Biasa Juga Tak Mengapa

Tadi malam, nasib membawa saya pada sebuah postingan yang membahas tentang seorang blogger yang ditengarai menipu teman-temannya. Duit ya ini. Macem-macem sih modusnya, berhubung dia seorang pengrajin mug DIY gitu. Jualan enggak dikirim dan nyalahin ekspedisi, pinjem enggak dibayar dan lain sebagainya.

Kalo baca postingan yang yang ngebahas itu satu persatu, kayaknya rame banget. Fakta-fakta terendus cepat, investigasi yang tajam dan menyeluruh mengandalkan Google dan mungkin Google cache membuat si (konon) penipu yang tadinya berada di balik tabir (xD) jadi sedikit demi sedikit terkuak.

Pesan moral yang bisa saya tangkep dari kasus ini adalah : saya bahagia karena enggak punya kepengenan jadi social climber dan lebih sering jadi silent reader =))))

Jadi, si Mbak ini ya mulanya tuh ngedeketin para selebblog yang sudah lama menulis dan punya view jutaaan. Untuk apa? Semata-mata demi membangun popularitas dan reputasi baik secara instan. Komen dan muji-muji di blog-blog yang traffic-nya tinggi kan bisa mendatangkan traffic ke tempat dia sendiri. Dengan kemampuan menulis mumpuni dan cerita khas anak muda, dia mampu menempelkan dirinya pada banyak komunitas/geng/circle.

Sampe mungkin saking keselnya, ada salah satu orang yang kena tipu bilang, “Besok-besok kalo ada yang sok nempel-nempel ke kita, enggak usah lagi percaya.”

Saya bacanya langsung “deg”, mwahahaha…

Bukan apa-apa sih, kalimat itu meneguhkan kalau, dalam beberapa tingkatan, jadi silent reader tidak jelek-jelek amat.

Sebagai blogger medioker yang kadang ngeblog kadang enggak sampe berbulan-bulang (jangan salah, saya merasa baik-baik aja jadi blogger medioker. Kasta itu memang ada kok. Sama halnya orang enggak bisa semuanya kaya dan punya Alphard, beberapa cukup puas punya Avanza :))), saya sebenarnya suka sama blog-blog asyik yang dalam sehari view-nya bisa puluhan ribu. Atau bisa juga view-nya dikit, tulisannya asyik tapi yang komen biasanya inner circle dia.

Tiap mau komen di blog seperti itu, saya selalu kebayang sedang berada di sebuah foodcourt yang ada meja yang diisi sahabat-sahabat yang lagi curhat dan cerita dengan seru mendadak saya ngedeketin mereka, “Wah asyik banget nih! Aku juga mau ikutan dooong,” trus sambil ngomong gitu saya bawa-bawa kursi dan menempatkannya di sekeliling meja yang sudah terisi penuh.

*dipandang aneh ama semua orang*

*terjadi keheningan yang canggung*

KAAAAAK!!!!!

*tiba-tiba ada gagak melintas di atas kepala*

Jadi buat saya, bisa baca kisah-kisah menyenangkan soal jalan-jalan, makan-makan, finansial, ngisi rumah dll aja udah tak ternilai harganya. Lagipula kita tidak bisa berteman dengan semua orang :))

Ah sudahlah, tidak perlu diperpanjang. Dunia nyata aja udah fana, apalagi dunia internet. Kalau membawa kebaikan bagimu, syukurilah. Yang penting mawas diri, enggak pake neko-neko :mrgreen: (apaan sih sok bijak)

Advertisements

10 thoughts on “Biasa Juga Tak Mengapa

  1. Saya kmrin juga baca ada postingan seorang blogger yg bilang kalo dia tertipu, dia juga sebutkan id yg dipake si penipu, trus bbrpa hari kemudian ada seorang blogger yang posting semacam curhat gitu, intinya dia udah depresi berat gitu, trs yang dia tulis itu postingan terakhirnya, saya yang awalnya cuek jadi ikut kepo, apakah si blogger yg depresi itu yg me-oof-kan account-nya itu penipunya, tetapi saya juga nggak enak, hmmm jadi anteng2 aja dehh, nanti kalo ada apa2 pasti terkuak sendiri ๐Ÿ˜€

    • apakah kita membaca kisah yang sama? yang baca juga si oknum self-acclaimed sakit jiwa…
      di atas segalanya, memang disayangkan padahal sepertinya lumayan cemerlang dan masih muda ๐Ÿ˜€

  2. serem,,para penipu sekarang makin kreatif untuk melancarkan kejahatannya >.<

    *ikut nimbrung
    *semoga tidak dipandang aneh
    *semoga tidak ada bunyi KAAAAAKK KAAAAKK ๐Ÿ˜€

  3. Aku juga keseringan jadi silent reader. Blogku juga biasa saja dan aku juga merasa aku blogger medioker. Dan itu gak masalah. Kok ya jadi curhat… Hihihi… Btw, aku pernah baca di Twitter soal blogger yang penipu gitu. Jualan tapi barangnya gak dikirim dan ngutang tapi gak dibayar. Apa kita baca tentang orang yang sama? *halah*

  4. saya silent reader blogmu loh, mbak ๐Ÿ˜ณ
    *silent reader kok komen.. PLAKK!* ๐Ÿ˜†

    Kasus penipuan yang berulang membuktikan bahwa tiap manusia (internet citizen.. tsaaahhh) punya titik lemah masing-masing. Padahal kan ya tau kalo sudah berhubungan dengan uang mesti hati-hati..

    Tapi yang kasus ini pinter sih mbak penipunya. Nipunya kecil-kecil, dan ga ada yang sadar kalo yg tertipu ga benar-benar kenal si penipu (sampai terlambat). Saya ngebayangin professional party crasher.

    • sama doong, aku juga silent reader di blogmu.
      macam apaaa =)))

      kalo kata tanteku, uang itu enggak kenal teman enggak kenal saudara. tapi ya itu, cerdas orangnya. jago nyari softspot dan rajin membangun reputasi baik ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: