Wijaya

Orang bilang, saat sekarat, maka semua bayangan tentang hidupmu akan terlintas di pelupuk matamu.
Tapi tak ada satupun yang mengatakan apa rasanya saat belahan jiwamu sekarat di depan matamu.

Baiklah, Wija bukan belahan jiwaku. Kami berteman baik. Aku menyukainya dan mengganggapnya matahariku, sementara Wija menganggapku seperti vas bunga di atas kulkas. Saking terbiasanya melihatku sampai kadang dia tidak bisa menentukan apa membutuhkan aku atau tidak.

Untuk sekarang ini, detil itu tidak penting.

Mata Wija menatap mataku, tangan kanannya terulur. Aku refleks menggenggam tangannya.

“Sakit?” Aku merasa konyol. Kemeja putihnya yang semula bernoda darah sebesar uang koin kini makin melebar. Aku tidak ingin tahu apakah lubang atau goresan yang ada di perutnya. Aku sungguh-sungguh tidak ingin tahu.

Dan setidaknya kaki Wija patah di dua tempat.

Wija tersenyum, bibirnya pucat nyaris biru.

Aku hampir tidak bisa menahan tangis. Kejadiannya lebih cepat dari kesanggupanku memikirkan kembali soal apa yang terjadi setidaknya 10 menit yang lalu. Wija, seperti biasa, membawa motor telalu kencang. Padahal jalanan memang licin karena sebelumnya hujan sudah turun deras.
Kemudian motor Wija terpeleset, kami berdua terbanting, menggasak aspal lalu terpelanting hingga di bahu jalan yang hanya berupa rumput di pinggir hutan.

Aku sempat melihat perut Wija terhantam motornya.
Hal pertama yang kulakukan tentu menghubungi polisi dan ambulan. Saat menyebutkan lokasi kami -jalan sepi yang menghubungkan Kota ke Kabupaten-, mereka mengatakan sesuatu seperti jembatan putus atau apa.

Aku tidak tahu. Rasanya aku juga tidak bisa mendengar yang aku ucapkan. Seperti seseorang mengambil alih suaraku. Selesai menelepon, aku berlutut di samping Wija. Aku tidak tahu harus bertanya apa, maka aku hanya menanyakan apakah dia kesakitan atau tidak.

Pertanyaan jenius yang membuatku merasa bodoh tak lama kemudian.

“Kau berdarah.” komentar Wija, terlihat berusaha keras menatapku dengan matanya yang kini jadi sipit karena kelopaknya bengkak terluka.

Tadinya aku tidak sadar, namun sekarang aku merasa gusiku berdenyut kesakitan. Aku terdiam sejenak, meraba bagian yang sakit dengan lidahku.

“Apa?” tanya Wija.

Aku meludahkan darah yang asin dan berasa besi ke samping. “Sepertinya barusan aku menelan potongan gerahamku.”

Wija tersenyum lemah.

“Aku mau tidur sebentar.”

Aku tidak berani menggerakkan tanganku, atau bertanya pada Wija apa yang bisa kulakukan untuk membuatnya nyaman. Tangan kirinya seperti tertekuk dengan posisi yang aneh. Seperti boneka kain..

Aku berhenti memikirkan bahwa tangan kirinya juga patah.

Dia ingin tidur, maka hal yang bisa aku lakukan membiarkannya tidur.

Dan aku memikirkan peristiwa ini. Mataku mulai panas, dan airmata mengalir pelan. Aku menggigit bibir. Sekali aku terisak, aku tahu aku bakal histeris. Aku bakal berteriak-teriak tak keruan, memohon pada setiap pinus di hutan ini, atau apapun yang ada di hutan ini untuk menolong Wija.

Rasanya aku bisa saja menjual jiwaku pada iblis.
Aku memperhatikan wajah Wija. Pelan, aku menyibakkan rambut-rambut yang jatuh di matanya. Beberapa lengket oleh darah, tapi aku berhasil mengusapnya.
Darah yang keluar di perutnya terlalu banyak. Tidak perlu jadi dokter untuk tahu bahwa Wija tidak bakal bertahan.

Seingatku, aku tidak pernah merasa seputus asa dan setidak berdaya seperti sekarang ini.

Aku berkomat-kamit menyebutkan semua doa yang terlintas di kepalaku.
Lalu aku mulai membuat janji-janji yang akan kulakukan nanti. Bila ambulans datang tepat waktu. Bila aku berhasil membawanya tepat waktu. Bila aku bisa membawanya ke dokter dan mengobatinya. Dan dua minggu dari sekarang kami akan tertawa-tawa di ruangan putih serba putih rumah sakit. Lalu aku akan menangadatangani gipsnya.

Aku bahkan bisa mencium aroma disenfektan yang bercampur karbol ala rumah sakit sekarang ini.

Tanpa bisa di cegah, aku mengecup hati-hati dahi Wija, berharap agar tidak mengenai luka dan lebam di pelipisnya lalu berbisik, “Kau akan sembuh. Kau akan baik-baik saja.”

Tuhan tahu betapa inginnya aku mendengar ucapanku sendiri jadi nyata. Aku sungguh-sungguh. Wija bisa mendengarku, dia tahu aku sungguh-sungguh.

Aku berjanji aku akan menyayangi Wija setulus yang dimungkinkan oleh cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku berjanji tidak akan terlalu galak pada Wija bila tindakannya tidak seperti yang kuinginkan.

Kemudian Wija meninggal.

Dengan tanganku di dalam genggamannya

Tidak seperti di film, dimana ada adegan hembusan nafas terakhir dan pesan terakhir. Dia hanya seperti tersedak sebentar, lalu sudah.
Begitu saja. Dan aku tahu Wija sudah pergi.

Dan aku melepas genggamanku, lalu berbaring di samping jenazah Wija.
Aku mulai terisak.

Advertisements
%d bloggers like this: