Dear Doppelgänger

“Aku menemukan sesuatu, seseorang! Mirip kamu!”


Aku sedang tiduran di salah satu dahan, memikirkan urusanku sendiri saat dia mendekati pohon beringin kesayanganku dan berkata begitu.


Aku tidak yakin, sebenarnya. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk meladeni dia. Bagaimanapun aku masih membutuhkannya. Tidak baik membuat orang yang membantu kita merasa kesal.


“Jangan-jangan itu kamu.”


Aku terkikik.

Matanya yang berkilat antusias makin membuatku geli. Aku melayang turun dan mendarat di hadapannya.


“Kalo dia itu aku, lalu aku ini siapa?”


“Itu.. aku juga tidak tahu.” Bahunya terkulai lemas.


Aku tersenyum menang.


“Aku sudah mati. Terima saja.”

Tubuhku yang ringan terasa makin ringan. Di pandangan mata remaja ini, sosokku sedang menipis dan menghilang. Aku berusaha berpindah ke hutan pinggir kota. Disini terlalu berisik. Nanti saja aku kembali saat matahari sudah turun.


Dari semua orang di dunia ini, kenapa yang bisa melihatku adalah seseorang yang payah begini.


Menyedihkan sekali hidupku.


Eum, maksudku bukan hidup, seperti, benar-benar hidup. Karena, kau tahulah..

Advertisements
%d bloggers like this: