Buah Salam

Okaaaaay. Jadi barusan saya buka google reader, walaupun sempat lupa URLnya. Dan, umm, bingung juga mau mulai dari mana, ternyata, sepi aja loh. Untung juga karena saya lega ngga ketinggalan banyak cerita.

Tapi agak sedih karena kenapa GReader saya semacam jadi Gunkanjima. Profesi pembaca sunyi saya jadi berakhir cepat nih.

Kalian apa kabar, lagi sibuk apa aja? *fyuuuhh (suara angin berhembus)*

Semua sehat? *semua sehat, sehat, sehat (suara gema)*

xD

Tau daun Salam? Dedaunan yang masuk kategori rempah penting masakan karena aroma manisnya yang khas. Dari mulai sayur lodeh, sayur kangkung, empal, kari, gulai, sambel goreng, sayur cabe, dst dsb.

Sejak sekitar sepuluh tahun lalu, almarhum mbah Aki saya nanem pohon salam di rumah, yang kemudian diikuti sama anak-anaknya. Jadi sekarang keluarga besar saya kebanyakan punya pohon salam di rumah mereka masing masing. Alasannya, lebih enak masak pake daun salam segar dibanding yang sudah kering layu hasil beli di pasar.

Di rumah saya juga ada pohon Salam, anakan dari pohon Salam yang ditanam mbah (tapi pohon Salam yang jadi cikal sekarang sudah tidak ada, ditebang karena keperluan mendirikan tenda waktu mbah Aki meninggal).

Setelah berumur sekitar 2 atau 3 tahun, sekarang pohon Salam di rumah berbuah.

Heeeyy! Akhirnya setelah sebelumnya cuma  pernah baca dan denger, sekarang bisa liat langsung sesuatu yang bernama buah Salam.

Bentuknya mirip buah Kersem, tapi rasanya ngga ada mirip-miripnya. Dagingnya berair tapi ngga terlalu berair, rasanya keset dan agak manis, dengan aroma yang mirip sama daun Salam. Mamah saya bilang, bagus buat nurunin kadar gula dan kadar kolesterol.

Tapi ngambilnya nyiksa banget, berhubung di pohonnya banyak semut rangrang. Jadi saya cuma bisa ambil satu tangkai ini.

Buah yang udah terlalu tua jatuh ke tanah dan dikumpulin sama mamah, di buang dagingnya, di cuci dan di keringin buat bibit, barangkali ada yang minta.

Waktu saya lagi bantuin mamah nyuci buah Salam, mamah ngomong hal yang sangat quotable.

“Ini nanti mamah mau numbuhin ah, kira-kira seratus atau dua ratus pohon. Buat souvenir nikahannya kamu, daripada cuma ngasih kipas doang cuma dibuang aja. Kalo souvenirnya pohon kan minimal dari seratus atau dua ratus itu, ada satu atau dua yang bisa tumbuh dan berguna.”

LOL.

Advertisements

5 thoughts on “Buah Salam

  1. @ asop : wah, sering dapet diskon ngga klo beli sayuran? 😀

    @ mb yulia : 😆 beberapa hari kemarin temen tia bilang dia pernah ke nikahan yang souvenirnya kaktus dalam pot lho mbak :mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: