Peluk

Aku keluar dari gedung, mengeratkan jaketku.

Aku tidak pernah suka kopi, tapi aku tahu kali ini aku harus segera bergegas untuk menambahkan kafein ke aliran darahku. Langit sore di bulan Februari mendung kelabu, dalam warna paling kusam yang pernah kulihat. Udara terasa lembab dan berat. Aku merindukan senja kemerahan dan hembusan angin dingin.

Aku butuh sedikit warna. Hari ini sudah cukup payah, semesta tidak perlu berkomplot untuk menambah kesengsaraanku.

Aku melangkah makin cepat, sambil mengingatkan diriku sendiri untuk berhenti membaca novel-novel cengeng. Setidaknya mereka tidak baik untukku, karena aku menjadi mendadak peduli dengan warna langit, Seperti aku punya waktu saja.

Aku memutuskan untuk langsung pulang segera setelah aku menenggak secangkir kopi hitam kental di kafe pertama yang kumasuki. Bukan jenis kafe keren yang membuatmu terlihat oke jika berjalan keluar sambil menggenggam gelas kertas yang bersablon merek kafe. Ini jenis kafe yang memungkinkan kau dilayani pemiliknya sendiri.

Aku bertanya-tanya apa satu atau dua bulan lagi aku masih bisa menemui kafe itu di tempatnya, atau aku sudah mendapati tulisan TUTUP yang miring dan menyedihkan di pintu kaca.

Aku memilih pulang berjalan kaki, hanya 20 menit saja sebelum sampai di rumah.

Aku menghembuskan nafas sebelum membuka pintu. Ini menyebalkan. Aku merutuk kesal dalam hati. Aku berjalan lurus ke kamarku. Perasaanku tak keruan, aku kelelahan. Aku ingin membanting tubuhku ke kasur lalu tidur sampai besok pagi.

“Aria!”

Ini dia.

Rasti menubrukku dari belakang, dengan pasrah aku membalikkan badan, menerima pelukannya. Dia mengalungkan tangannya di leherku dan membenamkan wajahnya.

“Aku akan memelukmu selamanya.” Rasti menangis. “Pokoknya selamanya, tiap kali aku melihatmu. Sampai aku tidak bisa memelukmu lagi.”

Pelukan itu hangat, nyaman dan tidak berbahaya. Aman sekali sampai-sampai rasanya aku bisa menangis saking leganya.

Tapi aku sebatas sanggup mengusap pundak Rasti.

Siang tadi gtalk-ku memunculkan jendela baru. Pesan dari Rasti, teman serumahku. Temanku 3 tahun ini di Jakarta. Bahwa dia akan segera di mutasi, pergi meninggalkan pulau dalam 2 minggu mendatang, dan menetap disana setidaknya dalam 2 tahun. Dan dia harus meninggalkan aku. Dan dia sangat sedih. Dan dia akan merindukan aku, teman pertamanya di Jakarta.

Jadi definisi selamanya, bagi kami hanya 2 minggu.

“Tidak apa-apa, nanti sesekali aku akan menengokmu di Kalimantan.”

Kami berdua tahu bahwa itu hanya kalimat penghiburan.

Kami berdua tahu jarak akan meregangkan perasaan, sampai hati kehilangan koefisien elastisnya.

Advertisements
%d bloggers like this: