Rahasia

Mari kita kembali ke awal mula.

Saat kamu belum jadi suar jemariku, penyebab kata mengalir sendu.

Bukan.

Bukan kembali ke pagi-pagi dimana hadirmu yang kucari tiap aku membuka mata.

Bukan saat aku mencarimu saat aku senang atau sedih.

Bukan pada saat kelakuanmu menjadi alasan senyum terulas. Atau pipi memerah.

Bukan pada malam-malam ketika “Selamat malam” tak pernah diucapkan karena kita berdua terlalu mengantuk bahkan untuk sekedar pamitan.

Bukan pada hadirmu dalam mimpi-mimpi.

Bukan saat itu yang ingin aku datangi.

Mungkin agak mundur lagi ke belakang.

Nah.

Tepat sekali. Disitu.

Disaat kita belum saling mengenal.

Sapa masih ditukar dengan canggung.

Dan mengagumimu adalah satu-satunya kemungkinan.

Bagaimana, Tuan, setuju?

Gambar dari sini.
Advertisements
%d bloggers like this: