The Awesomeness of Agustinus Wibowo

Mulanya saya baca selintasan di linimasa Twitter soal talkshow buku baru mas Agustinus Wibowo, Titik Nol. Tapi enggak pernah benar-benar saya perhatikan karena keadaan rumah yang masih kacau dan menyebalkan, bikin saya malas pergi ke mana-mana. Jangankan menempuh satu jam perjalanan ke Depok, sepanjang tahun ini, nonton bioskop lagi pun saya ogah-ogahan.

Tapi kemudian beberapa hari kemudian, sepulang dari kantor H mendadak bahas soal talkshow itu dan ngajakin ikut. “Yuk, sekalian kita beli bukunya.”

Oke, pengakuan dosa. Sebenernya saya belum pernah baca satu pun buku milik Agustinus Wibowo. Waktu Selimut Debu lagi rame, saya mundur teratur karena setting dan konflik-konflik di buku yang (saat itu) bagi saya enggak akan tega kalo saya baca (kalo sekarang sih kayaknya udah sanggup ya, kalo nonton Dexter ama TWD aja bisa kok).
H sebenarnya punya Garis Batas tapi entah kenapa saya juga belum kunjung baca. Satu-satunya tulisan Agustinus Wibowo yang saya baca adalah… (hirup napas) note Facebook beliau. Sekalinya itu saja. Itu pun karena saya ngeliat H baca di ponselnya dan saya ikutan baca. Inget banget, ceritanya soal waktu itu Agustinus Wibowo yang sedang menginap di rumah keluarga (kalau enggak salah di Nepal), dan ketika ada barang Agustinus Wibowo yang hilang, keluarga itu (yang berasal dari suku yang sangat menghormati tamu) merasa sangat malu dan hampir menangis meminta maaf sama mas Agustinus Wibowo.

Baru sekali itu saya merasa tertohok, tertegun dan terenyuh sekaligus hanya karena sebuah catatan di Facebook.

Jadi walaupun secara resmi saya bukan pembaca Agustinus Wibowo, dibandingkan H saya yang lebih semangat. Makin dekat ke hari Minggu, ada kali sehari lima kali saya tanya ke H, “Bener ya kita hari Minggu ke Depok, jangan sampe mendadak ada rapat nih!”

Hari Minggu, saya sudah sampai ke Depok Town Square jam 1 siang, tempat berlangsungnya talkshow. Di parkiran, saya udah ketemu sama para gadis-gadis manis belia dengan kaus hitam dengan tulisan yang familiar, “baca itu seru”. Dan waktu masuk ke TM bookstore, sudah ada standing banner milik GRI (Goodreads Indonesia) :mrgreen:

Image

Waktu saya datang, kursi sudah tertata rapi tapi masih lengang banget. Cuma ada 3 orang perempuan muda yang bergerombol dan satu orang pemuda yang duduk sendirian (ternyata kemudian diketahui kalau pemuda ini datang dari Bekasi. Bekasi, loh!)

Ada yang membingungkan pas awal-awal. Di TM Bookstore, kalo udah beli buku, enggak boleh di bawa masuk. Lah, terus? Aneh banget sih, emangnya enggak bisa ya dikasih liat struknya aja sebagai tanda pembelian? xD
Mulanya yang di konter pengambilan buku keukeuh kalau buku enggak boleh masuk. Terus saya bilang sama salah satu Mbak yang kelihatannya dari GPU, cerita soal kebijakan TM Bookstore. Pas kedua kalinya saya minta ambil di konter, ternyata udah dibolehin, tapi diwanti-wanti buat nunjukkin struk kalau mau keluar. Naaah, gitu dooong. Kalo di konter mulu ya gimana bisa minta tandatangan kalo nanti ada sesinya? :p

Image

Ketika acara dimulai saya masih potret sana-sini sambil bisik-bisik sama H. Namanya juga acara yang berurusan ama buku, dan saya orangnya suka main-main di GRI dan iseng baca-baca informasi buku, jadi punya banyak bahan buat di poto dan di bahas.

Image

“Eh, itu kayaknya penerjemah Tokyo Zodiac Murder.”
“Eh, itu kayaknya moderator GRI.”
“Eh, itu kayaknya editor Gagas.”

Image

πŸ˜†
Ga penting banget ya. Membunuh waktu aja sih, soalnya acara belum mulai dan saya udah laper banget.

Image

Lalu acara talkshow di mulai, dan saya cuma foto-foto dikit banget, ngobrol ama H juga cuma sedapetnya. Apa pasal? KARENA ACARA TALKSHOWNYA KEREN BANGET!

Image

Sepanjang acara, mungkin bola mata saya saya udah kering saking enggak kedip dan gigi juga sama keringnya karena cengengesan mulu.

Pertanyaan-pertanyaan dari mbak Uci yang ngena (kelihatan mbak Uci tahu persis apa yang mau diomongin), hangat dan tak berjarak (dengan manggil Agustinus Wibowo pake nama Gus Weng, nama panggilan akabnya. Nah, abis ini biarpun saya enggak akrab ama beliau, saya juga mau panggil Gus Weng, ah!), juga lucu (“Udah, tenang aja, talkshownya bakal berlangsung selama 6 jam kok”, kata mbak Uci, dan meskipun bercanda, ini dikatakan dengan wajah datar. Priceless liat orang pada bengong xD).

Gus Weng menunjukkan kelasnya saat menjawab pertanyaan mbak Uci dan pertanyaan para penonton (eh apa sih bahasanya, peserta apa penonton?).

Tidak ada pertanyaan yang dijawab dengan berbelit atau bertele-tele. Tidak ada pertanyaan yang dijawab dengan jawaban aman, semuanya lugas dan apa adanya. Suara Gus Weng stabil dan jelas. Perkataannya runut, terstruktur dan mudah dipahami. Enggak ada sekalipun terasa ada menyombongkan diri. Untuk seseorang yang tinggal bertahun-tahun di Afghanistan, bertahan hidup mengelilingi separuh dunia hanya dengan 20 juta selama 19 bulan, Gus Weng tentu punya cukup kualitas yang bisa disombongkan. Tapi Gus Weng sangat down to earth dan ramah. Tidak ada pertanyaan yang terlalu sepele buat Gus Weng, semuanya dijawab dengan sangat memuaskan.

IMG_9480

Oiya, waktu sesi tanya jawab ada yang menarik; Gus Weng sebisa mungkin mengingat nama penanyanya.
Jadi kurang lebih, kalau menjawab, Gus Weng memulai dengan, “Oke Tia, makasih ya. Jadi kalau waktu itu saya pernah bla bla bla.”
Itu adalah gestur simple yang mungkin luput dari perhatian tapi luar biasa bagi saya. Pengingat saya bahwa pria berwajah imut yang ada di depan saya dengan wawasan luas ini punya kemampuan luar biasa untuk menghormati orang lain.

Untuk catatan mengenai talkshow Titik Nol yang lebih jelas dan detil bisa dilihat di sini :
http://www.goodreads.com/topic/show/1217004-klub-buku-2-titik-nol-makna-sebuah-perjalanan

Kalau buat saya, ada dua isu yang paling menarik adalah :

1. Eksotisme tujuan perjalanan.
Ini bukan transkripsi asli yang dikatakan Gus Weng, tapi kira-kira begini ceritanya, “Orang jaman sekarang yang ke Turki bilang, kalau Turki sekarang sudah rusak. Beda sama keadaan Turki 50 tahun yang lalu. Tapi saya pernah baca buku yang ditulis 100 tahun yang lalu, dan penulisnya mengeluh kalau Turki 100 tahun yang lalu sudah berbeda jauh dengan Turki 100 tahun sebelumnya. Sementara 50 tahun lagi, orang-orang pasti akan iri pada kita yang hidup pada masa kini. Jadi bagi saya, perubahan itu normal dan tak terelakkan. Tidak mungkin kita berharap daerah tujuan kita selalu tetap sama. Sebenarnya yang paling indah adalah ekspektasi. Saat tidak ada ekspektasi apa pun yang kita temui jadi menyenangkan.”

2. Pengaruh travel writer pada tujuan wisata.
Ketika ada yang bertanya apakah travel writer punya andil dengan rusaknya tujuan wisata,Gus Weng mengatakan bahwa kurang lebihnya iya. Travel writer blogger punya tanggung jawab bukan hanya pada tempat tujuan tapi juga pada orang-orangnya. Sebagai contoh, di sebuah tempat yang indah di daerah Wagah (ini kalau enggak salah, ya) penduduknya sangat ramah. Mereka sangat menghormati tamu, membuka pintu rumah mereka lebar-lebar. Mereka sangat miskin namun mereka menjamu tamu sebisa-bisanya, karena bagi mereka itu adalah cara mereka beribadah, dan tamu adalah rejeki dari Tuhan untuk mereka. Pada tahun 2007, sebuah NGO yang merasa perlu mengangkat penduduk desa dari kemiskinan lalu memberikan pelatihan untuk membuka losmen, melihat banyaknya pelancong yang datang. Mereka melatih penduduk desa, mengadakan festival sehingga makin banyak wisatawan yang datang, dengan begitu keadaan ekonomi penduduk bisa terbantu.
Tahun 2009, ketika Gus Weng kembali ke desa itu dan mengetuk salah satu pintu rumah penduduk, yang didapat Gus Weng bukanlah “Assalamamualaikum,” seperti biasanya. Sang pemilik rumah tanpa basa basi langsung berkata, “Twenty five dollar. One night.” Dalam bahasa Inggris!
Jadi cukup 2 tahun saja, betapa turisme dan ekonomi bisa mempengaruhi suatu daerah.

Seingat saya, sampai kagumnya, saya sampai bilang ke H, “Gila ya Gus Weng, kelihatan banget cerdasnya.”

Menurut H, yang juga ikut talkshow di salah satu kafe di Bogor waktu peluncuran Garis Batas, Gus Weng emang begitu. Cerdas, maksudnya, secara intelektual maupun komunikasi. “Dia di Beijingnya juga di perguruan tinggi bonafid.”

Baru kali ini loh saya dateng ke talkshow dan merasa sangat terinspirasi sama narasumbernya, baru kali ini saya datang ke talkshow buku dan penulis yang bahkan bukunya belum saya baca, tapi sanggup bikin saya “melihat ke dalam”.

Bukan, saya enggak berniat packing ransel lalu pergi ke Nepal. Atau bikin buku catatan perjalanan.

Agustinus Wibowo mengingatkan saya betapa jadi manusia baik itu harusnya enggak sesulit itu. Jaman sekarang, mudah sekali mendapati orang humblebrag (saya apalagi, sering banget lah), mengecilkan peran orang lain, enggak berkata dengan pelan dan lembut, tidak peka hati sama keadaan sekitar…

Mungkin Agustinus Wibowo mendapatkan wisdom-nya dari perjalananan beliau yang luar biasa. Karena itu semoga dengan membaca pengalaman beliau, hati saya juga ikutan melembut, amiiin.

Saya belum baca Titik Nol karena masih baca buku lain, tapi baru sekilas 2 halaman, dan tenggorokan rasanya tercekat. Mari beresin rumah dulu sampai hati tenang, beresin utang-utang kerjaan.

Setelah itu, siap-siap dengan turbulensi emosi selama membaca buku ini!

Image

Ngomong-ngomong, di setelah selesai acara, ada sesi tandatangan. Saya enggak sempat poto antriannya tapi panjaaang banget. Tapi meskipun panjang, he managed to wrote some notes. Mungkin emang standar di semua buku juga tulisannya begini, tapi… tapi… tetap saja aku terharuuuu…. Semoga tangannya Gus Weng enggak pegel yaaa… :pImage

Udah kayak kado perkawinan nih :mrgreen:

Terimakasih Gus Weng, terimakasih teman-teman GRI! Kalian semua luar biasa! *meninju udara sambil teriak di podium*

Advertisements

12 thoughts on “The Awesomeness of Agustinus Wibowo

  1. Aku pingin banget dateng, tapi godaan pulang ke rumah lebih besar. Aku juga sukaaa banget sama dia. Keren, pinter, dan ramah (dia rajin bales komen di twitter dan FB). Nggak berjarak dan nggak banyak koar-koar “ini gw lhoooo udah ke mana-manaaa.” Aku dulu rajin baca blognya dan juga catatan perjalanan dia di Kompas, seneng juga akhirnya jadi buku semua πŸ˜€ Catpernya humanis sekali dan banyak ngasih pengetahuan baru ketimbang sekedar tempat-tempat yang harus dikunjungi. *langsung pergi ke Nepal*

    • Keren, pinter, dan ramah (dia rajin bales komen di twitter dan FB). Nggak berjarak dan nggak banyak koar-koar β€œini gw lhoooo udah ke mana-manaaa.”

      My sentiments exactly!!!!

      Di sana banyak yang tadinya belum pernah denger soal beliau, cuma kebetulan lagi di toko buku sampe bergeming ikutan nonton talkshow juga sampe selesai.. πŸ˜€

  2. Makasih ya Tia, senang deh pada bertahan sampai talkshow selesai, kirain pada males denger saya ngomong hahaha. Gus Weng memang inspiratif πŸ™‚

  3. Aku pertama kali tahu tentang Gus Weng dari Kompas. Pas ada bukunya, Selimut Debu, aku langsung beli dan aku langsung jatuh cinta dengan beliau. Gila, tulisannya keren abis. Buku beliau yang berikutnya pun aku beli. Tapi, yang Titik Nol aku belum beli. Huahuahuahua… πŸ˜₯

    • beli Kiiim, siap-siap tersedu-sedu… kata yang udah pada baca sih dahsyat juga Titik Nol, melihat keluar sekaligus menatap ke dalam. tp aku lagi homesick banget, jadi rada mikir lagi baca itu, takut tambah kangen mamaku :mrgreen:

    • iya, sama masih belum terbiasa juga kok. makanya aku mah tetep pake nama ‘samaran’ doi kalo manggil. nama aslinya rada kebagusan πŸ˜† *digetok yang punya nama*

      kenapaaa? udah kayak mau ketemu bos baru nih yeee resaaah… xD

  4. buset, saya jadi penasaran
    asli blm pernah baca bukunya ‘beliau’
    makasih atas ‘racun’ informasi ini
    *bergegas ke togamas*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: