Let’s Just Believe, Karamida.


Terkadang Karamida penasaran kenapa manusia tidak bisa menulis jalan hidupnya sendiri.

Well, padahal sebenarnya Karamida memang menulis jalan hidupnya.
Meskipun tentu beberapa memang tergantung pada tinta-tinta yang sudah mengering.

Buku dibaca, mata kuliah yang bernilai E atau A, es krim sundae yang ceri-nya jatuh, yang membuat Karamida menjadi seperti Karamida yang sekarang ini.

Apa yang pernah di lakukan. Apa yang pernah di berikan. Apa yang di terima. Semua kebaikan. Semua kejahatan.

Satu hal dari Karamida setiap harinya, meskipun itu sekecil biji sawi, entah itu baik atau buruk, tersebar pelan.

Bergerilya.

Menanti dengan sabar saat-saat bertemu lagi dengan Karamida.

Satu senyum yang Karamida tawarkan pada seorang anak kecil yang ada di bus. Senyum yang ditularkan si kecil pada tantenya yang sedang sangat gundah karena harus pindah ke kota kecil di benua berbeda yang namanya belum pernah kau dengar kecuali aku beritahu.

Senyum yang sama diserahkan sang Tante pada pramugari, pramugari menularkannya pada patissiere, lalu menularkannya pada orang yang sedang pelari sambil membawa anjingnya, si pelari menyerahkan estafet senyum pada seseorang yang dia temui di ruang tunggu klinik gigi, si pasien gigi menularkannya pada sepupunya yang akan pergi ke suatu negara. Sang sepupu pasien gigi lalu tersenyum pada seseorang yang wajahnya selalu tampak kuatir.

Orang itu, yang kemudian tersenyum pada Karamida, yang sedang tercenung di bandara, memikirkan hatinya yang kini patah, menggembung terbalut perban.

Satu senyum membutuhkan waktu satu keliling dunia, sebelum akhirnya datang kembali pada Karamida.

Tadinya Karamida berpikir, inilah. Rumah.

Ternyata, bukan. Lalu Karamida, yang sebenarnya bersiap untuk tinggal, mengepak kembali barang-barang, mengikat tali sepatu kedsnya, membeli air mineral di minimarket terdekat, bersiap melakukan perjalanan jauh lagi. Tak lupa mengisi baterai camdignya. Mengisi pulsa modemnya. Untuk kembali merekam perjalanannya.

Lalu pergi ke bandara tanpa sekalipun menoleh kebelakang. Sambil menggenggam tiket sekali jalan.

Jangan kuatir, Karamida akan baik-baik saja.

Karena suatu hari, cinta akan datang pada Karamida. Meskipun harus menyebrang lautan dan samudra, melakukan perjalanan-perjalanan panjang yang melelahkan, Dia Yang Ditunggu pasti datang.

Karena tidak hanya Karamida yang menunggu.

Siapa tahu, di saat yang sama, di detik ini, Dia Yang Ditunggu sedang mencari seseorang yang sampai kini masih tak bernama.

gambar bunga poppy merah dari sini.

Advertisements
%d bloggers like this: