The Glimpse of A Star

The Glimpse of A Star dimaksudkan sebagai sarana rekreasi, ditulis secara impromptu tanpa melalui proses penyusunan plot maupun penyuntingan. Semua hal yang ditulis dalam cerita ini adalah fiktif dan sekedar imajinasi penulis.

Kecuali di bagian-bagian yang merupakan kisah nyata.

Nadia terlalu kaget sampai-sampai dia hanya bisa menatap kosong pada lubang kunci yang berada di kenop pintu. Anak kuncinya patah, setengahnya tertinggal di dalam lubang kunci.

Dengan tenggorokan yang penuh oleh emosi dan rasa kesal, Nadia bersandar pada pintu kamar sewanya lalu melorot dan duduk di keset kain. Nadia meletakkan tas kainnya yang berat di samping tubuhnya kemudian melipat kakinya yang kurus dan memeluk dirinya sendiri, berharap perasaan lapar yang membuat kepalanya berkunang-kunang bisa berkurang.

Sambil menghela napas panjang, Nadia meletakkan dahinya di lutut. Dia capek, lapar dan mengantuk. Selama seharian dia berjalan di bawah panasnya matahari Cikarang, keluar masuk angkot yang melewati jalanan panas yang berdebu, satu-satunya yang dia ingat hanya sebungkus mi instan di lemari kamar sewanya. Hanya itu saja. Nadia meneguhkan hati dan bertekad akan melewati satu hari lagi dengan tegar, dan akan menghadiahkan dirinya sendiri dengan semangkuk mi instan untuk makan malam.

Nadia menutup matanya.

Tapi kini dengan pintu kamar yang tidak bisa dibuka, dia tidak bisa melakukan apa-apa.  Tidak ada yang Nadia lakukan selain menunggu pagi dan berharap pengelola kamar sewa datang dan membereskan persoalan ini.

Perasan mual bergolak di pangkal tenggorokan Nadia, cairan asam-pahit mulai terasa di lidahnya. Tapi itu bukan masalah besar. Kelaparan bukan masalah besar dibandingkan terkunci di luar.

Nadia tinggal di kota ini sejak 3 minggu yang lalu dan dia sudah merasakan berbagai penolakan. Betapa banyak pintu yang tertutup untuknya, baik secara harafiah maupun kiasan. Kini, bahkan ruangan kecil murahan yang lembab dan muram yang selama ini dia tempati juga melakukan hal yang sama. Rasanya seperti babak belur menghadapi pertempuran yang memang tak bisa dimenangkan.

“Hei,” suara lelaki yang terdengar ragu membuat Nadia mengangkat kepalanya, menatap ke arah si penyapa.

Lelaki itu berdiri di depan pintu di kamar 308, persis di sebelah kamar Nadia. Dia mengenakan celana warna hitam dan jaket warna gelap, tangan kirinya menggenggam helm full face sementara tangan kanannya menjinjing kantung plastik bersablon nama sebuah toko serba ada 24 jam.

Apakah lelaki itu penghuni di 308? Selama ini Nadia mengira kamar itu kosong.

Lampu pijar di koridor yang temaram membuat Nadia tidak bisa melihat wajah lelaki itu dengan jelas. Mereka saling bertatapan selama lima detik yang terasa lama.

Adrian membeku di tempatnya, merutuk dalam hati. Apa yang baru saja dia lakukan? Adrian tinggal 5 tahun di kota ini untuk tahu satu hal penting yang jadi prinsip utama semua orang; urus saja urusanmu sendiri.

Kamar 309 sudah berbulan-bulan kosong. Tapi begitu Adrian melihat seseorang yang duduk di depan pintu kamar 309, dia refleks menegur orang itu. Mungkin saja orang itu tunawisma.

Begitu orang yang duduk dengan menyedihkan di depan 309 menatap ke arahnya, Adrian berani taruhan kalau gadis di depannya ini terlalu bersih untuk jadi tunawisma. Sepertinya memang ada penghuni baru di kamar sebelah.

Adrian menyadari kelopak mata gadis di hadapannya membesar . Tulang pipinya yang tinggi dan rahangnya yang kurus membuatnya terlihat sombong dan aristokrat, terlihat tidak cocok dengan kebingungan dan sorot minta dikasihani yang terpancar dari matanya.

Dengan gugup gadis muda itu berdiri dan menepuk-nepuk debu yang tak tampak di pahanya. “Eh, hai,” katanya. “Aku baru tahu kalau ada orang di 308.”

Adrian memalingkan wajah, menatap lurus ke arah pintu kamarnya. Dia memasukkan kantung plastik ke dalam helmnya dan menggunakan satu tangan yang bebas untuk merogoh kunci di kantung celananya.

Adrian berangkat jam 7 tadi pagi dan baru bisa keluar kantor jam setengah 9 malam. Beramah-tamah dengan tetangga adalah hal terakhir yang diinginkannya.

Mengabaikan perkataan gadis asing itu, Adrian memutar kenop pintu dan membuka daun pintunya, lalu masuk. Ketika hendak menutupnya, Adrian merasa ada yang menahan dari luar.

Adrian memutar tubuh dan melongok dari celah pintu.

Gadis itu ada di luar pintunya, tangannya masih memegangi kenop pintu dan tersenyum canggung pada Adrian.

Terbiasa menahan diri, Adrian tidak menampakkan sedikitpun kerutan tak suka. Dia hanya bertanya datar, “Ya?”

“Boleh aku… uh… minta makan?”

Alis Adrian naik tinggi-tinggi. Belum sempat Adrian mengatakan apa pun, gadis itu sibuk menjelaskan posisinya. Kata-katanya terlalu cepat untuk bisa dicerna oleh Adrian.

“Kunciku patah, benci sekali… Baru bisa besok buat minta pak Bandi panggil tukang pintu… Akan aku bayar yang aku makan kalau sudah bisa masuk… Aku akan sangat berterimakasih… Makan saja, aku akan tidur di luar kamarku. Tidak masalah…”

Adrian bergeming di tempatnya, lalu menghela napas. “Baiklah,” jawabnya pendek.

Adrian mungkin dingin, tapi dia bukannya kejam. Sepertinya situasi gadis ini cukup gawat. Lagipula Adrian masih punya telur, sarden, kornet, dan tepung. Kalau gadis ini mau, dia bisa masak sendiri apa pun yang dia inginkan.

“Yang benar?” Mata gadis di hadapannya berbinar dan seketika dia tersenyum senang.

Mendadak Adrian merasakan tonjokan di perutnya. Seolah-olah senyum gadis ini baru saja membuat tubuhnya bereaksi. Adrian hampir tertawa dengan yang barusan dia pikirkan. Ya ampun, yang benar saja.

Adrian mengangguk, dia membuka pintu dengan lebih lebar dan menepi, seluruh gestur yang mempersilakan gadis itu masuk kamarnya.

“Omong-omong, namaku Nadia,” katanya sambil tersenyum melewati Adrian.

Adrian manggut-manggut antara peduli dan tidak. Adrian mungkin akan segera melupakan nama gadis itu, dia tidak suka bertetangga. Membiarkan gadis itu masuk dan makan di kamarnya tidak lantas menjadikan mereka teman. Adrian hanya akan membiarkan gadis itu masuk, makan dan keluar lagi dari kamarnya. Sesederhana itu.

Bertahun-tahun kemudian, saat Adrian mengingat malam yang penuh takdir itu, kadang Adrian berharap dia mengambil keputusan yang berbeda.

Kadang dia berharap dia mengatakan tidak, menutup pintu dan menghabiskan malam seperti biasanya. Makan makanan yang dia beli di warung pinggir jalan, main game sebentar, lalu nonton berita malam.

Karena satu keputusan sederhana malam itu, mengubah jalan hidupnya yang tenang membosankan. Perubahannya terlalu dahsyat sampai-sampai tidak ada jalan untuk kembali.

Advertisements
%d bloggers like this: