Lets Call It A Post

Hujan, Imlek dan Kuningan

Saya tinggal di kota yang dulunya punya pelabuhan kuno, dan seperti semua kota pelabuhan kuno yang lain, kami punya yang bercampur-campur satu dan yang lain, dari mulai kuliner sampai manusia dan apapun yang ada diantaranya.

Kalau mata saya sipit, mungkin saya keturunan dayang putri Campa yang memang diperistri salah satu raja disini. Atau kalau saya berkulit kuning, mungkin karena mbah Dayang menikah dengan salah satu penduduk asli yang berkulit kekuningan.
Tapi tentu saja pelabuhan atau bukan, Pecinan ada di hampir semua kota, kebetulan di kota saya Pecinan lumayan besar. Maka tidak hanya tiap rumah kebanyakan dapat dodol keranjang dari mereka yang merayakan Imlek, ada kepercayaan dan kebiasaan soal Imlek yang sedikit-sedikit saya dan temen-temen sebaya saya ketahui.

Salah satu yang paling terkenal bahwa hujan di Tahun Baru membawa kemakmuran sepanjang tahun.
Biarpun menurut kepercayaan seterik apapun hari biasanya akan turun hujan, di Imlek yang jatuh pada tanggal 4 Februari kemarin, kami tetap memutuskan  untuk keluar kota, ngga jauh, cuma ke Kuningan, kota sebelah yang kebetulan ada di gunung Ciremai.
Kota macet dan panas, karena ada pawai Barongsai, butuh waktu beberapa menit untuk meluncur menyebrangi jalan antar propinsi lalu masuk ke jalan yang mengarah ke atas.
Baru 20 menit, hujan yang mirip badai karena kencangnya angin, turun.
Kami akhirnya memutuskan untuk menunggu hingga hujan reda dengan naik ke atas sebelum makan jagung bakar.
Tadinya kami berniat makan di RM. Ke*lapa Ma*nis yang lagi happening karena city viewnya yang bagus (ga bakalan keliatan karena ujan, sebenernya). Tapi karena salah seoarang dari kami pernah makan di situ dan bilang bahwa gurame sebesar tangan harganya 40 ribu, semuanya langsung shock dan kami memilih terus lagi ke atas.

Jadi kami berhenti di salah satu SPBU yang ada bangunan 2 lantai di kompleksnya, lantai pertama Indomaret, sementara lantai kedua adalah franchise rumah makan yang berceceran di Kota berinisial OO.
Di OO, ngga ada satupun yang makan, karena kebanyakan sudah makan ketoprak di bawah. Sementara saya sendiri udah makan siang. Cuma pada pesen coffemix. Saya ngga biasa minum kopi, jadi milih yang lain. Coba ada burjo, pasti pada ke burjo deh. Padahal kebanyakan burjo itu Aanya dari Kuningan, tapi di Kuningan ngga ada burjo.
Tapi katanya di Tegal juga ngga ada warteg.. :mrgreen:

Selesai minum dan ngobrol, dengan segala keribetan di tengah hujan lebat termasuk payung yang ngga bisa di buka, kami masuk mobil sebentar untuk pindah ke mushola yang ada di kompleks SPBU. Setelah itu, kami turun lagi dan mencari warunng jagung bakar. Jagung bakarnya sebenernya enak, tapi sausnya pake saus sambal botolan yang seharga 500 per botol itu.

Kalo makan bakso aja saya jarang dikasih sausnya, eh ini.. Pasrah, saya akhirnya mengelap jagung bakar saya dengan tisu. Tapi masih tetep enak, dan saus sambalnya juga masih banyak yang tertinggal.

Sungguh hari yang basah dan repot. 😀

Anne Rice, Kyoko Hikawa & Carrefour
Sepulangnya dari Kuningan, saya dan Ori turun di salah satu kantor temen yang lokasinya tepat di sebelah Carrefour, tempat Ori menitipkan motor. Berhubung hujan masih deras, saya sudah mulai bersin-bersin, Ori malas menembus hujan, dan hanya beberapa menit lagi sebelum maghrib. Maka saya dan Ori memutuskan untuk sholat sekalian belanja di Carrefour. Yang tadinya hanya berniat belanja sedikit, malah jadi belanja banyak.
Saya yang tadinya cuma mau beli shampoo L’, tergiur dengan buku-buku yang dijual di Carrefour, pilihannya antara Runaway Jury – John Grisham atau The Mummy – Anne Rice. Dengan pertimbangan saya sudah cukup sering membaca karya John Grisham dan kalo sewaktu-waktu ingin saya bisa beli versi terjemahannya di Gramedia, maka pilihan pun jatuh ke The Mummy.
The Mummy akhirnya resmi menggantikan keberadaan Twenty Thousand Leagues Under the Sea – Jules Verne sebagai bacaan utama yang hampir saya baca 2 bulan ini tapi gagal saya selesaikan. Mungkin, lain waktu saya akan mengulangi lagi membacanya.

Dan hari ini begitu membuka Google, ternyata Jules Verne ulang tahun. Selamat ulang tahun yang ke 183, Jules Verne. Membaca setengah dari buku Anda, cukup bagi saya bahwa Bapak sangat peduli dengan detil, menyukai petualangan dan riset Bapak tidak main-main . 🙂

Masing-masing dari kami harus menyerahkan 89 ribu dan 88 ribu untuk menembus belanjaan. Selama belanja, Carrefour yang dahulunya Alfa Gudang Rabat yang beratap zincalum ini, sering mendadak berisik, tanda hujan turun deras dan mereda bergantian.

Setelah selesai belanja, hujan masih juga terlalu lebat untuk pulang.
Makan baso yang ada di foodcourt di depan Carrefour jadi pilihan kami membunuh waktu.

Seperti biasa, kami membahas buku. Mulanya soal Anne Rice dan Dan Brown. Kemudian Ori bercerita tentang Bleach, soal Shinigami dan sebangsanya, serta memprovokasi saya untuk mulai menonton Bleach. Saya mengangguk-angguk, lumayan tertarik tapi belum bisa membayangkannya. Saya berjanji untuk datang ke rumah Ori minggu depan dan mengkopi koleksi Bleach. Lalu pembicaraan pindah ke soal perpustakaan komik.

Dan lagi, pembicaraan berputar ke komik lama. Mangaka kesukaan kami sama, Kyoko Hikawa. Kali ini kami mengobrol Miriam, komik Kyoko Hikawa yang berseting di Barat.

Soal Jessie yang suka “HAPP!” menggigit tangan orang, Douglas, Miriam, Scarlet, Huey, Grace. Saya dan Ori bergantian menirukan dialog dan mimik tokoh-tokoh dalam Miriam. Untung foodcourt sepi.

Pulau Biawak
Ikatan alumni SMU saya memang lumayan kenceng, setelah tahun lalu sukses pergi ke Karimun Jawa, maka tahun ini direncanakan juga pergi ke pulau lain. Yang dekat aja, cuma di laut jawa beberapa mil dari Indramayu. Indramayu sendiri cuma sekitar satu jam perjalanan dari kota.

Pulau ini bernama pulau Biawak, dan seperti halnya pulau Komodo yang banyak komodonya. maka sesuai nama, pulau ini banyak biawaknya.
Ada apa di pulau Biawak selain biawak? Mercu suar. Selanjutnya, apa lagi? Hantu, sepertinya. Ini beneran. Kami punya istilah untuk itu, sungil. Untuk tempat yang ganjil dan banyak kejadian aneh, seperti mendadak jumlah rombongan bertambah, ada desiran suara nenek-nenek dan sebagainya.

Bukan rahasia bahwa fasilitas pariwisata yang tertata kadang sekedar mitos. Setelah kami melakukan survei dengan datang langsung ke Indramayu, maka perjalanan ke pulau Biawak membutuhkan waktu 6 jam, menggunakan perahu nelayan yang beratap terpal dan muat 10 orang. Keamanan dan kenyamanan tidak dijamin, secara implisit si Bapak nelayan yang kami temui berkata begitu.
Life jacket? Apa itu?

Scorpion, Taurean dan A
Apa yang membuat anda yakin buat hubungan anda dengan mantan baik-baik saja? Atau malah terlalu baik?
Buat saya ada beberapa ciri.

Misalnya, di bulan ke 6 setelah putus masih saja ada teman dekat anda yang tidak tahu bahwa anda sudah putus, di tanggal anniversary masih saja ada yang mengucapkan selamat setahunan, dan 2 bulan menjelang setahun anda putus, masih saja ada yang bilang, “Kok putus sih? Padahal kalian cocok.”

Ada kalanya saya ingin sekali menjadi pelaku PDA. Jangankan kalo putus, berantem aja ketahuan kok. Sampe sahut-sahutan status segala. Di awal-awal, lumayan berat buat saya kalau harus menjawab pertanyaan soal A, dan semua orang berasumsi kami masih bersama padahal tidak.

Jarang ada yang bertanya soal saya ke A, karena A sangat pendiam soal hal semacam ini, dia hanya bisa dikalahkan tiram kalo soal tutup mulut.

Tapi tidak bisa tidak, menjadi baik-baik saja adalah keharusan buat saya dan A. Kami adalah teman dari SMP, dan kemudian bersekolah di SMA yang sama.
Akan sangat merepotkan kalau hubungan kami ngga beres, pasti ribet ke depannya. Apalagi, karena A yang termasuk makhluk sosial dengan temen segudang, dan setelah saya bersama A beberapa waktu, maka saya juga kecipratan punya banyak temen, itu membuat mutual friends kami membengkak tajam.

Di hari Imlek, sebelum kami naik ke gunung, begitu saya dan Ori datang di tempat janjian, maka semua orang dengan heboh menyilakan saya duduk di samping A. Yang tadinya duduk di sebelah A sampai bangun dan berdiri. Saya dan A cuma cengengesan. Saya tanpa basa-basi langsung duduk di sebelah A.
Lah mau gimana lagi? Mau ogah-ogahan ala ABG malah bakal bikin kami keliatan konyol dan makin jadi bulan-bulanan.

Di hari Minggu waktu survei untuk main ke pulau, saya sengaja diajak, selain karena untuk menemani I yang tadinya jadi cewek yang satu-satunya, juga biar A lebih anteng, karena becandaan A kadang suka bikin orang merah dari muka sampai ke telinga. Mereka bilang, tiap ada saya A jadi ngga berkutik. Iya lah ngga berkutik, mau di ejekin balik? Nay nay, A ngga bakal ambil resiko. :mrgreen:

Saya dan A juga jadi cuma bertukar kata-kata sedikit saking bingungnya, baru saya bilang, “Eh..” aja udah di “Woooaah.. Diem-diem, ada yang mau ngomong..”

Nasib.

Tapi teteup, saya juga senang sampai tanggal 6 di bulan Februari, kami sudah bertemu 2 kali. Tahun lalu, sepanjang tahun saya cuma ketemu A sebanyak 7 kali, dan 4 kalinya diantara kami pergi bertiga atau berempat. Saking sedikitnya ampe masih keitung. 😆

Keberhasilan kami untuk tetap bertingkah “manis”, malah membuat semua orang gemas sekaligus yakin, that we meant for each other.

A selalu bilang, “Doain aja..”
Sementara kalimat favorit saya adalah, “Liat aja nanti..”

Sebenernya kami berdua tahu bahwa apa yang orang jaman sekarang bilang sebagai “balikan dan pacaran lagi”, tidak akan terjadi pada kami. Not a bit of chance.

Well, well, jadi Taurean dan Scorpion konon adalah zodiak yang sama sekali berkebalikan tapi sekaligus calon partner yang baik. Saya dan A membuktikannya. Bahwa kami adalah partner yang baik. Apalagi saat kami sudah tidak lagi menjadi partner.. =))

Flu yang Tak Kunjung Selesai
Dari sejak keluar Imlek, malamnya saya ambruk di kamar. Sepulang dari Carrefour, saya sampai jam setengah 9.

Tenggorokan sudah kerasa ngga enak, kecapean, kehujanan dan udara gunung yang dingin berkontribusi banyak. Dan sudah tau di atas dingin, saya malah memesan strawberry smoothies.  Tapi smoothiesnya juga ngga abis, saya cuma habis setengah. Tetap aja, pulangnya saya langsung terkapar. Dan semakin capek, semakin susah tidur maka selewat dini hari saya baru bisa tidur.
Jumat, aktifitas sudah diminamalkan, dan minum banyak-banyak. Makan sayuran, dan buah apapun yang ada.
Sabtu, sudah enakan, makanya pada hari minggu, saat mendadak jam setengah 10 pagi I mengajak saya cari akomodasi buat ke pulau, saya mengiyakan.
Selama perjalanan, saya masih seger-seger aja. Sempat ke Indomaret, ditraktir coklat dan eskrim. Waktu di pesisir Indramayu, angin pantainya kenceng banget menusuk-nusuk. Saya sampai kudu menyematkan ujung kerudung pake jarum dan bros ke atas kepala, padahal pas berangkat dari rumah saya sampirkan di bahu aja. Sementara yang cowok-cowok pakai jaket dan di resletingin sampai leher, saya dan I malah ga pake jaket. Waktu di dermaga saya sempet bilang, “Ih anginnya seger yaaa..”

Abis anginnya bau udara asin laut, lah harusnya ngga heran ya, namanya juga pesisir.
I sendiri ngga ngerti apa yang seger, karena buat dia ini lebih mirip angin kumbang yang dingin-kering di tiap bulan Juli atau Agustus

Pulangnya, saya tepar lagi.

Sampai ini ditulis, saya masih sentrap-sentrup meler dan demam. Mata juga perih pedas. Dan mamah saya sudah menelepon dari tadi, mengecek apa saya udah tidur atau belum.
Jadi lebih baik saya tidur saja,

Paw!

Advertisements

4 thoughts on “Lets Call It A Post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: