Jatuh Cinta Tidak Melulu Harus Seperti Polaroid

 

Kalau anda sekalian menghabiskan waktu cukup banyak di internet, pasti sekali dua kali (setelah ratusan kali terpapar foto kucing) pernah doang ngeliat poto di atas?

Ngga tau sapa yang ngepost pertama kali, tapi kecurigaan saya sih mengarah pada penduduk planet Tumblr, siapa lagi kalo manis-manis gitu?

Aduh maaf ya, saya emang gampang stereotyping. It’s faster. Eh, itu bukan kutipan punya saya dink, itu punyanya Ryan Bingham di Up In The Air :mrgreen:

Tenang, di post ini saya ngga akan berbusa-busa menerangkan dan bikin konsorsium soal cinta-cintaan secara filosofis blahblahblah ini anu itu (kelamaan ga ngeblog jadi kehilangan kemampuan membuat kalimat sempurna). Tapi mau cerita soal film yang beberapa hari lalu saya tonton,  ceritanya buat saya terlalu manis sampai saya takut kena diabetes.

Tema ceritanya sesual judul dong. Sometimes, it takes time to fall in love.

Life As We Know It (2010)

Cerita dibuka di tahun 2007, saat Holly Berenson dan Eric Messer pertama kali dipertemukan dalam sebuah kencan buta yang dirancang kedua sahabat mereka, Peter dan Alison. Dalam menit-menit pertama langsung ketahuan gimana Messer adalah womanizer urakan sementara Holly perempuan muda yang teratur dan disiplin.

Dan tanpa perlu dikatakan lagi, kencan mereka gagal. Malah, mereka beruntung bisa keluar dari pertemuan pertama mereka hidup-hidup.

Messer : Look, it’s a Saturday night I just wanna have some fun. I can go see my sick friend and you can go do whatever it is you like to do on Saturday night. You look like you read. You can go read a book. Do you blog?

Holly : Do I blog? Okay. You know what? If you wanted to ensure that this is gonna be a lousy night, here’s a tip: dont show up an hour late and dont make a booty call in front of me!

Messer : She’s sick!

Holly : Oh right. Were you going to heal her with your magic p*nis?

Di opening diperlihatkan bagaimana pertemuan-pertemuan Holly dan Messer selanjutnya, saat pernikahan Peter dan Alicia, saat merayakan natal di rumah Peter dan Alicia, saat menyambut kelahiran Sophie, putri pertama Peter dan Alicia.

Dan Messer masih saja berganti-ganti cewek. Sementara Holly masih belum beruntung, kebanyakan teman kencan yang dibawanya terlihat menyedihkan (kalo dibanding Messer xD).

Tapi namanya juga roman, ngeliat judulnya aja udah tau cerita mau dibawa kemana, hehehe.

Nah pada suatu titik, hidup Messer dan Holly jungkir balik. Apa pasal?  Peter dan Alice meninggal dan karena mereka adalah orangtua baptis Sophie maka hak perwalian Sophie jatuh ke tangan mereka, beserta rumahnya.

Itu artinya apa sodara-sodara? Yeep, mereka harus tinggal satu atap dan mengurus Sophie.

Tidak diterima dengan mudah sih, mulanya mereka sampai niat mencari saudara-saudara Peter dan Alice buat diserahi Sophie, namun rupanya mereka tidak beruntung. Ada yang berumur 94 tahun dan tentu saja ngga bakal sanggup mengurus Sophie, ada yang stripper, dan yang satu-satunya hidup normal sudah punya 9 anak.

Messer : Well, we could go with the nine-kids family. I mean, they clearly know how to keep a child alive.

Secara keseluruhan sih film ini menceritakan bagaimana Holly dan Messer berdamai dengan peran mereka yang mendadak sebagai orang tua, menjaga diri agar tetap waras, meyakinkan petugas Dinas Sosial yang melakukan kunjungan ke rumah kalo mereka mampu mengurus Sophie (karena kalau tidak, Sophie akan diserahkan ke negara untuk diadopsi), menyeimbangkan hidup mereka di rumah dengan karir mereka…

…dan tentu di atas semua itu, tiba-tiba mereka menyadari kalau mereka saling jatuh cinta. Aiihhh….

Yang saya suka dari film ini adalah chemistry dan karakternya kuat sepanjang cerita.

Messer yang dalam beberapa adegan terlihat penyayang (ugh, kill me now xD), kelihatan mulai merasa nyaman, menerima Sophie dan Holly jadi bagian dari hidupnya, eh ketika cerita hampir berakhir dia malah berniat pindah ke Phoenix mengejar karir di sana sementara Holly tetap bertanggung jawab mengurus Sophie.

Sepanjang cerita kita bisa ngeliat gimana Holly yang ngga cengeng dan nyebelin, malah kocak banget dan ceria. Yang jelas, sarafnya baja, ngga sekalipun kelihatan depresi. Wajar sih, kalo ngga gitu mana sanggup dia ngadepin Messer. 😆

Ini emang film enteng banget, istilahnya pas nonton otaknya ditaro sebentar di meja juga ngga apa-apa. Tapi Life As We Know It  juga jenis film yang bikin penontonnya cengar-cengir dan menghembuskan napas lega karena puas, sesuai deh sama fungsi film yang paling saya suka : menghibur

Buat saya film ini masuk di daftar teratas film romance with a hint of comedy favorit saya, selain While You Were Sleeping.

Advertisements

7 thoughts on “Jatuh Cinta Tidak Melulu Harus Seperti Polaroid

  1. @ Evillya : oh aku juga merasakan memikirkan hal yang sama waktu ngeliat foto Messer di foto itu! *makanya dipasang* 😆

    @ Takodok : Kalimat yang cakep, emang pas di mana-mana. Eh aku belum liat The Switch, tapi liat postingan IMDB kayaknya menjanjikan 😀

    @ Opat : Iyaa, Messernya nggemesiiiin!

    @ Petz : Peter! *kelojotan baca komennya* =)))
    Tapi kan cuma sekaliii, ngga kumpul kebo lah, tapi one night stand *ikutan ngerusak*

  2. The Switch itu tipe film yang kalo ditonton saat bete akan membuat kita percaya kalo masih ada kebaikan dan cinta di atas dunia. Kita? Kamu aja deh des yang cheesy 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: