Padang Rumput


Ragia tahu ada padang rumput di pinggir kota
Bukan padang rumput sebenarnya, karena Ragia tidak tahu bila ada rumput yang tumbuh hingga setinggi betis.
Mungkin seharusnya ilalang.
“Ibu, aku pergi ke padang ilalang.” Ragia berkata pelan, sekilas saat melewati dapur dan melihat punggung ibunya.
Ibunya berbalik, tapi tidak mendapati siapa-siapa. Dia mengerutkan dahi mengulang ucapan yang tadi didengar. Apa tadi dia bilang? Padang ilalang?

Aidan merasa sore ini terlalu berangin.
Dia mempercepat langkahnya, menyusuri jalan seaspal yang hanya bisa di lalui satu mobil.
Kanan kirinya hanya padang rumput. Aidan tidak pernah berhenti merasa heran, mengapa ada berhektar-hektar padang rumput disini.
Mengapa belum ada pengembang yang membelinya, adalah pertanyaan lain.
Aidan sendiri berpikir bahwa ini bukanlah padang rumput.
Padang ilalang adalah kalimat yang tepat.
Tapi tentu saja dia tidak ingin orang lain menganggapnya aneh.
Maka itulah yang Aidan katakan pada kakaknya, saat dia menelepon Aidan.
“Sebentar lagi sampai di rumah,” Aidan menjawab cepat dengan terengah pada ponselnya, “lewat jalan pintas. Jalan aspal yang ngelewatin padang rumput itu.”

Di dalam kantung jaket, Ragia mengepalkan tinju. Dingin.
Dia menatap jauh ke horizon, matahari sore kini sudah berwarna kuning kemerahan.
Rumput di kakinya berwarna hijau keemasan dengan pantulan matahari. Angin membuat rumput bersuara mendesir.
Ragia tidak bisa berhenti berpikir betapa rumput disini begitu mirip dengan anemon laut.
Mereka seperti hidup dan bergerak.
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Ragia, membuatnya menatap ke arah sumber suara.
Sebuah mobil bak terbuka baru saja lewat. Rupanya klakson berbunyi demi seseorang.
Ragia menatap sosok itu. Mereka terpisah padang rumput sejauh 100 meter dan cahaya matahari sore yang menyilaukan. Tidak banyak yang bisa dilihat dari jarak sejauh itu.
Bila kemudian Ragia ditanya kembali, apa yang dia lihat, Ragia hanya bisa mendeskripsikan seorang anak lelaki (Ragia menyadari dari caranya berjalan, meskipun wajah anak itu tidak terlihat jelas karena dia berjalan terburu-buru dengan pandangan lurus kedepan) yang mengenakan jumper hitam.
Tapi kemudian Ragia tidak perduli, dia kembali melamun ke arah horizon.

Langkah cepat Aidan melambat pelan, saat dia menyadari ada seseorang yang berdiri di tengah padang rumput.
Entah apa yang dipikirkannya. Di sore dingin berangin, Aidan menggeleng heran, seorang gadis pula.
Kedua tangannya dimasukkan ke dalam jaketnya yang terlihat hangat dan berwarna seperti gandum. Aidan tidak terlalu yakin apa memang sungguh-sungguh sewarna gandum, karena matahari sore itu terlalu menyilaukan dan cahayanya yang kekuningan dapat membuatnya salah menerka.
Suara klakson mobil memekakkan telinga Aidan, membuatnya memaki pelan. Tapi membuatnya sadar bahwa dia telah berjalan melambat hanya karena sosok di tengah padang rumput.
Aidan berjalan cepat, dia sudah terlalu terlambat. Seharusnya dia sampai di rumah 15 menit yang lalu. Mereka sekeluarga akan makan malam, merayakan ulang tahun Ayah. Dan Aidan tidak ingin ditinggal sendirian.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Aidan tidak berhenti memikirkan gadis itu.
Meskipun tentu saja, besoknya Aidan sudah tidak perduli dan tidak ingat lagi.


Hingga 8 tahun ke depan, Ragia dan Aidan tidak pernah bertemu lagi, karena itu alangkah baiknya kita langsung memasuki mesin waktu dan mempercepat perjalanan kita, ke saat dimana Aidan dan Ragia sama-sama berusia 25 tahun.

Muzda Ragia Irsyad. Aidan tidak pernah mendengar namanya. Rekan semejanya mengatakan tadi bilang orang itulah yang menempati kursinya, sebelum dia datang. Karena kesalahan pengaturan meja. Sandra berbaik hati menunjuk ke pada seorang perempuan berambut panjang sebahu, duduk di meja berjarak 10 meter dari mejanya.
Seseorang bernama Muzda ini sedang sangat serius dengan ponselnya sendiri. Hampir tidak menyadari 5 orang lainnya yang duduk semeja dengan dia.
Cahaya kebiruan dari ponsel berpendar ke wajahnya. Aidan tersenyum kecil, ada sesuatu yang lucu dari profilnya.
“Kalian kayaknya sekota deh,”
“Begitu?” tanya Aidan singkat.
“Tadi kita ngobrol bentar waktu panitia nyariin kursi buat dia. Anaknya sih manis juga. Tapi aneh. Gugupan.”
Semua orang di mejanya tertawa. Aidan tertawa canggung.
Tidak enak rasanya menertawakan seseorang yang tidak ada disini untuk membela diri.
Lagipula apa yang salah dengan gugup?

Entah kenapa orang yang mengatur meja bisa membuatnya tertukar kursi dengan Aidan Anwar. Tidak mungkin panitia tidak kenal Aidan Anwar. Ragia saja yang hanya undangan dan berasal dari perusahaan lain, kenal. Ragia juga mengenali semua orang yang tadi sempat semeja dengannya.
Abdi Hartono, Sandra Wijaya, Mareeam Nauli, Gusti Kamal dan Pancaka Gemilang bersama Aidan Anwar adalah para company warrior dari Group Himmel.
Semua orang di mejanya tadi terlihat muda, ramah dan berenergi. Ragia sering mendengar soal kecemerlangan Aidan Anwar, bagaimana seseorang semuda dia bisa melesat menjadi Brand & Marketing Manager hanya dalam waktu 3 tahun.
Rumor soal jumlah gaji dan bonus tahunan Aidan Anwar membuat Ragia menelan ludah saat pertama kali mendengarnya. Gajinya sebagai staff IT jadi kedengeran seperti lelucon.
Ragia menatap Aidan Anwar yang baru datang, dan menempati tempat duduknya.
Ragia menghela nafas.
Kemudian ponsel Ragia bergetar, dia memeriksanya, e-mail panjang dari Kinan. Ragia tersenyum, memutuskan untuk membacanya sambil menunggu acara dimulai.
______________________________________________________________
Saat membuat cerita, orang yang menulisnya punya hak untuk memperlakukan tokoh mereka.

Saya suka sekali cerita dengan ending bahagia.
Jenis cerita dimana kedua tokohnya berhasil mengalahkan penjahat, menyadari bahwa selama ini mereka jatuh cinta, berjalan bergandengan tangan menuju matahari terbenam.

Tadinya saya ingin membuat Aidan dan Ragia bernasib serupa.
Cerita ini saya pikirkan saat hati saya senang. Dengan susu hangat dan dua buah pir di meja.

Sial sekali bagi Ragia dan Aidan, kemudian saya mengalami beberapa hari yang buruk.
Lalu saya jadi tidak senang.
Saya merasa seperti Raja Julian saat Mort memegang kakinya.

Jadi bagaimana kalau saya membiarkan saya Aidan dan Ragia begitu saja?
Membiarkan nasib mereka di cerita super pendek ini terombang ambing?

Padahal sebenarnya jarak mereka dengan seseorang yang bisa membuat hidup mereka menjadi lebih berwarna hanya selemparan batu.

Saya tidak menjanjikan mereka akan menikah. Tapi setidaknya mereka berhak saling bertemu dan mengenal, bukan?

Mengizinkan mereka minum coklat bersama di satu hari berhujan. Karena mereka sama-sama tidak membawa payung. Dan mereka sama-sama harus menunggu di sebuah teras kafe kecil dengan dinding bercat kuning dan papan tulis hitam berisi daftar menu.

Saya hanya perlu memberi mereka kesempatan untuk bertukar pandang.

Itu akan membuat Ragia untuk tersenyum kaku dan mengangguk sopan.
Senyum Ragia mengirimkan perasaan aneh pada Aidan, yang merasa perutnya bergejolak seperti yang biasanya terjadi tiap Aidan makan kerang.
Hanya saja, tidak seperti saat makan kerang, Aidan memutuskan dia menyukai perasaan ini.

Kemudian Aidan, yang selalu memandang dunia dengan mata penasaran, mengamati wajah Ragia dan berkata, “Maaf, mungkin anda sering mendengar perkataan macam ini tapi saya serius..” Dan Aidan tersenyum tulus. “Rasanya saya mengalami de javu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

Lalu, karena mereka saling mengenali dan mengingat, mereka memutuskan berteduh di dalam kafe, memesan dua cangkir besar coklat panas dengan taburan bubuk kayumanis. Menunggu hujan yang terlihat seperti tidak akan reda dalam waktu cepat.

Satu kesempatan.

Dan seterusnya Ragia dan Aidan yang akan menyelesaikan pekerjaaan saya. Cerita mereka akan tertulis dengan mudah.

Bukan begitu, bukan?
Seharusnya begitu.
Tapi saya memutuskan untuk men-terminate nasib mereka karena saya adalah penulis amatir yang jahat, moody dan pemalas.

Tak apa.
Mereka tidak tahu..
Dan sesuatu yang tidak mereka ketahui, tidak akan menyakitkan mereka.

Karena yang membedakan fiksi dengan kenyataan adalah, dalam fiksi apa yang kita ceritakan harus masuk akal.
Disisi lain, nasib kita sendiri.. kadang tidak masuk akal. Tentu, dalam ukuran nalar manusia.

Yang kita ketahui adalah, kesempatan, memang kadang bisa terbuang dengan sangat percuma.

Jadi, maukah anda melihat ke arah saya agar saya bisa tersenyum pada anda? Hehehehe. :mrgreen:

currently playing: Vanilla Twilight – Owl City

Advertisements

8 thoughts on “Padang Rumput

  1. @ asop: hai asop.. *melambaikan tangan* *ala miss-miss an* :mrgreen:

    @ tako: a-a-apa ini? dimana aku? siapa kamu? kenapa aku ada disini? *sadar dari kesurupan* =))

  2. Saat membuat cerita, orang yang menulisnya punya hak untuk memperlakukan tokoh mereka

    dan disinilah pengarang (termasuk Ikal) terobsesi dan mengalami adiksi-euforia untuk bermain-main sebagai tuhan dan mempermainkan nasib karakter2nya hingga ke kondisi paling sial…

    Sial sekali bagi Ragia dan Aidan, kemudian saya mengalami beberapa hari yang buruk.

    beberapa hari yang buruk…?

    oh…

    wow…

    😐

    • errr.. sebenernya kalo jamnya dijumlahkan, ngga nyampe sehari sih.. 😆

      jadi bisa kita bilang, pelampiasan? tapi dibolehkan mungkin, di dunia nyata tetap ngga ada darah yang tumpah.. *dalam kasus saya* :mrgreen:
      pernah nonton film Stranger Than Fiction? kadang kasian juga sih kalo ngeliat tokoh fiksi yang hancur penyet dan gepeng..

  3. Pingback: This Is Where The Story Ends | Strawberry Avalanche

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: