Penulis Pemula

Jadi ceritanya kemarin sore Mbak Hetih nge-post tautan ke blognya Mbak Anastasia, soal kenyataan tentang menjadi pengarang baru. Langsung pengen masuk kotak perkakas ga, di salamin sama Tara gitu? Huehehe…

Nah, karena kemarin, 23 Mei 2013, adalah tanggal resmi terbitnya Mahogany Hills, dengan demikian resmilah saya jadi pengarang pemula, penulis debut, dan berbagai istilah setara yang kalo sekarang sih belum terpikir.

Mahogany Hills

Mahogany Hills

Gimana rasanya? Ternyata rasanya membingungkan 😆

Biar jelas, maka mari kita pecah perasaan saya menjadi beberapa bagian.

1. Ekspektasi

Konon, nulis buku pertama itu paling enak, sungguh nikmat, surga dunia tiada tara. Kenapa? Karena orang tak punya ekpektasi apa-apa soal bagaimana kamu nulis, apa tema yang kamu ambil, plot, setting, heck, orang bahkan mungkin memaafkan kalo lembar terima kasihnya mencapai 8 halaman.

Tapi kalau jadi pemenang lomba, beda lagi kasusnya. Saya yakin, ini berlaku sama buat semua naskah pemenang lomba, apa pun itu. Mau lomba dari penerbit atau DKJ atau KLA.

Berhubung saya memiliki imajinasi yang sehat dan aktif, maka saya bisa mengira-ngira bagaimana bentuk ekpektasi orang.

Yang paling gampang, menohok, dan bisa membuat jatuh berdebum mungkin kalo ada yang komentar, “Appah? Begini doang juara 1?” :mrgreen:

Poin satu ini kemudian mengantarkan pada poin berikutnya, yaitu :

2. Penerimaan

Apakah ada yang suka? Apa ada yang benci sampai ubun-ubun? Oh no, di Goodreads ada yang ngerating 1 dan minta uangnya di kembaliin!

Lalu bagaimana saya harus bersikap? Apakah saya harus berderap dan menjelaskan betapa salahnya apa yang dia katakan itu? Bahwa dia enggak boleh bilang begitu karena nulis novel itu susah?

Saya selalu menekankan pada diri saya sendiri bahwa naskah saya bukanlah bayi saya. Itu hanyalah hasil kerja saya. Karenanya saya bisa dalam sekali kedip memotong naskah yang mencapai 35 ribu kata jadi tinggal 17 ribu saja kalau mendadak ganti plot atau ngerasa enggak dapet karakter yang sesuai. Karena itu saya bisa dengan mudah pindah dari satu naskah ke naskah lain tanpa kelamaan merasakan hangover setelah menulis berminggu-minggu.

Jadi kalau ada yang mengatakan hasil kerja saya enggak beres, enggak sesuai sama yang dia pengen, saya cuma mengizinkan saya merasakan getir selama beberapa menit, menarik napas, lalu melanjutkan hidup.

Lagian kenapa harus emosi? Saya juga bisa bilang nasi goreng di pojokan jalan rasanya blah. Tapi tukang nasi goreng enggak bakal tuh curhat betapa dia bangun jam 3 pagi buat belanja bahan dan bumbu ke pasar, nyiangin sayur, ngulek bawang, nyuci wajan, dorong gerobak dst dsb.

Pokoknya rasanya terlalu asin buat selera saya ya saya ga suka, titik. Kegiatan si mamang sampe nasi gorengnya sampe ke tangan saya bukan urusan saya.

(Ini mulanya berlaku buat buku yang saya edit dan ada pembaca yang lapor nemuin typos, biasanya langsung bersumpah supaya naskah berikutnya lebih teliti lagi  xD )

3. RT

Sebenarnya saya mikir-mikir, apa sih impact-nya twitter saya yang followernya cuma 200an orang ini nge-RT info atau stok atau resensi dari Mahogany Hills. Dibandingkan misalnya, akun Novel Metropop atau akun Gramedia yang punya lebih banyak follower thus daya jangkaunya lebih luas?

Ini e-mail dari editor saya waktu beliau memberi tahu soal kepastian terbit novel saya :

Kurang lebih, saya diminta bersiap-siap dan berdoa, semoga bukunya laris. Itu doang, pokoknya… :mrgreen:

Mungkin karena jadi saksi mata fenomena Ilana Tan, editor saya tahu bahwa buku bagus akan menemukan jalan takdirnya sendiri secara ekonomi (alias laris, deuhh muter-muter deh), meskipun penulisnya tidak maju ke garda depan promosi.

Tapi saya ingat sebuah e-mail di milis yang ditulis Jamal, penulis Epigram dan buku-buku lainnya. Itu sekitar tahun 2007, socmed tentu belum terlalu seheboh sekarang.

Kurang lebih, di milis itu beliau bilang, “Penerbit memberi advance royalti sebesar 25 %, bahkan saat belum ada satu pun buku saya yang terjual. Waktu persalinan anak kedua, biayanya terbantu dari situ.  Itulah kenapa saya sering promosi di sini, merasa utang budi sama penerbit euy.”

Gus Weng melakukan talkshow karena memang beliau asyik banget kalo nyeritain pengalaman yang bikin dia bisa nulis 3 buku perjalanan keren.

Penulis lain yang lebih banyak followernya dan followernya merupakan pembaca, bikin kuis.

The least that I can do is retweeting the tweet.

Tenang, RTnya mungkin cuma 2 hari sekali atau gimana gitu, biar enggak abuser banget.. Jadi buat temen-temen di twitter saya, tabahkan dirimu ya, Nak. 😆

Memang bukan mandat tapi saya merasa terpanggil buat ikut meramaikan. And it’s (hopefully) not out of vanity… 😉

Jadi novel pertama sudah terbit. Lalu, apa lagi?

Mungkin kutipan Michael Connelly di serial Castle yang saya tonton beberapa hari yang lalu merupakan pertanda tentang apa yang harus saya lakukan setelah ini. 😀

Know what I did after I wrote my first novel?

I shut up and wrote 23 more.

(Castle S03E21 – “The Dead Pool”)

Advertisements

11 thoughts on “Penulis Pemula

  1. wessee…udah jadi writter sekarang…..hahaha…ikut seneng deh.. btw, ada softcopynya??? wkwkwkwk….
    #ingetjamankuliahelins

  2. Tiaaa..
    Aku diem-diem sering baca blog kamu loh, lucu, suka sama bahasanya.

    Selamat yaaaah novel nya udah terbit. Insya Allah ke Gramed secepetnya & beli 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: