Ullen Sentalu

Waktu : Minggu, 18 April 2010
Cast : Chandra, Nana, Endang, Dewi, Tia

Awalnya bingung Ullen Sentalu ada dimananya Kali Boyong, karena alamat yang tertera di web resmi Ullen Sentalu adalah Jalan Boyong Taman Wisata Kaliurang.

Tapi dengan menggunakan semboyan bijak Berangkat Aja Dulu Sampai Di Sana Baru Ntar Tanya Mamang Beca (tentu saja karena di Yogya ngga ada mamang beca, kami bertanya pada petugas keamanan di Tempat Wisata Kaliurang) akhirnya kami sampai juga di Ullen Sentalu.

Arahan dari Bapak Petugas Keamanan jelas dan singkat, dia menunjuk ke arah Barat, “Museumnya ada di setelah lapangan tenis.”

Oh, saya baru sadar ternyata selama ini memang ada lapangan tenis di Taman Wisata.

Masuk ke dalam jalan setapak berbatu yang lumayan mulus, kita melihat bangunan berbatu tempat membeli tiket serta pintu masuk dengan tulisan Ullen Sentalu di plakat kayu.

Tiket masuknya $US 5 untuk orang asing, Rp 25.000 untuk umum dan Rp 15.000 untuk pelajar.

Saya masih rada flu berat saat itu jadi bingung ama perubahan suasana yang kerasa drastis. Ullen Sentalu cuma lebih kurang 30 menit dari tempat saya tinggal. Jadi kurang dari setengah jam sebelumnya saya masih dalam ingar bingar suasana burjo dan panasnya Yogyakarta.

Lalu setengah jam berikutnya, saya menemui jalan setapak dari tanah, padang rumput luas, tempat teduh dengan kanopi dari pohon-pohon besar berlumut, udara pegunungan yang sejuk, plakat kayu dan bangunan berbatu? Saya mendadak gegar budaya.

Saya dan teman-teman sampai pukul 11.15, oleh Kakek Penjual Tiket kami diminta menunggu sampai jam setengah 12 sebelum masuk ke dalam. Suaranya halus sekali, saya sampai menempelkan pipi ke kaca di tempat tiket biar bisa denger instruksi Kakek.

Jam 11.30, kami berkumpul di depan pintu masuk. Tas ransel dimasukkan ke dalam loker. Syaratnya cuma satu selama di dalam : tidak boleh mengambil foto.

Chandra, sang fotografer yang suka ga tahan kalo ga moto, hari itu dengan patuh tidak mengambil gambar sepanjang tur 50 menit kami.

Ullen Sentalu terdiri dari ruangan-ruangan yang terpisah. Beberapa bangunannya disatukan oleh jalan batu yang dibangun di atas parit, dinamakan Kampung Kambang.

Nyaris semua ruangan dan pilar di Ullen Sentalu terbuat dari batuan bulat sebesar kepalan tangan berwarna abu-abu. Di beberapa koridor, pilar batu dipadukan dengan dinding kaca tebal. Banyak arca dewi-dewi dan Ganesha. Beberapa  kolam berisi daun teratai tersebar di museum, tapi yang aku paling takjub melihat akar beringin berwarna merah jambu yang masuk di antara atap koridor.

Biarpun terbuat dari kaca dan batu, Ullen Sentalu tetap terasa menyatu dengan hutan Kaswangan yang mengelilingi dan mengitarinya.

Kalo di ringkas dalam satu kalimat maka kalimat itu adalah : bangunan di dalam Ullen Sentalu keren sekali.

Chandra dan Nana sepanjang jalan dari satu ruangan ke ruangan lain membicarakan betapa mereka nanti ingin punya rumah seperti ini.

Ruangan-ruangan pertama berisi lukisan-lukisan superbesar, di repro dari lukisan milik Keraton. Dari lukisan itu, Pemandu di Ullen Sentalu bercerita dengan lancar soal silsilah Kerajaan Mataram Islam, cikal bakal Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Dari mulai cerita Gusti Nurul yang cantik jelita, yang menari di Belanda saat Ratu Juliana menikah, cerita soal Pangeran Henki dan Pangeran Bobi, serta Pakubuwono X yang beristri 41 orang. Juga ada lukisan 3 dimensi yang menatap kemanapun kita pergi.

Saya sudah pernah mendengar soal lukisan tiga dimensi ini dari tipi, tapi begitu saya melihatnya sendiri rasanya.. beda.

Ada juga ruangan yang berisi batik. Berbeda dengan jaman sekarang yang tinggal cap dan jadi, jaman dulu pembatik harus puasa dan menjalani lelaku sebelum menyelesaikan karyanya. Itulah mengapa konon batik kala itu bertuah.

Motif Parang, misalnya, bila dipakai dapat menajamkan pikiran.

Batik motif Taruntum bagus dipakai oleh orangtua pengantin karena diharapkan dapat menuntun anak-anaknya dalam kehidupan perkawinan. Tapi Taruntum dilarang digunakan untuk kain penutup orang mati karena ditakutkan yang mati akan menuntun yang hidup.

Sementara untuk untuk pria yang hendak melamar gadis, memakai batik bermotif  Satriya Manah Ukel konon akan melancarkan lamaran dan dijamin bakal diterima.

Wow.

Ada juga satu ruangan yang berisi lukisan Lady Di dan Pangeran Charles saat mereka berkunjung ke keraton, lukisan pengantin wanita Jawa, serta lukisan tari Bedhaya Ketawang.

Tarian Bedhaya Ketawang ini hanya di gelar di saat-saat penting, ditarikan oleh 9 gadis yang masih perawan, berpuasa sebelumnya dan tidak sedang menstruasi. Jika para penari benar-benar berkonsentrasi, maka akan datang penari ke 10 akan datang, Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul.

Konon, Bedhaya Ketawang diciptakan oleh Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul dan Panembahan Senopati, sang pendiri Kerajaan Mataram Islam.

Entah kenapa, tapi lukisan besar Bedhaya Ketawang ini adalah lukisan yang paling ‘mengena’ dari seluruh lukisan yang saya lihat hari itu.

Selesai tur, kami disuguhi minuman awaet muda resep dari Gusti Kanjeng Ratoe Mas yang terasa seperti air gula merah, jahe dan jeruk.

Errr.. Susah sekali mencari kalimat penutup.

Krik krik krik.

Tapi percayalah, bila ke Yogyakarta sempatkan main ke Ullen Sentalu. Budaya Jawa, dengan segala peradaban, kekayaan, seni dan filosofinya yang indah, setidaknya terwakilkan di museum unik ini.

Ullen Sentalu

http://www.ullensentalu.com/profile.php

Advertisements

10 thoughts on “Ullen Sentalu

  1. Tiket masuknya $US 5 untuk orang asing

    oh wow… berarti saya kudu bayar USD 5 😐

    Syaratnya cuma satu selam di dalam : tidak boleh mengambil foto

    mau tau sebabnya kenapa ga boleh? kalo ada yang motret dan majang seisi ullen sentalu di internyet, orang jadi tau apa isi ullen dan enggak ngerasa perlu berkunjung langsung ke sono *ngomyang*

    Berbeda dengan jaman sekarang yang tinggal cap dan jadi, jaman dulu pembatik harus puasa dan menjalani lelaku sebelum menyelesaikan karyanya. Itulah mengapa konon batik kala itu bertuah

    indeed. batik manual dengan desain manual versi saya *hasil kombinasi kawung yang diulang2 campur parang rusak* lebih bertuah. lantaran nakar zat warna indigo-nya konsentrasinya terlalu tinggi, pas dicelup kering kain hasil batikan saya sampe rusak =))

    Tarian Bedhaya Ketawang ini hanya di gelar di saat-saat penting, ditarikan oleh 9 gadis yang masih perawan, berpuasa sebelumnya dan tidak sedang menstruasi

    dulu pas ditempa buat nari ini pas jaman smp saya sedang tidak mens… berasa jadi mince saja waktu itu 😛

  2. Hey Jude!
    Hahahahaha. Adoohh… Namanya lucu sih, saya berasa teriak2.
    Apah? Mau bayar $US 5? Yakinnn?
    Jowone nang ndhi, ‘le?

    Soal potret2 ituu, saya lebih kuatir kalo poto ber4 jadi ber5, poto ber5 jadi ber6 dst.. =))

    eh bisa ngebatik mas? sendiri apa di suatu tempat? plus canting dan malam? wah saya mauuu loohh…

    err.. sebentar. nari Bedhaya Ketawang? o,O
    emang cowok boleh? atau saya salah menebak gender anda?

    tapi.. tapi.. saya sudah nyaris setengah tahun memanggil anda dengan sebutan Mas.. ==;

  3. Hey Jude!
    Hahahahaha. Adoohh… Namanya lucu sih, saya berasa teriak2

    dalam rangka memakai avatar jude law sih 😛 dan ini versi manggil Jude a la The Beatles =))

    Soal potret2 ituu, saya lebih kuatir kalo poto ber4 jadi ber5, poto ber5 jadi ber6 dst.. =))

    unsur sugesti memang paling potensial bikin orang jadi skizofrenik + delusional sekaligus :{

    eh bisa ngebatik mas? sendiri apa di suatu tempat? plus canting dan malam? wah saya mauuu loohh…

    ngebatik masuk dalam kurikulum sekolah. tapi kudu cari kompor sama canting sendiri, disuruh bikin desain sendiri, dan kudu beli zat pewarna di guru. cantingnya bisa pake yang single atau double. sense-nya beda banget sama batik cap/printing :}

    err.. sebentar. nari Bedhaya Ketawang? o,O
    emang cowok boleh? atau saya salah menebak gender anda?

    emansipasi pria. atau apalah. yang pasti terpaksa. soalnya diwajibkan sama guru saya yang juga rangkap pemain ketoprak dan wayang orang sekaligus sinden yang kalo mau tayang di wayang orang/ketoprak di tvri selalu bilang; “besok pada nonton ya anak-anak” ~:>

    tapi.. tapi.. saya sudah nyaris setengah tahun memanggil anda dengan sebutan Mas.. ==;

    basically, you can define and notice the differences between male or female by the way they communicate :-<

  4. beberapa kali main ke jogja,belum pernah sekalipun menyempatkan diri untuk main ke sana.mungkin suatu saat akan berkunjung untuk sekedar mencari suasana “jawa”

  5. @ Hey Jude : mwahahahaha.. percayalah, bukan saja postingan ente yang bisa saya nikmati. komen2nya juga.
    sepertinya mulai sekarang saya bisa percaya dan mengimani, bahwa sudah seharusnya ada buku bertuliskan nama anda atau membuka website dengan domain pribadi.. walaupun tentu saja, pasti saya akan mendengar alasan soal procrastinator dan kesibukan anda.. 😆
    but i believe.. in (not) very distant future :mrgreen:

    @ alief : cobalah. worth every penny.. 😀

  6. ^

    mwahahahaha.. percayalah, bukan saja postingan ente yang bisa saya nikmati. komen2nya juga.

    lip service? seleramu aneh juga 😛

    sepertinya mulai sekarang saya bisa percaya dan mengimani, bahwa sudah seharusnya ada buku bertuliskan nama anda…

    buku? yang jelas bukan novel kacangan. kalaupun novel, minimal isinya bakal membikin pembacanya merasakan sensasi multi-org*sm secara leksikal =))
    saya sedang menyusun sesuatu, yang saya kasih nama KUROLOGY. meski kedengaran seperti ideologi, tapi isinya cuman beberapa poin hal yang humanis, manusiawi, namun oleh orang yang sok manusiawi dianggap tidak manusiawi.

    atau membuka website dengan domain pribadi..

    domain pribadi? buat apa? hla wong saya sudah memasukkan opsi ‘blog-deletion’ dalam skenario blogging saya. rugilah kalo sampe saya kudu berlangganan hosting berbayar 😐

    walaupun tentu saja, pasti saya akan mendengar alasan soal procrastinator dan kesibukan anda..

    …well, bahkan pemalas cukup rajin membikin alasan kan? 😛

    but i believe.. in (not) very distant future

    berdoalah dirimu berumur super-panjang kalau ingin menunggu saya merilis buku atau membuka domain pribadi =)) =)) =))

    • main mbaaak, nanti saya escort tapi saya charge tarif wisatawan asing :mrgreen:

      cuma berlaku 3 hari doang kerasa awet mudanya, hahaha. abis enak, seger museumnya dingin di gunung.
      jadi pingin ke sana lagi, pingin lagiii.

    • iya, seingatku sih ngga boleh, tas dan kamera dititipin ke depan..
      di Ullen Sentalu pake ada pemandu yang ngasih penjelasan sepanjang tur, jadi enaknya biar bisa ngerasain pengalaman secara utuh tanpa perlu konsentrasi keganggu jepret2, menurut pendapatku nih ya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: