It’s Happening!

If a picture paints a thousand words, izinkan saya menghemat 1.000 kata di postingan ini dengan gambar berikut :

……………………….

Pfiuuuh, masih ada sensasi dingin di tulang belakangku hanya dengan melihatnya saja.

Yaaah sama lah, seperti ribuan orang yang suka nulis lainnya, saya juga udah suka nulis dari kecil. Waktu SD, sampai berbusa Mamah ngomongin karena suka ngeliat saya kerjaannya telungkup di atas meja sambil nulis cerita horor (nasib, karena jaman dulu dibeliinnya Goosebumps sama Om saya, jadi genrenya horor-thriller).

Mungkin kepenginan nulis yang bener dimulai sejak tahun kedua di Universitas. Berhubung kuliah saya urusannya enggak jauh otomatisasi kontrol, katup, sensor, bilangan Fourier, logika Fuzzy dll, dkk, nulis adalah the other side of world, lumayan buat bikin rileks kalo kepala udah puyeng mikir.

Tapi itu juga cuma nulis blog. Hobi yang lain adalah blog hopping, saya sukaaa banget baca-baca soal kepenulisan-penerjemahan-editan.

Kerjaan saya suka menclok di Pulpen-nya Lautan Indonesia, yang di masa jayanya pernah jadi saksi perjuangan para calon penulis (sekarang mah anggotanya malah udah banyak yang jadi penulis). Saya juga suka baca Multiply-nya Mbak Deetopia dan Mbak Rinurbad (yang suka posting soal lomba nulis dan backgroundnya item).

Saya juga rutin membaca Writer Tavern’s serta blog pribadi milik pasangan penulis mbak Primadonna Angela dan Isman HS, mencerahkan banget tapi aku kok lupa ya alamatnya di mana? xD

Tulisan mbak Siska di laman web-nya Luna Torashyngu yang kocak abis. Tulisan mbak Hetih, mbak Donna, mbak Vera dan mbak Michelle di Virus Baca yang bikin manggut-manggut. Tulisan mbak Poppy di Multiply My Musing (tentang penerjemahan dan Tolkien, tapi enak dibaca, dasarnya penulis sih yaa).

Cerita dan review buku di blog mas Wiwien Wintarto, juga review film di Sinema Indonesia (lumayan relevan kok, hihi).ย Kebiasaan itu kebawa sampai sekarang, sekarang saya juga demen banget baca blog-blognya anggota BBI.

Dan banyak lagi blog lain yang enggak bisa saya inget satu-satu. Pokoknya kalo ada yang nulis soal penulisan fiksi atau buku, kayaknya saya udah pernah baca deh.

Tahun 2006, saya pernah mencoba menulis novel, soal orang yang naik gunung trus tersesat dan mati, tapi tanpa menyadari keadaannya, doi turun lagi dan pulang ke rumah trus merasuki badan cowok lain buat ketemuan ama pacarnya.ย Genrenya hortis alias horor romantis, dan enggak pernah selesai, karena lama-lama lebih mirip komedi daripada horor, zzzz….

Tapi setidaknya di tahun itu, ada pencapaian seru. Satu-satunya cerpen yang pernah saya buat, Praya Penggerutu, (sampe sekarang saya enggak pernah bikin cerpen, mungkin saya orangnya terlalu cerewet ya, terlalu banyak yang ingin dikatakan jadi cerpen bukanlah medium yang tepat) dikirimkan ke majalah Gadis dan ternyata dimuat. Ceritanya? Soal anak SMA yang suka marah-marah kalo ke toko buku karena enggak ada teenlit yang sesuai dengan seleranya, sampai kemudian dia akhirnya memutuskan untuk menulis teenlit yang ingin dia baca, lalu dia kirim di penerbit dan ternyata berhasil terbit trus bukunya laku keras.

Jiyeee, itu cerpen apa jeritan hati sih? ๐Ÿ˜†

Setelah beres kuliah dan tetek bengeknya, tahun 2010-an, saya kembali nulis-nulis geje di komputer dan blog, baca buku ini-itu, santai banget lah.

Kalo kata Virginia Woolf, “Writing is like sex. First you do it for love, then you do it for your friends, and then you do it for money“, mungkin di tahun itu saya lagi masuk tahapan kedua.

Akhirnya pada 2011, saya memutuskan untuk serius menulis. Di awal 2012, saya keluar dari kerja dan memberanikan diri menerima pekerjaan pertama sebagai editor lepas.

Dengan gagah berani saya bilang pada Mama saya, saya mau jadi penulis, tapi pertama-tama merintis karir jadi editor dulu. Mungkin Mama saya mengira saya lagi setres atau putus asa dan hilang harapan ya, jadilah dia dengan nada membujuk bilang, “Mau S2, enggak? Mama traktir deeh…”

Waktu saya tanya, kalo duitnya aja gimana, Mama saya pun melengos pergi… xD

Saat saya mulai menulis lagi, Twitter dan komunitas menulis mulai marak dan banyak bakat yang dijaring dari sana. Saya melihat banyak buku antologi dan kumcer mulai dibuat, lalu dari situ beralih jadi novel utuh.

Mulanya sih santai-santai aja ya, karena dari awal belajar nulis saya keburu terdoktrin kalau nulis itu ya nulis. Sendirian, bersenjatakan ide dan niat, mengalahkan kemalasan diri, mengetik sampai tamat, dicetak di atas kertas, lalu kirim ke penerbit, menunggu giliran dibaca editor selama setidaknya 6 bulan sementara saya tasbihan dan puasa Senen-Kamis di rumah, sambil berdoa may the odds be in my favor.

Ada masa di mana saya mirip arca batu yang kagok dengan dunia penerbitan yang ternyata sangat dinamis, cepat sekali berubah. Saya merasa tua dan kuno. Like I didn’t belong here.

Mulanya saya tabahkan diri,ย lama-lama enggak tahan juga, loh. Hati ini terasa menjerit.

Apalagi kadang kalo ngeliat ada orang yang Twitter dan blognya memang bagus, trus ada editor-editor dari penerbit yang mention mereka (saya baca karena saya kadang suka iseng buka Twitter-nya editor dari berbagai penerbit, mwahahaha, iya deh saya ngakuuu).

Itย strokedย me real hard.

No editor will mention me and ask these kind of questions:

“Kamu punya naskah? Bisa kirim ke emailku engga?”

“Aku tunggu novel kamu loh,”

“Blog kamu bagus, kita bisa ngobrol enggak?”

“Tulisan di twit kamu bagus, kamu punya bakat, sini aku bimbing.”

You have talent, care to join us in a writing project? I will DM you for details.”

Hiks.

Rasanya ingin teriak, “I can write too! You should see my laptop, there’s almost 4.653 unfinished drafts in it. Please, let me write for you guys, kumcer, omnibus, novel, outline, anything! I promise I won’t be picky. All I want in this life is to be a published writer. Please, please, plea… Guys? Where are you? Guuuyyys???

Cep, cep, cep. Memelas bener sih, Mbak… =))))

Tapi perasaan itu secepat datangnya, cepat pula perginya.ย Saya sadar itu bukanlah jalan Ninja saya.

Saya enggak ikutan komunitas menulis apa pun.

Enggak ada yang tertarik sama blog saya karena isinya cuma cerita sehari-hari yang remeh-temeh.

Dan Twitter saya, aduuh jangan dibahas deh itu mah, tahu diri saya juga. Nulis cerpen aja enggak bisa apalagi nulis yang indah-indah dalam seratusan kata…. ๐Ÿ˜›

Saya hanya bisa menghibur diri.

Dalam pikiran saya, ya udahlah enggak apa-apa. Itu tandanya satu-satunya orang yang bisa menyelamatkanmu hanya dirimu sendiri. ย Lagipula menulis itu personal kok. Mau ada satu orang ditongkrongin 50 editor dari Penguin atau Little, Brown, tiap hari dikipasin, dipijitin, disuapin anggur macam raja minyak, kalau emang enggak nulis mah ya enggak akan terbit buku. Kalau mereka punya buku ya karena mereka nulis.

Maka, sementara keriaan terus terjadi di luar sana, saya menyingkir ke dalam gua yang gelap dan lembap, terisak diam-diam di dalam gua, mendayung perahu menggunakan tangan, mencari ikan sambil ngomong sama diri sendiri.

And we wept precious, we wept to be so aloneeeGollum, gollum

(enggak gitu juga sih, dramatisasi doaaang. biasanya kalo perasaan putus asa macam itu muncul, ngajak H jalan-jalan atau maraton CSI, Criminal Minds, The West Wing sampe mabok.)

Ada masa-masa di mana saya gateeeel pengen bilang ke temen dekat saya yang kebetulan penulis, “Eh kenalin dong sama editormu, aku juga mau dong nulis.”

But I think I’ve cling to my dream for too long, rasanya kok saya enggak sanggup kalau suatu hari saya nerbitin buku trus ada yang tahu dan bilang, “Oooh, pantes aja bukunya terbit. Enak sih ya temennya penulis, jadi gampang ada orang dalem.”

Padahal sih ya sebenernya enggak apa-apa juga, cuma saya aja yang kebanyakan mikir. Repot ya idup saya ๐Ÿ˜†

Lalu, keajaiban itu tiba. Pada tanggal 5 September 2012, Gramedia Pustaka Utama mengumumkan lomba penulisan novel Amore.

Saat itu, saya sedang menulis naskah lain tapi lalu saya hentikan demi konsentrasi pada lomba ini.

Begini, saya sudah khatam membaca postingan orang soal betapa pentingnya lomba menulis, apalagi untuk debutante (halah, ngaku2) macam saya.

Kenapa?

Satu, karena prosesnya lebih cepat. Kalau naskah lewat jalur reguler, kita harus nunggu antri di meja editor berbulan-bulan. Sementara kalau lomba, seluruh sumber daya penerbit akan dikerahkan untuk memastikan seluruh naskah tersaring dalam waktu tertentu sehingga jadi jauh lebih cepat. Terbukti, untuk lomba Amore ini, dari deadline 1 Desember sampai pengumuman peserta yang naskahnya akan terbit pada 1 April, hanya berjarak 4 bulan.

Kedua, it will help you to steal the thunder. Orang lebih gampang ngenalin, “Itu loooh, yang finalis lomba anuuu…”

Karena itu, kalo denger soal ada penerbit yang bikin lomba, kalau emang udah niat ikutan langsung aja capcus. Jangan santai di awal, trus di akhir teriak-teriak minta perpanjang deadline. Atau kalau ada pengumuman pemenang malah nanya, “Ini kapan diadain Min, kok aku enggak tahu?” Pokoknya semedi, semangat, kerjakan dan fokus. ๐Ÿ˜€

Saya sendiri butuh sekitar 3 minggu buat nulis naskah lomba yang bakalan dikirim, didiemin, beresin sana-sini, tanggal 29 Oktober 2012 (soalnya struk dari kantor pos masih disimpen).

Biarpun ngakunya suka nulis, baru kali itu saya beneran nulis satu naskah novel yang beres, hahahaha. Gimana sih…. Kalo kata Mama saya, mental saya yang begini ini mirip pasta gigi, kudu diteken dulu biar keluar isinya. Itulah kenapa aku cinta sekali pada deadline :mrgreen:

Jadi bagaimana perasaannya menulis novel?

Lelah sekali saudara-saudaraaaa…. Yang paling parah itu, saya enggak tahu apakah novel ini layak baca atau enggak. Mungkin saking ketemu tiap hari ya, udah kebal rasanya.

Kalau saya udah mulai mati rasa, hilang mood, dan males nulis, sebagai penawar saya biasanya buka satu halaman web yang memang sudah saya simpan sebelumnya :

0

2 3

Biarpun cuma 12 orang yang bilang kalau tulisan saya layak baca, saya langsung semangat lagi.

Jadi di web-nya penerbit GagasMedia, ada yang namanya rubrik 1st Chapter. Orang bisa mengirimkan bab pertama/prolog dari novel mereka untuk diposting di sana. Ada juga yang mengirimkan cerpen. Kalau ngirim cerpen malah lebih asyik lagi, nanti dapet paket buku.

Nah tahun 2010, saya mengirimkan salah satu tulisan saya yang masih kasar ke sana. Menurutku, rubrik-rubrik semacam itu bagus banget loh. Karena yang baca orang asing,ย nothing to lose kan?

Mereka enggak kenal saya, enggak bakal saya apa-apain kalau mereka ngomong tulisan saya jelek dan enggak punya kepentingan apa-apa buat bilang tulisan saya layak baca. Kalau saya minta pendapat teman lalu mereka bilang tulisan saya bagus, ada kemungkinan saya mikir kalau mereka bilang gitu karena kasihan, atau biar saya mingkem dan enggak nanya-nanya lagi x)))

Tapi saya juga lupa sih pernah ngirim tulisan itu, baru belasan bulan kemudian jalan-jalan ke sana lagi dan sadar ternyata ada yang komentar yang membuatku optimis dan menghangatkan hati. Pokoknya, di masa saya nulis si Mahogany Hills, rasa kesepian dan rendah diri bisa sedikit terobati dengan membaca komentar-komentar tsb. Sekarang, rasanya pengin kudatangi 12 orang itu satu-satu lalu kuberikan pelukan beruang.

Aduuuh, padahal cuma 4 bulan yang lalu tapi rasanya semuanya masih kerasa. Suami saya juga kena getah dan kena batunya karena selama 3 minggu itu dia heran ngeliat saya berkali-kali baru tidur abis subuh, walhasil pas dia berangkat ke kantor saya masih ngimpi di kasur. Untung doi bageur dan enggak pernah protes. Aku rabu padamu lah, pokoknya.

Setelah pengumuman semua naskah yang lolos Amore, tanggal 2 April ada DM di Twitter saya dari mbak Hetih yang memastikan kehadiran saya di Gathering GPU. Langsung terjadi aku-kudu-piye-tuips moment. Dalam hati saya berkata, “Oh Tuhan, beginikah rasanya di DM editor?” =))))

Tanggal 3 ada telepon dari mbak Michelle, tapi enggak keangkat. Baru tanggal 4 keangkat, ternyata prasyarat yang sebelumnya saya kirim masih ada yang kurang yaitu… naskahnya.

Mbak Michelle udah sampe geli banget pas ngomong, “Yaa, ini kan udah mau diedit.”

Sempet kepikiran sih, “Ih kirain bakal lama antri editnya, soalnya kan masih ada 10 finalis lainnya.” Waktu saya kirimkan naskahnya, mbak Michelle juga minta kepastian soal kedatangan saya ke Gathering GPU. Dan saya juga memastikan untuk datang karena, deket cuma Bogor-Jakarta doang. (Di Gathering GPU, ternyata banyak yang dari luar kota, rekor terjauh dari Pangkal Pinang, Kepri. Keren amat ya ๐Ÿ˜€ )

Pagi-pagi di Gathering GPU, saya ketemu mbak Vera, mbak Hetih dan mbak Michelle.

Mereka ganti-gantian bilang,

“Kamu yang finalis Amore?” Ini mbak Vera.

“Yang bikin LPM soal Agustinus Wibowo kan? Bagus loh tulisanmu.” Ini mbak Hetih.

“Yang menang lomba repro cover juga kan?” Ini mbak Mich.

Aku udah gugup dan grogi dan tangan dingin semua, hanya bisa bilang, “Iya, mbak, iya mbak, iya.” ๐Ÿ˜†

Pembicaraan yang up close dan personal lalu terjadi sama mbak Hetih yang nanya preferensi bacaan saya. Mulanya dia keder karena buku yang saya baca jauh banget dari genre roman, sampai akhirnya saya bilang saya juga hobi melahap buku ini dan itu dari pengarang ini dan itu.

Mbak Hetih pun bilang kalau dia udah punya perasaan soal pengarang kesukaan saya, karena di karya saya sedikit teraba “debu-debu”nya.

Abis itu sama mbak Hetih dibilang, “Kita udah tahu sih kamu editor, makanya enggak heran kalau tulisan kamu rapi dan bersih. Tapi cerita kamu juga utuh dan bulat. Kamu belajar dari penulis-penulis yang tepat…”

…….

Abis itu saya cuma samar-samar dengerin omongan mbak Hetih. Enggak tahu deh rasanya pengen terbang atau pengen pingsan. Mimpi pun aku tak berani ada yang bilang begitu, let alone editor berpengalaman macam mbak Hetih.

Saat itu rasanya legaaaa banget, dari awal yang emang enggak peduli bakal menang atau enggak (soalnya ada kepastian terbit, itu yang penting), jadi makin enggak peduli lagi.

Tapi ternyata jam 2 siang diumumkan dan waktu nama saya dipanggil, dengan bingungnya saya ikutan tepuk tangan. Dari bangku saya, saya bisa ngeliat mbak Michelle manjang-manjangin leher, mungkin bingung kenapa saya enggak maju. Waktu akhirnya saya dadah-dadah, langsung dipanggil di suruh maju.

Abis itu ketemu mas Ijul dan mbak Raya. Mereka ngomong sesuatu yang bikin saya bahagia sekali, enggak usah diulang lagi di sini ah, nanti kalo kepala saya kegedean, susah dipakein topi :mrgreen:

Perasaan saya hari itu campur aduk deh, pokoknya luar biasa, tak terkatakan, speechless….

Akhirul kalam, izinkan saya berbagi satu puisi dan satu kutipan yang kira-kira merangkum postingan super panjang ini:

“The future belongs to those who believe

in the beauty of theirย dreams.”

Eleanorย Roosevelt

I shall be telling this with a sigh

Somewhere ages and ages hence:

Two roads diverged in a wood, and I–

I took the one less traveled by,

And that has made all the difference.

The Road Not Taken – Robert Frost

Advertisements

25 thoughts on “It’s Happening!

  1. Sekali lagi, selamaaaatttttt! Dan saya mau beli buku yang bertandatangan dan bercap jempol *teteeeepp* ๐Ÿ˜†
    itu buku-buku dan lampu temploknya boleh saya culik? :mrgreen:

  2. Congrats Tia! Will definitely buy the book soon after it hit the book store ๐Ÿ™‚
    Keep writing yahhh

    • Yes, you always knew! I still remember how you encourage me in Y!M back in 2010 and it means a whole world!

      Makasih banyak ya, seriously, your kind words was one, among other, that keeps me going and never give up on writing. ๐Ÿ™‚

  3. aa…aku jadi ikut terharuuu *pelukan beruang* :’)

    mbak, kalo udah terbit, saya mau beli buku yang ditandatangani dan pake cap bibir ya :)) *ndusel di belakang mbak desti*

  4. lhoo.. ternyata juara 1!!!
    Ih kamu lagi hebring dan hip banget mbak. Menang lomba berhadiah sepaket buku dan akhirnya nerbitin buku. Kyaaa…
    Aku nggak bisa bilang aku nggak iri sih. huahahahahaha…

    Celumuth yaaa… happy for youuu ๐Ÿ™‚

    • lol, iya ya, kalau ditulis gitu kok kayaknya enyaak yah, berurutan. berkah emang kalo dateng suka ngajak temen2nya xD

      makasih yaaa, Opaaat, semoga berhasil juga dengan teenlitnya… ๐Ÿ˜‰

  5. Mba Tia, selamaaaat! Dengan akan terbitnya buku pertamamu, aku juga mau ikutan nerbitin buku ah ๐Ÿ˜› Anyway, kapan mau ngadain meet and greet? Aku kan mau dapet buku bertandatangan dan berpesan-pesan unyu xD

    • ayo doonk nerbitin bukuuu, aku mau bacaaa ๐Ÿ™‚

      ih, enggak usah meet and greet. kayaknya sejak aku tinggal di Bogor enggak pernah ketemu yaaa biarpu aku ke Jakarta kamu ke Bogor ๐Ÿ˜†

      • Aku nerbitin buku? Isinya pasti bakal absurd dan berupa potongan-potongan yang ga utuh, semacam hati yang berceceran akibat keseringan patah *eh curhat*

        Yuk lah kapan kita ketemu. Aku kan mau dapet tips & trik jadi penulis metropop, ihiy :3

  6. Aaaaaaa……. Selamat yaaaa! Selamat! Selamat! Aku ikut senang (pake banget) bacanya. Aku juga mau dong bukunya kalau udah terbit ya. Pake tanda tangan juga dan ditempel foto mbak tia! Oke? Oke deh, Kim… Btw, aku mau dong diajarin nulis. Mau ya ngajarin aku? *puppy eyes*

    • Aduuuh, belajar bareng aja yuuuk, aku juga ya cuma begitu-begitu aja sih, tau sendiri gimana.
      Lagian kamu nulisnya udah bagus kali, Kim, napasnya udah panjang, kalo cerita soal urusan parkir aja aku bacanya ampe tuntas kok..
      Tinggal dibelokkin jadi fiksi aja. Asal kalo nulis novel jangan mendadak ada “penggemar” nya ya Kim di tengah cerita ๐Ÿ˜†

  7. Selamat ya mbaaakkk,,, *big hugs*
    aku juga mau dong kalo bukunya udah terbit terus ditanda tanganin & ditempelin fotonya mbak Tia (sama kayak Kimi) ๐Ÿ˜€

  8. mbak tia, masih inget ga sama aku? *halah kayak udah pernah ketemuan aja. hehehe
    baru blogwalking lagi ke semua blog yang ada di blogroll. dan ternyataaaaa aaaaaa mbak tia yang menang lomba penulisan novel ini ya?? selamaaaaaattt!! *tabur konfeti*

    sekali lagi, selamat ya, mba ๐Ÿ™‚

  9. gak sengaja blogwalking kesini dan nemu postingan ini>
    Wuaaahhhh selamat ya mbak :D. Saya juga ikutan lomba novel amore ini tapi gak menang hihi. udah pasrah sih soalnya waktu itu saya nulis kayaknya genrenya lebih ke teelit.
    Baca keseluruhan postingan ini bikin saya teriak dalam hati’ wuaaa it’s so me!’ terutama juga bagian pas saya bilang ke mama pengen jadi penulis. Mudah-mudahan nanti saya bisa seberuntung mbak, ada novel saya yang diterbitkan hehe. Salam kenal ya mbak, nggak sabar pengen baca novelnya ๐Ÿ™‚

    • Salam kenal Miaaa… ๐Ÿ˜€
      Kalo enggak kirimkan aja lagi lewat jalur reguler sebagai teenlit.

      Mudah-mudahan nanti saya bisa seberuntung mbak, ada novel saya yang diterbitkan hehe. Salam kenal ya mbak, nggak sabar pengen baca novelnya

      Amiiiin… Semoga nanti kalo novel Mia terbit, kita sama-sama liat ke komen ini sambil nostalgia ya, hehehe. Ayo semangat Mia, kamu bisa! ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: