The Chronicles of Narnia : The Magician’s Nephew

Saya punya kebiasaan menelepon dan ditelepon pada jam-jam tak lazim, seperti pukul 5 pagi atau jam setengah 1 malam.

Setidaknya beberapa bulan yang lalu, saat saya masih menjadi makhluk nocturnal dan baru bisa tidur pada jam 3 pagi, saya menerima telepon jam satu malam di lantai 3 kosan, dengan sandal jepit, daster, pashmina hijau dan mata berbinar.

Tapi belakangan, saya lebih sering tidur di bawah jam 10. Maka telepon dini hari lebih seperti alarm, saya terbangun karena suara dering telepon dan menerima telepon dari bawah selimut dengan suara mengantuk dan nyawa yang belum terkumpul.

Kalau sudah begitu, hal pertama yang saya ceritakan adalah mimpi-mimpi saya. Sayang sekali tidak ada yang menarik dari mimpi saya. Mimpi soal sekumpulan orang menunjuk-nunjuk hidung saya, mimpi membeli obat batuk di apotek, dan mimpi tentang menonton Alice in Wonderland di bioskop (saya belum nonton Alice T_____T).

Jika mimpi saya tidak menarik dan saya adalah pencerita yang payah maka C.S. Lewis adalah kebalikannya.

The Magician’s Nephew adalah buku ke 6 di urutan publikasi buku Narnia Chronicle, tapi buku pertama di urutan kronologis. Menceritakan persahabatan soal Polly Plummer dan Digory Kirke yang terlempar ke Narnia gara-gara Uncle Andrew, sang Pesulap, paman dari Digory. Tertulis di Wiki, buku ini bertujuan untuk menggambarkan dunia Narnia  pada pembaca.

Saya tidak pernak tertarik membaca Narnia. Melihat filmnya pun sambil lalu. Satu-satunya yang membuat saya membaca The Magician’s Nephew adalah karena saya tidak punya bahan bacaan lain dan buku ini kebetulan ada di rak buku teman saya.

Saya sendiri terkejut karena saya menikmatinya. Sangat menikmatinya.

Ceritanya lancar, mengalir, tanpa banyak vocabulary aneh seperti yang saya temui kala membaca Harry Potter. Narasi dan deskripsinya bersih dan jelas.

C.S. Lewis cerdas, lucu, sabar dan tidak terburu-buru dalam menulis.

The trees grew close together and were so leafy that he could get no glimpse of the sky. All the light was green light that came through the leaves; but there must have been a very strong sun overhead, for this green daylight was bright and warm. It was the quitest wood you could possibly imagine. There were no birds, no insects, no animals and no wind. You could almost feel the trees growing.

..The Sun above the ruins of Charn had looked older than ours; this looked younger. You could imagine  that imagine that it laughed for joy as it came up.

Saya tahu sekarang kenapa cerita anak-anak klasik ini punya banyak penggemar. Oh, saya bahkan sudah memutuskan untuk ikut menggemari Narnia. :mrgreen:

Saya belum pernah membaca Narnia versi bahasa Indonesia, tapi saya yakin membacanya dalam bahasa asli akan lebih indah, semata-mata karena kita bisa menikmati pemilihan kata, struktur kalimat dan bahasa khas para tokohnya.

Advertisements

4 thoughts on “The Chronicles of Narnia : The Magician’s Nephew

  1. Peacock – Adamson shown me the bad version of Narnia, so that i dont lick a single like in this chronicle.

    atau mungkin ini cuman masalah waktu rilis yang salah. Narnia muncul pasca kesuksesan Potter. kalau mereka muncul lebih dulu ketimbang Potter, mungkin saya bisa menyukai ~ atau menonton dengan hikmad film ini. Adamson kudu belajar soal ini sama si Bruckheimer-Newell =))

    tapi saya yakin membacanya dalam bahasa asli akan lebih indah, semata-mata karena kita bisa menikmati pemilihan kata, struktur kalimat dan bahasa khas para tokohnya

    well, if your english is as bad as mine, the translation is a big relief, my dear. or would you like to give a try to ‘The Sisters Grimm’ series? i do have one, and it still sealed in its virginity 😉

  2. @ takodok : saya cuma dua, satunya The Voyage of Dawn Treader. Wah udah baca semuaa, aku iriii.. ^^

    @ kuro : “your english as bad as mine?” oh well..
    aku memikirkan suatu majas dalam bahasa Indonesia, namanya majas ironi.. :mrgreean:

    @ arief : then I encouraged you to read Narnia! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: