The White Tiger

Judul : The White Tiger
Pengarang : Aravind Adiga
Penerbit : Penerbit Andi
Harga : Rp 66.000 (di Toga Mas diskon 20%)

India adalah negara yang saya kenal sejak saya masih kecil.

Dari kecil, karena mbak di rumah punya jadwal tetap di hari Senin-Jumat, menyalakan film India di RCTI sejak pukul 9 sampai pukul 12 sambil masak, nyuci, nyuapin dan beresin rumah. (Hari Sabtu di RCTI ga ada film India, adanya vampir cina yang selalu berhenti melompat tiap ditempelin kertas mantra kuning).

Begitu masuk Buletin Siang, TV dimatikan, saya dan dua adik saya disuruh tidur siang. Mbak meneruskan pekerjaannya, menyetrika baju sambil mendengar sandiwara di radio dua band FM-MW. Ga terlalu ingat apa judulnya. Cuma salah satu tokohnya bernama Nala Ratih dan tangan dia buntung dan di sembunyikan di kawah sebuah gunung. Rada sadis emang.

Tapi sandiwara radio itu, beserta iklan batere ABC dan iklan obat yang sepertinya di bintangi oleh pelawak Kadir (dengan kalimat khas, “Aduuh biyuungg..”) tidak pernah gagal menjadi lullaby kami bertiga. Kami bersaudara selalu sukses tidur tiap siang!

Sampai mana tadi.. Oh ya, India.

Film India yang saya tonton kala itu selalu tipikal. Putih dan hitam. Jahat dan baik. Kaya dan miskin. Seperti menggunakan rapido dan penggaris logam, batasnya jelas, tegas dan presisi hingga ke milimeternya.

Orang baik biasanya bernama Govind, Vijay dan Vikram. Orang jahat biasanya bernama Thakur atau Bahadur. Kalo polisinya belum inspektur, berarti harus pake seragam dengan celana pendek. Kalau sudah inspektur boleh kemana-mana bawa tongkat sepanjang 30 cm dengan diameter 1 cm terbuat dari kayu yang di pernis.

Dan dari dulu sampai sekarang, saya selalu berfikir seragam mereka mirip seragam Mamah dan Bapak, keduanya bekerja sebagai para abdi negara cabang UPTD, karena seragam polisi kita masih ada gradasi warnanya, atasan coklat sementara bawahan coklat tua.

Orang India itu ekspresif. Mereka menggelengkan kepala saat bahkan saat mengatakan iya. Semua suka menari, saat sedih atau senang. Apalagi saat jatuh cinta. Para prianya selalu suka menarik kain sari para wanitanya, sementara sang wanita tersenyum malu-malu sambil mengibaskan rambut hitam legam terkepang mereka. Mereka makan dari piring logam, manisan mereka bulat berwarna oranye

Saya, tidak pernah terlalu ngefans ama film India. Sekedar menikmati saja.

Waktu saya kelas 3 SMP, nyaris semua teman sekolah saya tergila-gila sama Kuch Kuch Hota Hai.

Saya nonton Kuch Kuch Hota Hai di TV… Dua tahun kemudian.

Jadi saya tidak punya ekspektasi berlebih waktu saya meminjam The White Tiger yang ditulis oleh Aravind Adiga. Saat itu saya sedang butuh distraksi saja.

Di cover buku ada emblem “Winner of The Man Booker Award” dan pujian dari USA Today soal salah satu buku terbaik dekade ini.

Saya masih lempeng. Karena kurang ilmu dan malas, mungkin saya baru akan membelalakkan mata kalo emblem itu menuliskan sesuatu yang familiar di kuping saya seperti Pulitzer atau Nobel Sastra. (Dan setelah adegan membelalakkan mata, saya tidak jadi baca karena minder sama penghargaannya).

Karena itu saya terkejut, sekaligus senang waktu saya tersenyum di halaman awal, lalu terbahak-bahak di halaman belasan dan sepanjang buku saya bergantian menangis, terharu, gemas, geli, dan tertawa.

Balram, sang Harimau Putih, menceritakan perjalannya dari seorang anak kurus dari seorang penarik rickshaw yang putus sekolah, menjadi supir yang sangat setia sampai kemudian membunuh sang tuan dan menyulap diri menjadi seorang entrepreneur sukses di Bangalore.

Aravind Adiga tahu betul apa yang dia tulis.

Adiga mengungkapkan secara detil pembagian kasta, hubungan antara Islam dan Hindu, tradisi dan drama keluarga, pembangunan Delhi, keadaan sosial di India hingga pemerintahan yang korup.

Dan tidak seperti film India yang dulu saya tonton, tidak ada yang tipikal dari cerita ini. Semuanya terasa manusiawi. Bahwa kebohongan, kelicikan, ketulusan dan kebaikan memang alami.

Adiga dengan sabar menjalinkan hubungan antara Balram dan Ashok, sabar menceritakan secara runut emosi dan tekanan yang dialami Balram hingga ketika tiba saatnya Balram yang mulanya lugu, polos dan setia menggorok leher Ashok, dalam hati saya setengah berkata, “Ya! Ya!”

Soal bunuh dan gorok, ini bukan spoiler karena tertulis juga di halaman belakang buku.. :mrgreen:

Dalam beberapa hal, saya selalu ingat Indonesia saat membaca beberapa bagiannya.

Soal dana kesehatan yang disunat, anak yang putus sekolah, janji yang di umbar saat pemilu tapi terlupakan segera sesudahnya, kesenjangan soaial yang luar biasa atau pengusaha yang menyogok aparat.

Saya seperti diingatkan, bahwa rakyat India (dan -ehm- Indonesia) ternyata begitu sabarnya.

Advertisements

12 thoughts on “The White Tiger

  1. walah prolognya… 😐 spesial untuk bagian prelude, harusnya dikasih sub-title ‘My Name Is Tia, Kan?’ =))

    jum’at kemaren liat ini buku di gramedia ambarrukmo plasa. sedikit penasaran lantaran bingung baca judul kovernya. nama pengarang nyempil seolah menjadi bagian dari judul :mrgreen:

    ngemeng2, sepertinya ini buku yang humanis, dan mengingatkan saya akan Harimau! Harimau!-nya Mochtar Lobis, yang pada akhirnya mengungkap borok manusia-manusia yang terhormat dalam strata masyarakat

  2. sepertinya menarik, besok Sabtu pas main ke TM cari aah :mrgreen:

    ngomong2 India, jadi inget kata2 di sebuah sinopsis buku yang kurang lebih bunyinya, “semua masalah ada jalan keluarnya tapi tidak dengan menari berputar mengelilingi pohon” πŸ˜›

  3. @ Takodok : hoo.. ternyata judul novelnyanya Q & A ya? Btw, saya belum nonton Slumdog looh, ragu2 mau nonton, takut ga tegaan.. XD

    @ Kuro : mwahaha.. menunjukkan bahwa India mendarah daging tapi baru kali ini saya baca buku dari pengarang India. :))

    Harimau! Harimau! juga saya belum baca. Ga pernah nemuin 😦
    Kenalnya cuma dari soal2 ulangan karena kalo ga salah Mochtar Lubis angkatan Balai Pustaka ya?

    Dan untungnya cerita ini dikemas dalam komedi kelam, mungkin karena lebih gampang menyentuh orang dengan cara tertawa dan menertawakan diri sendiri..

    @ julianus : dilihat dulu mas, boleh. πŸ˜€

    @ Asop : hwahahaha.. Betul anak muda, carilah buku yang menarik buatmu karena niscaya itu akan lebih baik bagimu.. *sok bijak*
    πŸ˜†

  4. iya, diterbitkan ulang judulnya jadi “Teka-Teki Cinta Sang Pramusaji”. Aneh. πŸ˜†

    kenapa ga tegaan neng? Happy Ending kok *spoiler* πŸ˜›

  5. Weleh, jadi tertarik…
    Sempat tertarik buat beli karena ada embel-embel winner of something,… tapi langsung urung begitu tau kalau berbau-bau India, karena malas kalo di tengah-tengah proses pembacaan kudu disela joget2 dan nyanyi demi menghilangkan gundah gulana XD *halah*
    Versi terjemahannya enak dibaca kah?

    • Enak mbaaakk. Ngalir banget terjemahannya. Iya bener, ini nih poin yang kudu diperhatiin kalo baca buku terjemahan.

      Malah kadang penerbit besar macam Gr*amedia yang kadang terjemahannya ganggu.

      Di Twilight edisi pertama (bacaaan ringan namun tebal, btw o_o), walking on runway di artikan sebagai berjalan di landasan pacu as in landasan pacu di bandara.

      Padahal asli, itu kudunya runway kayak yang model jalan itu, ya kan mbak, ya kan? Ahahaha…

  6. Mbak lucu banget nulisnya… hehehe…
    Ya, aku juga menikmati banget baca white tiger ini… walopun miris ceritanya… tapi layaklah dapet penghargaan.. Tapi kayaknya novel2 Indonesia juga banyak yang lebih bagus dari ini dan juga layak dapet man booker prize, cuman blum ada kesempatan aja kali yaa… πŸ˜‰

  7. Hahaha, iya banyak ya sebenernya yang sanggup mengaduk2 emosi..
    Tapi mungkin banyak di kenal dulu biar makin banyak yang tau kalo bukunya bagus.Kayak Gramedia yang lumayan rajin tuh ngebawa buku Indonesia terbitannya buat diterbitin di negara-negara lain πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: