas terbiasa dengan kehadirannya.
Mengambil sayur bayam dan sedikit nasi, Alisha mulai makan. Ketika Bagas meneleponnya tadi dia sedang di mall, berkeliaran di toko buku. Sebelumnya dia sudah makan burger, kentang dan soda. Jadi, Alisha sudah cukup kenyang sekarang.
Alisha meperhatikan Bagas yang makan tanpa berkomentar, serius memperhatikan makanannya. Sebelumnya Alisha berpikir itu adalah bentuk penghargaan Bagas terhadap makanan. Tapi kadang, Alisha punya perasaan Bagas berbuat begitu untuk menghindari obrolan dengannya.
Tentu saja itu tidak mungkin, Bagas tidak bakal bisa menghindar dari Alisha meskipun ingin. Dan untuk sesi siang ini, setelah Alisha menghabiskan sayur bayam, dia bercerita tentang pengalaman pertamanya membuat macaron Perancis kemarin.
“Kamu punya wingko?” Potong Bagas saat cerita Alisha sampai di bagian kaki-kaki biskuit macaronnya.
“Ada. Mau?” Sebelum Bagas menjawab, Alisha berdiri, membuka salah satu lemari dapur dan menaruh piring berisi beberapa buah wingko di meja. Alisha melipat tangannya di atas meja. “Kenapa kamu tiba-tiba nanyain wingko? Dari kemarin udah aku taruh di meja ini, kamu kayaknya ngga nyentuh.”
“Aku ngga liat.”
“Oh.” Alisha mengangguk. “Terus, waktu aku keluarin makaronnya
“Kamu itu aslinya orag mana?”
Alisha menelengkan kepala. “Kenapa?”
“Karena tetangga kita bilang kamu orang Semarang.”
“Kamu pikir aku orang mana?”
Bagas mengangkat bahu. “Orang Tangerang.”
Alisha tertawa.

Bagas berjalan pelan di samping Alisha. Alisha mencoba berkonsentrasi pada sardines kalengan, dia berusaha tidak mengindahkan aroma sabun dan cologne Bagas. Bagas sempat mandi sebelum mereka pergi, Alisha yang memaksanya. Mulanya Bagas tidak mau karena dia ingin cepat ke bengkel dan urusannya cepat selesai. Tapi setelah Alisha membujuknya dan mengatakan bahwa dia sudah menyiapkan air panas sementara mereka makan, Bagas –tentu sambil menggerutu- akhirnya memutuskan bahwa itu ide yang Bagus.
Sekarang Alisha tidak menganggap ini ide yang terlalu bagus karena aroma segar dari tubuh Bagas, jambangnya yang berumur sehari membuat lutut Alisha seperti diketuk palu, lemas dan sedikit lumpuh. Alisha bertanya-tanya apa rasanya bila dengan jambang seperti itu Bagas mengecupnya. Bukan kecupan yang romantis atau apa, hanya kecupan formal seperti yang biasa temanmu lakukan. Alisha yakin itu akan membuatnya jungkir balik.
Perut Alisha mendadak seperti teraduk.
Alisha mengingatkan diri sendiri untuk membatasi bacaan novel romannya karena ini membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Memikirkan dicium saat kau sedang belanja bulanan jelas adalah sesuatu yang absurd.
“Kenapa kau mau menikah denganku?”
Dan suamimu bertanya kenapa kau mau menikahinya juga tak kalah absurd.
Alisha berhenti sejenak, mendongak menatap Bagas. Lalu kembali berjalan dan mendorong kereta belanjanya. “Kenapa harus ngga mau?”
“Banyak. Salah satunya karena kau tahu aku membencimu.”
Alisha tahu dia tidak perlu mengambil hati kata-kata Bagas barusan, tapi tak urung ada perasaan mengganjal di tenggorokannya. Alisha menelan ludah, berusaha menjawab setenang mungkin. “Kau tidak membenciku. Aku sudah menyelamatkanmu dari kemungkinan membujang sampai umur 40 tahun.”
“Dan aku sudah menyelamatkanmu dari kemungkinan menjadi perempuan seperempat abad yang menyedihkan dan tanpa pekerjaan.”
Alisha mendengus tersinggung. Dia menusuk dada Bagas dengan telunjuknya. “Aku. Punya. Pekerjaan.”

Bagas berada di sebelahnya, mukanya cemberut sambil mendorong pelan kereta belanja mereka. Bagas kesal karena ternyata mobilnya harus diinapkan di bengkel. Dia sempat menggelengkan kepala tidak setuju saat Alisha memintanya berbelok ke mal sebelum pulang. Bagas berhenti protes dan akhirnya memasuki parkiran mal pertama yang mereka lihat setelah Alisha berkata bahwa dia harus belanja bahan-bahan untuk pie apel dan pancake. Siapapun yang mengatakan bahwa “perut adalah cara tercepat menuju hati lelaki” sudah kuno, pasti tidak kenal Bagas. Masakan seheboh apapun akan dilahapnya dengan muka datang. Alisha selalu mendapatkan reaksi yang sama, entah dia masak iga bakar ataupun telor ceplok. Bagas beruntung Alisha bukan pendendam dan memasak dadar atau ceplok setiap hari.
“Kita mau cari apa lagi?” tanya Bagas setelah mereka memasuki lorong makanan dan minuman untuk yang ke tiga kalinya.
“Kamu itu cakep lho. Apalagi kalo ngga keseringan marah-marah.”
“Apa-apaan.”
“Dari tadi banyak cewek ngeliatin kamu.” Alisha mengambil sekotak teh hijau dan coklat bubuk dari rak, lalu memasukkannya ke keranjang belanja.
“Kamu ngga ngitung berapa jumlah cowok yang ngeliatin kamu.”
“Ngga. Emang berapa?” tanya Alisha nyengir. Wajah Bagas kembali kelabu. Alisha lalu tertawa kecil, menaruh tangannya di bahu Bagas, setengah menggayut dia berbisik pelan. “Orang pasti mikir kita pengantin baru yang lagi di mabuk asmara.”
Bagas berhenti berjalan, dia menatap Alisha dengan tatapan sinis. “Orang pasti mengirta kamu pengantin perempuan yang gatel, suka manja-manjaan di depan umum.”
Pipi Alisha terasa terbakar. Dengan malu dia melepaskan tangannya dari lengan Bagas.

Advertisements

14 thoughts on “Sebelum Mahogany Hills….

  1. Masih speed reading sih tapi “nangkep” beberapa deskripsi soal… makanan xD *lap iler* Mahogany Hills juga banyak deskripsi soal makanan dan kegiatan masak, aku sukaaa. Pada dasarnya aku suka makan, jadi tiap baca novel dan ada deskripsi detail soal makanan atau kegiatan masak, rasanya seneng banget. Mungkin di tulisan selanjutnya bahas pria dengan profesi sebagai chef dan wanita sebagai bankir gimana? *ngarep* xD

  2. pada dasarnya suka cerita tentang perjodohan..dan entah kenapa karakter alisha ini seperti “gue banget” terutama kesehariannya hahahaha…

    hayooo dong mba ceritanya dilanjut gitu.. jadi novel blog aja gimana..? yayayaya??? plisss *muka memelas*

    • huahahaha, seperti yang pernah kukatakan di twitter, agaknya saya nggak bakat nulis novel blog. paling takut nulis di bawah tatapan dan ditunggu2 orang *kalo ada yang nunggu*. cukuplah editor saja yang nagih-nagih :))

  3. hampir2 sama ceritanya ya.. si cewe yg pgn dijodohin dan buat ngambil hati si cowo ‘disogok’ dgn makanan hahaha
    alisha sama bagas ini kisahnya bikin senyum2 deh..
    ini ada kelanjutannya ga mba??? lanjut dooong pengen tau juga ><

    • ada siiihh, cuma ya gitu deeeh… rada susah diterusin.
      padahal aku suka banget loh nulis ini, nulis si Bagas itu enak banget, pelampiasan, lol 😆

  4. sukaa banget sama penuturan ceritanya. terus keseharian Bagas Alisha ini menarik banget, apalagi ‘percakapan’ mereka yg pendek dan sedikit kaku. 😀 sangat ingin kisah ini dilanjutkan.

  5. Emagod Mbak Tia. Meski ada kemiripan, aduh tetep aja jago ya ngedongengnya. Ayo lanjutiiin. Kalo saya jadi editor kayak Mbak Tia mungkin kerjaannya hanya seputar teknis kali ya haha…! Selalu deh flow-nya adem gitu, Mbak! Tips dong tips!!! :))

    • susyeeeh kalo ngelanjutin maaah, walaupun outline udah lengkap tinggal nulis doang. pelajaran moral : kalo nulis selesaikan segera x))

      tips mah nggak ada, kayaknya kalo udah baca cukup banyak buku, abis itu tinggal latihan nulis aja… :mrgreen:

      • Hahaha, noted, Mbak. Rampungkan segera biar cepet-cepet nangkring di Gramed. Anyway itu kisah kakak-kakaknya Alisha bisa dibuat cerpen atau novel juga tuh Mbak 😀

  6. Aku sudah baca mahogany hills-nya>_<
    Kenapa sangat pas dengan apa yang ku inginkan selama ini *tsah wkwkw
    Aku memang suka banget sama cerita yang berbau perjodohan trus cowoknya kayak jutek gitu wkwkka
    Dan di mahogany hills, aku suka sifat paras. Meskipun rasanya pengen ku skip bagian dimana paras lupa ingatan wkwkwk
    Tapi gak papa, sukses buat cerita selanjutnya 😀

    Lanjutan sincerely yours nya di post di wp lagi ya hehee :p

    Fighting ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: