So You Think You Are A Writer

Merasa bisa menulis? Coba ikuti Sayembara 100% Roman Asli Indonesia yang diselenggarakan oleh Penerbit Gagasmedia. Dateline yang semula 25 September, diperpanjang sampai 25 Oktober. Terhitung hari ini, anda masih ada 1 bulan kurang 2 hari.

Percaya deh, kalo memang menulis buku gampang buat saya, pasti saya sudah jadi penulis sekarang..=))

Di komputer saya di Yogya, saya punya folder khusus tempat saya menyimpan naskah, draft dan segala macem.

Masalahnya, saya gampang terdistraksi.

Untuk menulis beberapa lembar saja, saya sampai harus seharian memutus sambungan internet saya. Karena kalau tidak, pasti saya akan tergoda untuk buka ini lah, buka itu lah, ngetwit lah. Apalagi kalo udah main google. Meh. Bisa dari topik ini ke situ ke sono ke sini.

Untung disini saya ga bisa buka facebook, kegemaran saya stalking (uhuk) jadi jauh berkurang dan saya bisa lebih produktif (dalam standar saya).

Menurut saya, tulisan fiksi saya jauh lebih terstruktur daripada tulisan blog saya (ya iya lah), tapi rasanya jadi kurang luwes dan saya ngga sreg kalo baca draft-draftnya.

Masalah klasik saya, kurang percaya diri. Ralat, tidak percaya diri. Kepercayaan diri rendah. Mudah dijatuhkan.

Saya pernah mengupload tulisan saya di salah satu forum tulis menulis dan komentar yang masuk adalah, “Wah kayak novel terjemahan ya.”

Ouch.

Saya akui bahwa saya penyuka novel terjemahan. Enid Blyton, Meg Cabot, John Grisham, Sidney Sheldon, Agatha Christie. Dan sapaan “lo” dan “gue” dalam dialog terus terang membuat saya kaku sendiri. :mrgreen:

Jadi biarpun menulis novel (roman) itu susah (banget), tapi menulis itu mudah.

Saya selalu suka menulis.

Orang yang punya imajinasi berlebihan dan suka memperhatikan hal-hal remeh temeh, sebaiknya memang punya wadah untuk menyalurkan keanehannya.

Dan untuk saya, itu adalah mauritia. Meskipun saya sendiri berniat pindah dan mencari rumah kontrakan baru. Mungkin yang anonimus, tidak di link ke FB biar saya bisa menulis semena-mena. 😆

Btw, saya sertakan cerita yang saya tulis di bawah ini.

Kenapa? Besok saya sudah mulai balik ke Yogyakarta, memulai proses kepindahan saya. Dipastikan akan sibuk, dan mungkin malah saya kehilangan mood menulis yang terbangun ketika saya di rumah.

Jadi kalo kerjaan yang baru 20% ini akan stuck di 20%, tanpa pernah menjadi 100%, saya tidak terlalu merasa bersalah pada si unborn child.. :mrgreen:

Ah, saya memang jago mengarang alasan ya. Ini adalah postingan yang paling penuh excuse.

Di hide karena memang bukan itu intinya. Cuma sekedar kangen aja ama blog ini tapi ngga ada bahasan.. *elus-elus mauritia*

Hati-hati ya, ini lumayan panjang, 4 halaman A4. Lebih ke young adult dan sebenarnya sih tidak ada isu yang spesifik yang dibahas.

Judulnya aja belum ada. (jadi niat ga sih? XD)

Pokoknya you’ve been warned.

Yours truly,

mauritia

__________________________________________________________

Menendang ban mobilnya sepertinya idenya yang bagus, tapi tidak akan menjadikan mobilnya kembali berjalan.

Sepertinya ada yang salah dengan indikator di tangki bensin, Bagas ingat betul tadi pagi mobilnya masih punya setengah bensin tersisa. Lebih dari cukup untuk mengantarnya pergi ke tempat latihan tenis hingga pulang lagi.

Bagas memijat keningnya.

Dia melihat ke arah jalan masuk kompleks. Baterai handphonenya mati sejak semalam. Masih 2 km lagi menuju rumahnya. Dia sudah melewati pangkalan ojek beberapa menit yang lalu.

Dia membuka pintu belakang mobil, mengambil tas olahraga dan mulai berjalan ke arah gerbang perumahan. Dia berfikir untuk untuk pulang menggunakan ojek saja.

Bagas menaungi matanya dengan tangan. Pengembang perumahan ini sadar lingkungan, site plan kompleks didesain agar hijau dan asri, rumah di dalam kompleks tidak boleh berpagar. Salah satu usaha mereka adalah menanami berbagai macam pohon peneduh di tepi jalan yang kini Bagas lewati, namun karena masih muda, tingginya tidak lebih dari 1,5 meter. Daunnya belum cukup rimbun untuk membuat bayangan.

Sebuah sedan metalik yang sedang berjalan dalam kecepatan sedang menuju gerbang kompleks mendadak berhenti. Bagas memperhatikannya memutar arah lalu mendekati tempat Bagas berdiri. Pengemudinya, seorang perempuan dengan dengan kacamata hitam dan berpakaian serba putih dari kemaja, rok hingga sepatu keluar dari mobil, mendekati Bagas.

“Bagas?”

“Ha?”

Bagas bingung, dia tidak pernah mengenal perempuan ini sebelumnya.

“Mau kemana? Ayo aku anterin.”

Sebuah minibus berhenti di belakang mobil sedan.

“Mobilnya mogok ya Gas?” tanya sang pengemudi minibus juga keluar mendekati mereka, menunjuk ke arah mobil Bagas.

“Iya.” Dan Bagas juga belum pernah melihat dua orang yang baru datang ini.

Seorang perempuan mengikuti di belakang pengemudi minibus. Perempuan itu merangkul sang pemilik mobil sedan dengan akrab.

“Mau jemput, Kinan ya Tri?”

“Iya Rum, tapi tadi mendadak ngeliat Bagas lagi jalan, jadi aku pikir dia butuh tumpangan.”

“Ya udah biar aku sama Galih aja yang anter Bagas, biar kita sekalian pulang juga. Kamu jemput Kinan aja gih.”

“Oh gitu ya, ya udah deh. Dah Arum.” Tri mengecup pipi Arum sekilas. “Dah Galih.”

“Iya mari.” Sahut Galih.

“Duluan ya Gas, salam buat Alisha.”

Bagas melongo melihat percakapannya di depannya. Sejak kapan dia jadi anggota Klub Tetangga Bahagia ini? Semua orang jadi baik hati, mengantri mengantarkannya pulang. Dia sudah setahun di sini dan keanehan macam ini belum pernah terjadi.

Bagas tahu dia harus menyalahkan siapa.

Atau dalam kasus ini, berterimakasih pada siapa.

“Ayo Gas.” Arum dan Galih berdiri menunggu Bagas. Bagas segera menenteng tas olahraganya dan mengikuti mereka ke arah mobil.

***

“Om Bagaaaas!” Seorang anak perempuan dengan pita merah jambu di kepalanya, melambaikan tangan dari dalam mobil dengan ceria, bertopang dagu di kaca mobil yang terbuka.

Bagas memicingkan mata. “Ya?”

Arum nyaris tertawa, dengan cepat menyamarkannya menjadi batuk kecil mendengar jawaban kaku Bagas.

“Lusi, ayo geser. Biar om Bagas bisa duduk.” Mereka bertiga masuk ke dalam mobil, Bagas membuka pintu penumpang. Lusi menggeser duduknya sambil melompat-lompat di kursi mobil.

“Jangan lompat-lompat Lusi, mobilnya mau jalan nih.” Tegur ayahnya

Hembusan AC yang dingin menerpa wajah Bagas ketika mobil mulai berjalan. Bagas menyandarkan tubuhnya dengan lega.

Lusi seperti tidak mendengarkan ucapan ayahnya, tapi tak urung dia berhenti juga, sambil menatap Bagas dengan pandangan tertarik. ”Aku mau main ke rumah tante Alisha, boleh ya?”

“Jangan. Alisha lagi pergi.” Jawab Bagas datar.

Arum dan Galih terkikik tertahan di kursi depan, Bagas pura-pura tidak mendengar.

“Pergi kemana?”

Memangnya aku harus tahu?

“Mungkin belanja.” Sahut Bagas sekenanya.

“Belanja apa?” Lusi memiringkan kepalanya, penasaran.

Anak kecil selalu cerewet. Menyebalkan. Kenapa orang tidak lahir saat mereka sudah memasuki masa puber saja sih?

“Kubis.”

Kikikan dari bangku depan makin tidak terbendung.

***

“Salam buat Alisha.” Arum dan Galih tersenyum dari dalam mobil, jauh lebih lebar dari saat tadi mereka pertama bertemu di jalan.

Tentu saja, kini mereka pasti menganggap Bagas seperti lelucon keluarga.

“Nanti kapan-kapan aku main sama Oom juga ya?” Lusi pantang menyerah, masih dengan semangat melambaikan tangannya.

Bagas membalas dengan menganggukkan kepala, menunggu sampai mobil mereka berlalu, baru kemudian memasuki halaman.

Aroma jerami kering menguar di udara.

Dari ekor matanya, dia melihat pak Erfan tetangga sebelah sedang berkebun. Mungkin bau jerami ini berasal dari taman mereka, Alisha juga sering menggunakan jerami sebagai mulsa. Alisha bilang, jerami mencegah kelembaban tanah di sekitar tanaman menguap terlalu cepat.

Bagas tertegun.

Tidak mengerti kenapa sekarang dia peduli dengan mulsa. Dia tidak pernah terlalu menanggapi bila Alisha mengajaknya ngobrol, tidak pernah pernah terlalu mendengarkan ucapan Alisha. Bagas sebenarnya sadar bahwa Alisha memang selalu bicara tentang apa saja. Berharap ada satu topik yang cukup menarik untuk ditanggapi Bagas.

Jarang berhasil, lebih sering gagal.

Mungkin alam bawah sadarnyalah yang mengingat semua ucapan Alisha.

Alam bawah sadar?

Hah! Dia tidak mengatakan hal itu. Panas matahari membuatnya berpikir yang tidak-tidak.

Bagas berjalan cepat dengan langkah panjang, berusaha tidak menoleh ke pekarangan keluarga Erfan. Dia sudah cukup bertemu banyak orang hari ini. Yang dia inginkan hanya mandi dan tidur siang. Dan makan. Tadi pagi sebelum berangkat, Bagas melihat Alisha memasak sayur bayam dan ayam goreng.

Di depan pintu, Bagas merogoh kantung celana.

“Sial,” rutuknya kesal.

Ada apa sih dengannya hari ini, dia mendengus, menyadari bahwa kunci rumahnya ada di kantung celana training. Dan celana trainingnya itu sekarang ada di loker ruang ganti di lapangan tenis yang tadi dia datangi.

Dengan putus asa, dia menggerakkan gagang pintu, berharap Alisha lupa mengunci pintu meskipun tahu harapannya terlalu konyol.

“Kenapa, Bagas?”

Bagas memejamkan mata sebentar sebelum berbalik menghadap pak Erfan dan tersenyum. Bagas berdoa semoga senyumnya tampak tulus. Dia akan membutuhkan bantuan tetangganya ini.

“Iya nih Pak, lupa bawa kunci. Padahal Alisha lagi pergi.”

“Tunggu saja disini, Gas.” Seru pak Erfan sambil melepas sarung tangan berkebunnya.

***

“Ya halo?”

Bagas, meskipun dia lebih suka memotong lidah daripada mengakuinya, merasa lega mendengar suara Alisha yang mendadak familiar di telinganya. Keriuhan melatari suara Alisha.

“Heh.” Sapa Bagas pendek.

“Bagas? Kamu kenapa pake handphone bu Erfan?”

“Cepat pulang, aku tunggu.”

“Lho bukannya kamu..”

“Pokoknya cepat.”

Bagas segera mematikan telepon.

Bagas tertawa jengah karena ketika membalikkan badannya dia menyadari bahwa bu Erfan, pak Erfan dan ketiga anaknya yang kini duduk melingkar di teras depan itu terpana menatapnya.

“Udah?” tanya bu Erfan ketika Bagas menyerahkan handphone miliknya.

“Iya Bu.” Bagas ikut duduk bersila bersama mereka.

Si sulung, si bungsu dan si tengah tak berkedip menatap Bagas. Mereka bertiga sudah beranjak remaja. Si sulung dan si bungsu adalah anak perempuan berwajah manis, sementara si tengah adalah anak lelaki dengan mata lebar dan rambut yang mencuat ke segala arah.

Bagas mengangukkan kepala. Mereka membalas anggukan kepala Bagas dengan mengangguk juga.

Bagas memutuskan untuk menyukai mereka.

“Aku ngga tahu kalo pasangan jaman sekarang nyapanya ‘Heh’.” Kata sang Sulung pada si Bungsu dengan sok tua, seolah dia sudah berusia 80 tahun dan kenyang memakan asam garam kehidupan.

“Iya, aku pikir semua pengantin baru menjijikkan kaya om Indra dan tante Septi kalo lagi ngobrol.” Sahut si Bungsu.

“Sayang, darling, honey, cuppycake..” Si Tengah menciumi punggung tangannya sendiri dengan penuh perasaan sambil memejamkan mata.

Oke, mungkin Bagas tidak menyukai mereka. Dan mungkin sebaiknya manusia tidak lahir saat bayi atau saat remaja, manusia lebih baik lahir langsung berusia 20an atau 30an.

“Hush.” Pak Erfan menyuruh mereka berhenti, dan meskipun terlihat tidak rela ketiga saudara itu menurut, saling menyikut dan meleletkan lidah.

Bu Erfan buru-buru menyerahkan segelas cairan merah jambu yang penuh es batu.

“Ini mas Bagas, sirupnya enak lho. Rasa pisang susu. Ini juga ada brownies, stik keju ama kastengel juga, kemarin bapaknya anak-anak ke Bandung. Kalo minggu siang gini kita emang sering duduk-duduk di teras gini, abis kalo hari biasa kan sibuk sendiri.”

“Wah, saya suka sirup ini.”

“Iya, ini juga kita dapet dari mbak Alisha kok. Mungkin mbak Alisha dapet kiriman banyak dari tantenya yang di Cirebon itu, atau dia beli waktu mudik ke Cirebon. Kita dapet dua botol, rasa pisang susu ama asam jeruk.”

Bagas mengernyitkan dahi. “Memang Alisha orang Cirebon?” Bagas berkata lebih kepada dirinya sendiri sambil menghirup minumannya.

Untuk alasan yang tidak Bagas mengerti, keluarga di depannya tersedak berbarengan.

__________________________________________________________

Advertisements

2 thoughts on “So You Think You Are A Writer

  1. dear mbak tia, wah saya suka sirup ini. eh saya suka cerita ini, maksudnya. adakah lanjutannya?

    mendadak saya dikerumuni rasa penasaran membaca tulisan jenius yang sekarang (semoga masih) bertengger di draft komputer mbak tia. is there any chance?

    • hahaha.. Debbie mau? nanti aku tanya apa JNE melayani paket pengiriman sirup 😆

      mari deb, bantu aku berdoa biar cerita ini ada kelanjutannya. amin. XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: