Indahnya Masa Remaja

Salah satu mimpi terpendam saya adalah menulis teenlit. Saya punya sepupu perempuan yang masih SMP, kadang status Facebooknya bisa bikin tercengang, dari kakak kelas yang suka ngelabrak adik kelas, sampai suka gontok-gontok sama Ibu karena satu dan lain hal.

Jadi remaja bisa sangat bikin stres. Waktu saya masih remaja, jaman duluuu banget, saya bisa melarikan diri dari keadaan yang kadang menyebalkan di rumah atau sekolah dengan membaca buku. Buku bisa membantu saya jadi lebih tenang, kalem, dan tidak terlalu emosional

Setelah membaca derita Harry Potter, rasanya keadaan saya jadi terasa lebih baik dibandingkan Harry.

Setelah membaca kebingungan Alibrandi, rasanya saya terlalu melebih-lebihkan masalah.

Setelah membaca kejenakaan Mia Thermopolis menghadapi dunia, rasanya saya jadi lebih optimis.

Secara natural, dengan menulis teenlit, saya ingin menguatkan para remaja di luar sana, bertahanlah! Hidup ini indah, meskipun hormonmu bergejolak dan begitu banyak hal yang menyusahkan hatimu.

Tadi pagi jam 4 mendadak ambil kertas dan pulpen, bikin draf awal ini. Enggak tahu bakal dibawa ke mana, tapi disimpen aja dulu di sini, siapa tahu suatu hari ditengok lagi bisa diulik. Yang jelas, saat menuliskannya rasanya nyenengin banget. Baru kali ini nulis pake POV 1.

Sinopsisnya pernah dimasukkin ke Noura Books Academy tapi enggak lolos. Sayang sekali. Padahal pengen banget ikut, soalnya ada Ori-chan. Waktu itu udah lama banget enggak ketemu dia, dan mau ketemu juga susah. Untung sekarang Ori-chan tinggal di Jakarta, jadi enggak usah repot-repot  lagi… 😆

Oh iya, ngomong-ngomong, Imperium Robert Harrisnya udah sampe, makasih yaaa. I ❤ you bestie! Nanti kuinstagram deh, instagram material banget tuh, hahaha…. (dengan asumsi beliau baca ini x)))

__________________________________________________________________________________________

Padahal aku sudah bilang sama Ayah dan Ibu, kalau aku enggak mau sekolah di SMA Pekerti.

Kalau diibaratkan, SMA kayak hutan rimba. Banyak jenis binatang, kita harus pinter-pinter milih mana yang kira-kira enggak bakal melilit, meggerigiti dan mengunyah kita.

Tapi asal kau tahu saja, sekolahku tidak seperti itu.

SMA Pekerti ibarat sungai dangkal yang berair tenang.

Dan dipenuhi piranha yang berenang-renang menunggu mangsa. Aku tidak melebih-lebihkan. Beneran, kamu harus cukup pintar dan mujur kalau  tidak mau dimakan hidup-hidup di sekolah ini.

Nah, karena Ayah dan Ibu berkeras aku harus masuk Pekerti, maka aku bertekad untuk mengerahkan segala kepintaranku (yang tak seberapa itu) untuk bertahan di sini. Usahaku itu gagal di hari pertama aku bersekolah.

Di rumah, aku di panggil Pani. Bukan karena namaku Fani terus Ayah dan Ibu orang Sunda, tapi karena nama panjangku adalah Frangipani Kusumadewi. Bagus ya? Tapi itu jadi masalah buatku.

Aku tidak menyalahkan Ayah dan Ibu yang memberiku nama, aku menyalahkan teman sekelasku, Romi yang sepertinya selalu membaca kamus Bahasa Inggris sebelum berangkat tidur.

Setelah 3 hari orientasi siswa yang panjang, bikin pegal dan membuatku bangkrut, kami masuk kelas dan satu per satu memperkenalkan diri di depan kelas. Ketika tiba giliranku memperkenalkan diri dan menyebutkan namaku, Romi yang duduk di belakang, dengan wajah yang terlihat licik (sungguh, wajahnya memang licik, ini bukan karena dia nyaris menghancurkan masa indah remajaku atau bagaimana), “Idih, frangipani kan bahasa Inggrisnya bunga kamboja, kembang kuburan dong!”

Celetukan itu disambut tawa meriah yang membuat suasana tegang dalam kelas langsung mencair seketika. Semua orang yang tadinya diam-diam, mungkin karena masih trauma sama masa orientasi berat yang sebelumnya mereka derita, mendadak tertawa ceria, saling mengobrol dengan teman sebangku mereka. Membicarakan aku dan namaku sementara aku di depan kelas, telapak tanganku mulai basah dan pandanganku berkunang-kunang.

Kalau aku tupai, mungkin aku sudah pura-pura masti. Kalau aku cicak, aku akan memotong buntutku. Kalau aku sigung, aku akan menyembur mereka dengan cairan bau.

Ya sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Setidaknya sejak hari itu, kelasku jadi kelas yang kompak dan akrab satu sama lain.

Aku senang karenanya.

Satu-satunya yang membuatku tidak senang hanyalah karena sejak hari itu, namaku diubah seenaknya jadi Tasir, singkatan dari Tanah Kusir. Tahu kan, komplek pekuburan itu loh?

Satu-satunya yang memanggilku Pani hanya Winda, temen sebangkuku yang cantik dan baik hati (aku bilang begini karena dia beneran cantik, bukan karena hanya dia satu-satunya orang di Pekerti yang memanggilku Pani, sumpah).

Sekarang aku sudah mau naik kelas XI, nyaris setahun berlalu sejak insiden kembang kuburan. Aku masih suka memicingkan mata sengit kalau Romi sudah cengengesan padaku. Nilai-nilai pelajaranku lumayan bagus meskipun enggak bikin aku masuk tim olimpiade bidang studi. Aku cuma punya sedikit teman dekat tapi aku sangat menyayangi mereka.

Menjelang ujian kenaikan, aku sudah optimis kalau semuanya berjalan lancar. Rencanaku untuk menjalani kehidupan sekolah yang tenang dan biasa-biasa saja akan terwujud. Tidak kusangka, ternyata saat itu bencana sedang menyusun diri untuk mencengkramku (maafkan pemilihan kata-kata yang berlebihan, sebenarnya sih bukan bencana-bencana amat kok, hanya saja cukup untuk membuatku sengsara).

Kalau saja waktu bisa diulang, aku tidak akan pergi ke perpustakaan di hari Selasa yang menentukan itu.

Advertisements

One thought on “Indahnya Masa Remaja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: