Adieu Google Reader

When in doubt, open Google Reader

Kalimat di atas sudah jadi mantra saya selama beberapa tahun belakangan ini… Kalo lagi kerja tapi bosen sama Word, dan males sama Twitter, saya selalu buka Google Reader. Kalo jarang buka komputer/internet, Google Reader juga jadi andalan buat menjaga jejak blog dan website yang saya ikuti. Memang sih, WordPress punya fitur buat following tapi berhubung blog yang saya ikuti lintas platform, mulai dari WordPress, Blogspot, Tumblr, dan berbagai website lain, jadi saya pengennya sekali tebas, lima bambu kepotong.

Blog yang saya ikuti biasanya blog pribadi yang random talk. Dari mulai pemikiran soal pendidikan yang bikin takjub di negara Skandinavia, ternyata ada orang yang saldo tabungannya  ampe 2 M (pasti adalah ya, enggak semua orang tabungannya empot2an kayak saya 😆 ) sampe  pusingnya ngurus KPR, juga soal buku, buku (lagi) dan film.

Saya enggak subscribe website berita atau website teknologi macam Mashable, HuffPost, LifeHacker, atau Time karena males sama bacaan yang numpuk, takutnya malah bikin males. Lagipula pedoman saya, kalo berita itu cukup penting dan  menarik, dengan mengandalkan following saya di Twitter, pasti bakal nyampe ke telinga saya.  😉

Misalnya, soal Groupon yang harus diselamatkan dari keserakahannya sendiri. Yang begini-begini saya mengandalkan dari RT-an di Twitter :p

Jadi intinya, saya sukaaaa Google Reader karena dia udah ngebantu saya ngebaca berbagai postingan. Menambah pengalaman saya meskipun saya enggak pernah ngalamin langsung.

Seperti kata om George :

dapet dari tumblr

dapet dari tumblr

Tanggal 14 kemarin kiamat kecil terjadi pada pengguna Google Reader karena pas membuka laman Reader, terbacalah pengumuman kalau mulai tanggal 1 Juli 2013, GR sudah enggak bisa dipakai. Saya buru-buru cari info dan nemu blog resmi Google Reader, dengan postingan selamat tinggal yang kala itu baru berumur 7 jam:

We know Reader has a devoted following who will be very sad to see it go. We’re sad too.

There are two simple reasons for this: usage of Google Reader has declined, and as a company we’re pouring all of our energy into fewer products. We think that kind of focus will make for a better user experience.
To ensure a smooth transition, we’re providing a three-month sunset period so you have sufficient time to find an alternative feed-reading solution.  If you want to retain your Reader data, including subscriptions, you can do so through Google Takeout.
Thank you again for using Reader as your RSS platform.
Ah. It’s a good bye, then
Bersamaan dengan itu, terdengarlah jeritan pilu “NOOOOO!” yang menyayat hati dan menusuk telinga dari pengguna Google Reader seluruh dunia.
Hiks.
Tapi apa mau dikata. Colokan sudah dicabut. Perangkat penyokong hidup sudah dibereskan. Tirai sudah ditutup. Sertifikat kematian sudah ditandatangani. Tanggal sudah ditetapkan. Rengekan dan tangisan tidak akan menghidupkan Google Reader kita kembali.
Jadi pagi, saya, beserta satu teman Twitter (yang jelas-jelas pengguna Google Reader. Mungkin yang lain ada tapi anteng2 aja enggak kaya kami yang suheri alias suka heboh sendiri, hehehe) kedubrukan nyari pengganti Google Reader. Meskipun ada sunset policy 3 bulan, saya sih enggak mau terlalu ngandelin. Lebih cepat lebih baik. Yang punya kontrakan udah ngusir, masak masih bebal bertahan. Cari kontrakan baru dong.
Maka, pagi itu mesin pencari Google membludak dengan keyword semacam ‘Google Reader alternatives’, ‘pengganti Google Reader’, atau kata pencarian sejenis dari berbagai bahasa. Dan saya salah satu orang yang bergabung dalam keriaan tersebut.. 😆
Mulanya saya mencoba NetVibes. Setelah daftar dan masuk, saya tertegun…. karena…. enggak ngertiiii. =))))
Terbiasa sama Google Reader yang sederhana, ringan dan enggak kebanyakan kolom, saya langsung mengalami gegar budaya di NetVibes yang rasanya terlalu ‘penuh’ dan canggih.
Saya pun beralih ke alternatif kedua, feedly. Tapi pagi itu, saya enggak bisa masuk feedly. Yang tampak cuma halaman putih dengan tampilan error.
Teori teman saya masuk akal… Para eksil dari Google Reader yang mencari rumah baru mungkin membuat feedly kelebihan muatan x)))
Akhirnya saya tinggalkan feedly dan melanjutkan hidup.
Malamnya, saya coba lagi dan bisa!
Yang paling asyik dari feedly, kita enggak perlu repot buat mendapatkan kembali subscription kita yang sudah susah payah kita kumpulkan di Google Reader. Enggak pake download and export, cukup memasukkan email yang kita pake buat Google Reader, otomasis tersinkronisasi. Tampilannya pun ringan dan user friendly. Setting dari Google Reader juga enggak banyak berubah. Paling saya hanya perlu mengubah view jadi full article karena suka baca artikel langsung dari Reader tanpa pergi ke halaman bersangkutan
feedly
Jadi, tanpa perlu banyak adaptasi, sekarang saya udah lumayan lancar make feedly. Yesss, ihiiy!
Tampang saya malam itu di hadapan laptop :
Fiuhhh.
Daan, for -obviously- sentimental reasons, halaman Google Reader juga saya capture. Terima kasih, Reader… Semoga kau bahagia di surga piranti lunak bersama Picnik, Buzz, Wave dan layanan-layanan Google lain yang udah dihentikan.
Tapi kalo memang tidak ada yang namanya surga piranti lunak…, setidaknya kau tahu ke halaman Wiki mana dirimu akan menuju.
You’ll always be remembered.
Google Reader

good ‘ol Google Reader

Gone too soon. 7 Oktober 2005 - 1 Juli 2013.

Gone too soon. 7 Oktober 2005 – 1 Juli 2013.

PS. Peribahasa one man’s trash is another man’s treasure berlaku banget buat kejadian ini, pengguna feedly bertambah sampe 500 ribu menjelang berakhirnya era Google Reader. :mrgreen:

Advertisements

9 thoughts on “Adieu Google Reader

  1. enak kan feedly 🙂
    aku kemarin utak atik sampe seharian, tampilannya menarik dan warnanya cerah..
    inilah kenapa pas google reader mutusin hubungan, aku gak akan galau2.. krn bakal ada persaingan dr para rss feeder utk menampung limpahan pengguna google reader.. 🙂

    • Betuuul. itulah enaknya persaingan (as opposed to monopoly).
      Penyedia layanan berlomba-lomba ngasih yang paling asyik dan yang terbaik, yang diuntungkan ya pengguna. Dan pasti selalu ada alternatifnya… 😀

      Atau kalo kata Beyonce, so don’t you ever for a second get to thinkin’ you’re irreplaceable *halah, kok galak*… xD

  2. saya termasuk salah satu yang heboh waktu tau Google Reader mau dimatikan. PEDIIIHHHH. :(( Google Reader itu udah kayak infotainmen deh, yang bisa kita pilih-pilih sendiri mau tau kehidupannya siapa aja. :p

    aku juga udah nyobain beberapa alternatif, dan sejauh ini baru sreg sama Feedly aja. yang lain malah marai mumet.
    salam kenal, sering denger mba tia dari Opat dan Rise. 😀

    • oohh, haaai, uthiee, salam kenaal… *bow*
      ya ampun,. jadi kanal infotainment nih? istilahmu nyentrik amat, hehehe.
      jadi gimana, sudah berniat memilih untuk mengetahui kedidupanku belum? 😆

      iya kaan, feedly yang paling mendekati Reader, walaupun masih gagu juga sih makenya, tapi dibanding NetVibes mah jauhhh (baru itu doang yang dicoba selain feedly), jadi sepertinya aku sudah menemukan tambatan hati :mrgreen:

  3. makin membuktikan bahwa hampir segala hal di dunia tergantikan 😀
    Saya sudah lama ga buka reader dan hanya lompat-lompat ke satu per satu blog. Enak juga. Tapi tetap butuh mesin pengarsip daftar bacaan. Terimakasih infonya neng!

    • Yoiihh, hanya Kahitna yang takkan terganti 😆

      Sama-sama, Uniii… Saya juga kalo pengen jadi wanderer mah lompat2 juga kok, tapi minimal kalo lagi pengen one-stop ada pegangan :mrgreen:

  4. Aku sedih banget pas tahu Google Reader bakal mati. Saking sedihnya untuk bikin tulisan perpisahan saja tidak sanggup… *tsaaah*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: