Legenda Urban

Sebelum cerita ini dimulai, saya mau mengaku bahwa saya ngga tau apa terjemahan urban legend dalam bahasa Indonesia. Saya coba pake legenda urban kedengeran kayak terjemahan setengah-setengah dan pemalas ya?

Sementara saya ngga yakin apa saya kudu menerjemahkannya jadi legenda perkotaan karena legenda-legenda ini (konon) terjadi di tempat saya kuliah dulu dan dulu saya kuliah serta bergaul di daerah kabupaten aja. :mrgreen:

(ini mah alesan banget karena males kalo malah jadi aneh dan salah, nyahahaha)

Di bawah ini beberapa legenda urban yang pernah saya dengar, dan pernah pula saya teruskan secara verbal karena, hey that’s exactly what urban legend is all about! Diceritakan dari mulut kemulut saat sedang mati lampu atau tidak ada kerjaan, sebagai ice-breaker atau spontan saat melewati lokasi kejadian.

Menuliskan legenda urban akan bisa jadi payah karena tidak bisa memainkan tone suara dan mimik muka. Atau kalo mau lebih niat, legenda urban yang masuk kategori serem bisa ditambah dengan menyoroti muka dengan senter dari arah bawah. XD

Tips Membuat Gorengan Enak
Beberapa tahun lalu, dalam perjalanan membeli jus buah dan poffertjes di Deresan, saya dan seorang teman melawati sebuah warung makan yang terkenal murah dan enak. Teman saya menunjuk warung itu.
“Ti, pernah makan di situ ngga?”
“Pernah.”
“Gorengannya enak ya?”
(jawaban orang yang doyan semua makanan *kecuali soto kudus ->) “Enak.”
“Temenku ada yang pernah kesini..”
“Wih, mau cerita apaan nih?”
“Jadi dia dateng pas si Ibunya bikin gorengan. Pagi-pagi. Baru aja nuangin minyak waktu temenku dateng. Waktu minyaknya mendidih tau ngga si Ibu masukin apaan?”
“Apa?”
“Plastik. Plastik yang buat ngebungkus es teh itu. Dia ambil beberapa lembar, di remes terus di cemplungin ke minyak. Trus abis plastiknya lebur, baru dia masukin adonan gorengan.”
“Gaah.. Gorengan plastik dong. Seriusan tuh? Plastik dipake buat ngebungkus yang panas aja jadi karsinogen.”
“Katanya sih, biar bisa awet renyahnya ampe lama.”

Udah Selesai?
Banyak yang suka belajar malam di Balairung. Beberapa alasan seperti disana asyik, lega, adem dan koneksi internet wireless yang yahud.

Itu yang rupanya dipikirkan sekelompok mahasiswa pada suatu malam. Mereka memarkirkan motor di dekat undakan tangga Bailairung lalu mulai menduduki salah satu meja yang ada di dekat pohon beringin di samping Arboretum.
Dibilang meja juga bukan meja beneran karena itu jenis meja kayak di resto trotoar dengan payung besar tertancap di tengah. Suasana malam sedang sepi tapi sekelompok anak muda ini tetap rame sambil tetap mengerjakan tugas mereka di laptop dibantu cahaya lampu pos yang kekuningan.

Biar begitu selama belajar mereka menyadari ada seorang bapak-bapak yang duduk di meja bundar juga beberapa meter dari meja mereka.

Beberapa saat kemudian, tujuan utama mengerjakan tugas terlupakan dengan kesibukan browsing dan bercanda seru. Bercanda mereka meliputi main lempar-lemparan pinsil. Dan dalam beberapa lemparan kemudian, jatuhlah pinsil ke dekat meja yang sedang ditempati Bapak setengah baya itu.
Salah seorang dari mereka kemudian ditunjuk untuk mengambil pinsil karena dia juga yang melemparnya.
Dia mengangguk ke si Bapak sebentar sebelum mengambil pinsilnya. Kepalanya langsung pusing karena kaki si bapak ngga ada. Badannya cuma dari pinggang ke atas.
Dengan kepala pusing dan badan gemetar hampir menangis, saksi mata ini kembali ke teman-temannya dan bercerita sambil bisik-bisik.
“Bapaknya melayang di kursi..”

Saat mereka dengan ketakutan luar biasa membereskan barang dan hendak kembali ke parkiran motor dan melewati si Bapak, beliau menyapa mereka dengan suara yang kini jadi kedengaran dingin dan seram.
“Mau kemana nak?”
“Mau pulang, Pak.”
“Kok pulang. Di sini aja sama Bapak.”
“Udah selesai Pak.”
“Udah selesai.. atau udah tau?”

reaksi saya waktu pertama kali diceritain : KYAAAAAA TEGAAAAA… O__________O

PS. Ditulis karena udah ga ketahan kangen ama Yogya dan orang-orang yang saya kenal, yang masih disana dan yang sudah tidak disana. 😀

My thoughts and pray are with you, guys. Much love. ❤

Advertisements

5 thoughts on “Legenda Urban

  1. serem kan ya mbak? aku baru dengernya sekali itu.. tapi jajan gorengan masih doyan. *gampang lupa*
    cuma ngga beli di warung itu 😀

    😆
    iya, emang rada mengerikan sih. (rada?)

  2. Yang kedua itu emang legendaris banget ceritanya 😆 Agak bikin merinding sekaligus bikin nyengir sih, soalnya ngebayangin si Bapak ngomong sembari nggerakin sebelah alis 😛

    Di Fisipol, tepatnya di depan jurusan HI yang lama (sekarang udah diancurin buat dibangun gedung baru) sering ada ibu-ibu paruh baya duduk dan pake baju kantor (sometimes suit up atau pake formal attire, bawa handbag juga) tapi dia tuh ngomong sendiri. Kalau ditanya namanya dia bilang Jessica Prakoso, karena saking seringnya dia duduk di situ tiap sore sembari ngomong sendiri, dia jadi bagian urban legend HI dan sampe dibinin account FB juga 😛

  3. Iya, baru ketemu deh yang cerita serem tapi tokoh utamanya flamboyan begitu.. =____________=

    aku sampe nyari FBnya Jessica Prakoso, tapi kayaknya bukan si ibu yang itu.. 😆
    penasaran ya siapa dia? kesannya misterius bener kalo dari cerita kamu.. mungkin pengacara atau eksekutif korporasi yang rada gimana gitu. atau malah lagi menyamar buat nyari The Apprentice? :mrgreen:

  4. cerita pertama: sering denger, katanya ada ‘ritual’ seperti itu. iuuuuuhh bikin pelanggan jadi pada sakit -.-‘
    cerita kedua: pernah baca di blognya mas prima, ga ngerti sih itu cerita nyata atau bukan, yg pasti cukup bikin merinding

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: