Tuhan

Ada yang bilang, agama itu seperti rumah.

Ada yang udah tinggal sendiri, ada yang masih numpang ama orang tua, ada yang ngontrak, ada yang ngga punya.

Rasanya agak aneh ngomongin agama.

Keluarga saya cukup religius. Mengaji setiap habis sholat itu jadi kebiasaan, sholat sunnah itu di usahakan.

Mungkin memang dalam urusan agama, sama seperti urusan tempat tinggal dan lain-lain,  saya masih “menumpang”. Menghapal masih disuruh-suruh. Nonton ceramah di TV masih disuruh-suruh. Baca buku agama masih di suruh-suruh.

Saya masih harus lebih banyak belajar agar saya punya rumah sendiri.

Tapi, meskipun begitu, saya percaya Tuhan. Setulus hati saya, saya percaya.

Saya selalu lari dan mengadu pada Tuhan saya, saat sedih ataupun senang, tenang maupun bimbang.

Kadang berdoa sambil tersenyum, bersyukur dengan kata-kata susul menyusul.

Kadang menangis terisak malam-malam sampai mukena dan sajadah saya basah.

Bahkan saat saya merasa lelah dan ingin pergi.

Melihat teman yang dengan asyik merokok kalau ada masalah. Atau minum sekalian dan lupa sekalian. Sepertinya mereka santai aja.

Tapi pada akhirnya, saya tidak pernah pergi.

Sujud lagi, mengadu lagi, menangis lagi, berdoa lagi, bersyukur lagi.

Saya percaya.

Bahwa Tuhan punya jawaban sendiri untuk doa saya, Tuhan punya jalan sendiri untuk saya, bahwa saya tidaklah perlu menggugat apa-apa yang sudah diputuskan oleh Tuhan saya untuk saya.

Karena seperti yang ditulis oleh empe, teman smp-sma saya : Insya Allah, Allah itu seperti apa yang kita pikirkan.

Dan saya pikir, Allah menyayangi saya…

Advertisements
%d bloggers like this: