This Is Where The Story Ends


Finished on November 23, 2010.
After one raw story/chapter finished, I usually put description and detail until I satisfied. But either I was too lazy or lost my mood over Ragia-Aidan chemistry, I failed to do so. The file itself almost gone because I simply forget I ever wrote it.

Before it’s really gone, I decided to publish it as it is. So if you feel like this story somewhat weird, unfinished, ngga ada soulnya, well, I know. Guilty as charged. :mrgreen:

It’s a stand-alone but you can read the previous chapter here. Compared to the first chapter, the last one is less gloomy more happy story. 😆

______

“Panca.”
“Ragia.” Ragia tidak berminat membawa obrolan ini lebih jauh lagi. Tidak juga berminat bertanya kenapa Aidan memperkenalkan diri sebagai Panca. Mungkin nama tengahnya?
Keheningan diantara mereka terasa kontras dengan ingar bingar pesta. Ragia merasa perlu mengatakan sesuatu.
“Anak kelima?”
Aidan menoleh, menatap Ragia dengan pandangan geli. Ragia berharap dia tidak pernah bertanya.
“Haha.” Ragia tertawa kaku. “Taruhan, kau pasti sering mendengar orang lain bertanya begitu ya?”
Aidan mengeleng sopan dan tersenyum, matanya masih menunjukkan sorot geli. “Tidak terlalu sering.”
Tentu saja tidak, pikir Ragia.
Mereka kembali diam.
Ragia bergerak gelisah di tempat duduknya, memilin jari-jari tangannya. Dia sungguh-sungguh berpikir seharusnya dia tidak usah datang saja. Ragia tidak pernah suka keramaian asing dan orang yang terlalu banyak. Dia suka lingkungan dengan sedikit orang, yang familiar dengannya. Ragia tidak terlalu ahli dalam mengatasi keramaian.
“Tidak ada yang kau kenal di sini?”
Rupanya tingkahnya jelas terlihat. “Ada beberapa, tenang saja. Aku ada di daftar undangan kok.” Ragia segera menyesal, menyadari bahwa nada defensif ikut terselip di kalimatnya.
“Aku tidak menuduhmu begitu.” Aidan menaikkan sebelah alisnya, mendengar ketajaman suara Ragia.
“Matamu bilang begitu.” Jawab Ragia pelan, mengangkat bahu.
“Jadi sedari tadi anda sibuk memperhatikan mata saya? Wah, anda tahu benar cara membuat orang lain tersipu ya, bu Ragia?”
“Sayang sekali, tapi membuat anda tersipu jelas tidak termasuk dalam rencana saya malam ini, pak Panca.”
“Apa rencana bu Ragia malam ini? Boleh saya tahu?”
“Saya tidak keberatan, tapi saya juga tidak ingin membuat pak Panca mengantuk karena mendengarnya.” Ragia mencondongkan badannya ke arah Aidan, berbisik dengan suara rendah. “Rencana saya membosankan.”
“Kalau begitu mungkin bu Ragia bisa mengatakannya pada saya nanti malam sebelum saya tidur?” Aidan balas berbisik, mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ragia. “Saya pengidap insomnia.”
“Apa itu semacam undangan, pak Panca?” Ragia segera duduk tegak, melipat tangan di depan dada, pura-pura tersinggung.
Aidan terkejut sekilas, lalu tertawa. “Kamu lucu sekali.”
“Dan kamu bukan orang pertama yang bilang begitu. Nah, sekarang kalau boleh..” Ragia berdiri, “Saya permisi.”
“Silahkan.”
Aidan ikut berdiri. Ragia mengangguk dan tersenyum pada Aidan. Aidan memperhatikan punggung Ragia hingga dia berjalan menembus kerumunan dan keluar ruangan.

Advertisements

9 thoughts on “This Is Where The Story Ends

  1. ooh, begitu. sip, sip. ngga apa-apa. aku kayaknya ngga bisa ikutan juga 😆

    semangat yaa, semoga menaaang. nanti kalo ceritanya udah tayang aku mau baca juga.. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: