Kepada Lelaki Suar Jemari

Aku menulis lagi padamu. Lagi, karena aku sudah kehilangan hitungan mengenai berapa yang aku tulis saat memikirkanmu nun jauh di sana.

Apa kabar? Seperti apa aromamu kini? Apa jaketmu berbau campuran sabun mandimu dan asap knalpot yang kau dapat di jalan? Ceritakan. Aku ingin tahu, aku kehausan. Aku tidak mau sekedar tahu dari kata-kata yang hanya sejumlah 140 karakter. Aku ingin sesuatu yang bisa kubaca untukku sendiri.

Suratku kali ini, bukan lagi tentang bagaimana cinta hadir diantara kita. Atau bahkan diskusi panjang melelahkan tentang apakah itu cinta atau bukan. Kita sudah melewati masa itu. Waktu itu. Kita sudah berperang dengan keadaan dan sayangnya kita kalah. Kita sudah lelah dan berdarah.

Kau pikir aku baik-baik saja?
Aku sedih.
Mataku berkaca seiring surat ini aku tuliskan. Kau merasakannya tidak dari situ? Biasanya kau selalu bisa.
Biasanya aku yang tidak pernah peka pada suasana hatimu.
Aku selalu berpikir kau baik baik saja. Tapi kau memang selalu kelihatan baik-baik saja. Kau mengesankan bahwa kau baik-baik aja.

Karena kau terlihat tegar, karena kau terlihat begitu terperhatikan dan disayang. Terpagar rapat oleh orang-orang yang jelas tidak pernah menorehkan satu lagi luka di hatimu, yang kau bilang sudah carut marut itu.

Aku malu. Ketakutan. Aku mundur kemudian terpental. Jadilah aku hanya bisa duduk di kejauhan. Sesekali saja melambaikan tangan.

Tapi tentu saja, seperti biasa, aku juga bisa berpura-pura tidak ada apa-apa.
Aku bisa mengais-ngais perhatianmu tapi hanya terlihat seperti sesuatu yang kasual. Itu yang aku inginkan. Terlihat kasual. Aku ingin tampil dengan dagu terangkat dan senyum lebar. Beberapa senyumku tentu saja tulus, sementara yang lainya bisa dikategorikan sebagai senyum miris atau meringis. Kau tahu aku, senyumku tak pernah palsu. Hanya saja alasan yang mendasarinya bisa bermacam rupa.

Aku mati-matian menjaga bara yang sudah mengarangkan hati hingga habis ini agar tetap menyala.

Aku mendaraskan doa agar hati kerasmu bisa terbuka. Pun tidak, minimal iba.

Inikah alasanku menulis surat ini?
Tidak.
Tidak lagi. Bukan itu alasannya.

Sedih bukan berarti putus asa. Jika kau memang untukku, maka kau untukku. Jika kau menginginkan aku, maka kau memang menginginkan aku.

Dan jika kau memang menginginkan aku, kau akan mencari cara agar bisa bersamaku.
Tapi kuulangi lagi, surat ini bukan bahasan soal cinta, cara atau usaha. Ini tentang pasrah, ikhlas dan rela.

Aku menghitung langkah dengan cermat. Menjaga jarak agar kau tidak muak, sekaligus cukup dekat agar aku tidak terlalu merana.

Tapi makin lama, rindu kehabisan tenaga. Kau seperti mencerabut aku. Sampai rasanya aku tidak punya asa lagi untuk mendamba.

Aku bertahan menggapaimu dengan sisa-sisa nafas dan kemampuanku. Sehingga bila bara api sudah habis, dan aku luluh menjadi abu, aku bisa terlahir kembali.

Aku yang baru menyambut malu-malu tangan yang nanti terulur mantap untukku.

Kuharap kau juga begitu.

Nanti, akan ada tangan yang menawarkan pelukan, jangan ditampik. Menyerahlah, izinkan hatimu tenang dan berlabuh, Kuburlah wajahmu di hangat lekuk lehernya, hirup dan rasakan denyut nadinya. Saat itu kau sudah tenang, kau bisa mulai membisikkan dia mimpi-mimpi burukmu dan mimpi mimpi masa depanmu. Dia tidak akan ketakutan, percayalah padaku. Dia akan mengeratkan pelukannya dan menjanjikan esok hari untukmu.

Kita hanya tinggal menunggu hingga itu terjadi. Itu akan terjadi.

Sembari menunggu, maukah duduk di sampingku? Dengan bahu bersebelahan, tatapan kedepan, berpura-pura hanya sekadar kenal.

Meski demikian di bawah meja, tangan kita masih bisa bersentuhan.

Sebentar lagi. Bersabarlah di sana. Kita pasti bisa melewati ini.

Ah, ternyata sedihnya menulis ini hanya di tengah saja. Sekarang aku bisa tersenyum lagi.

Suatu hari, mungkin aku juga akan membaca ini dan senyum-senyum sendiri.

________________________________________________________
Ditulis untuk meramaikan #30harimenulissuratcinta, gatel banget deh abis baca beberapa postingan disana. Tadinya sih mau nulis yang konyol. Tapi nanti aaah~

Advertisements
%d bloggers like this: